ROMA – Dunia kini berada di ambang krisis kemanusiaan baru. Eskalasi konflik bersenjata yang terus meluas di kawasan Timur Tengah, khususnya ketegangan antara poros Iran-Israel yang melibatkan Amerika Serikat, mulai memukul stabilitas rantai pasok pangan global.
Program Pangan Dunia (World Food Programme/WFP) mengeluarkan peringatan merah, harga komoditas pokok dunia terancam melonjak drastis akibat gangguan logistik dan energi.
Ancaman Kelaparan
Dalam laporan terbaru WFP per Maret 2026, diproyeksikan sebanyak 45 juta orang akan terjerumus ke dalam tingkat kelaparan akut (kategori IPC3+) sepanjang tahun ini.
Angka ini mendorong populasi dunia yang mengalami kerawanan pangan ke level tertinggi dalam sejarah modern, melampaui dampak awal perang Rusia-Ukraina pada 2022 lalu.
”Timur Tengah mungkin bukan lumbung gandum seperti Ukraina, namun kawasan ini adalah jantung energi dan jalur logistik dunia. Jika jantung ini terganggu, seluruh sistem pangan global akan mengalami gagal jantung,” ujar Carl Skau, Wakil Direktur Eksekutif WFP dalam konferensi pers di Roma.
Disrupsi Jalur Logistik: Selat Hormuz & Laut Merah
Krisis Timur Tengah menciptakan tekanan ganda melalui dua titik nadi pelayaran paling vital menyebabkan beberapa hal.
Biaya transportasi melejit, harga minyak mentah dunia yang bertahan di atas USD 100 per barel secara otomatis mengerek biaya logistik pengiriman pangan lintas benua.
Krisis pupuk global diprediksi akan terjadi akibat konflik di Timur Tengah. Sekitar 25-30% komponen bahan baku pupuk dunia transit melalui Selat Hormuz. Blokade atau gangguan di wilayah ini menyebabkan harga pupuk melonjak hingga 40%, yang berisiko menurunkan hasil panen petani secara global pada musim tanam 2026.
Dampak Konflik Timur Tengah bagi Indonesia
Negara-negara di Asia dan Afrika, termasuk Indonesia, menjadi pihak yang paling rentan terhadap depresiasi mata uang dan pembengkakan biaya impor. Para analis ekonomi memperingatkan bahwa tekanan ini akan segera terasa di pasar-pasar domestik dalam waktu dekat.
”Kenaikan biaya input pertanian dan energi adalah badai sempurna bagi negara importir neto. Tanpa intervensi cadangan pangan yang kuat, inflasi pangan domestik bisa melampaui dua digit sebelum akhir tahun,” ungkap Dr. Maximo Torero, Kepala Ekonom Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO).
Merespons ancaman ini, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pertanian mengimbau penguatan cadangan pangan strategis nasional. Modernisasi pertanian dan ekspansi lahan di dalam negeri kini menjadi harga mati untuk memitigasi ketergantungan impor di tengah ketidakpastian geopolitik yang semakin pekat.[]












Discussion about this post