Strategis dan Mencerahkan!
No Result
View All Result
  • TINJAUAN.ID
  • News
  • Global
  • Politik
    • Nasional
    • Regional
    • Daerah
  • Ekonomi
  • Opini
  • Sejarah
  • Liputan Khusus
  • Editorial
  • Pojok Ekraf
  • TINJAUAN.ID
  • News
  • Global
  • Politik
    • Nasional
    • Regional
    • Daerah
  • Ekonomi
  • Opini
  • Sejarah
  • Liputan Khusus
  • Editorial
  • Pojok Ekraf
No Result
View All Result
Strategis dan Mencerahkan!
No Result
View All Result
Home Fokus Laporan dan Analisis

Ratusan Miliar Pokir DPRA 2026 untuk Dayah: Aceh Tenggara dan Bireuen Dominasi, Aceh Utara Tertinggal Jauh

TINJAUAN ID by TINJAUAN ID
May 2, 2026
Reading Time: 3 mins read
0
Ratusan Miliar Pokir DPRA 2026 untuk Dayah: Aceh Tenggara dan Bireuen Dominasi, Aceh Utara Tertinggal Jauh

TINJAUAN.ID | Anggaran kegiatan prasarana dayah pada Dinas Pendidikan Dayah Aceh tahun anggaran 2026 memperlihatkan ketimpangan mencolok antarwilayah. Pagu yang bersumber dari usulan reses dan pokok-pokok pikiran (pokir) anggota DPRA 2026 tersebut didominasi oleh dua daerah, yakni Aceh Tenggara dan Bireuen. Sementara Aceh Utara berada jauh di bawah.

Berdasarkan dokumen pagu yang dipublikasi oleh atjehwatch.com, Aceh Tenggara memperoleh sekitar Rp 37,65 miliar dan Bireuen Rp 35,65 miliar. Sementara Aceh Utara hanya mendapatkan sekitar Rp 10,45 miliar.

Selisih tersebut menunjukkan Aceh Tenggara menerima hampir 3,6 kali lipat dibanding Aceh Utara, sedangkan Bireuen lebih dari 3,4 kali lipat.

Yang patut dipertanyakan, Bireuen merupakan daerah pemilihan Ketua DPRA Zulfadhli — yang dikenal dengan sebutan Abang Samalanga — sementara Aceh Tenggara adalah basis Nurdiansyah Alasta, Ketua Komisi IV DPRA yang oleh sejumlah sumber, termasuk pemberitaan modusaceh.co, dan infoaceh.net disebut sebagai “Pandawa 5”, yang memiliki kedekatan dengan Ketua DPRA. Dengan kata lain, dua wilayah yang menerima alokasi terbesar memiliki keterkaitan langsung dengan lingkaran kekuasaan pimpinan legislatif Aceh saat ini.

Dalam konteks tata kelola anggaran, kedekatan antara penerima manfaat terbesar dengan pemegang kendali proses distribusi adalah sinyal yang seharusnya mendorong pengawasan lebih ketat, bukan dibiarkan berlalu tanpa penjelasan publik.

Mengapa Alokasi Aceh Utara Lebih Sedikit?

Ketimpangan ini terasa paradoks dengan kondisi Aceh Utara. Kabupaten ini bukan hanya wilayah terdampak terparah banjir bandang pada akhir 2025, tetapi juga merupakan kabupaten dengan jumlah penduduk terbesar di Aceh dan memiliki jumlah dayah yang signifikan.

Lebih dari itu, Aceh Utara adalah basis politik utama Gubernur terpilih Muzakir Manaf, figur yang menjadi salah satu faktor kunci kemenangan Partai Aceh dalam kontestasi terakhir.

Sejumlah fasilitas pendidikan, termasuk dayah, dilaporkan mengalami kerusakan akibat banjir dan membutuhkan pemulihan segera. Namun dalam kegiatan prasarana dayah yang sama, alokasi untuk Aceh Utara justru lebih kecil dibanding dua wilayah yang basis politiknya jauh berbeda dari Partai Aceh.

Di titik inilah muncul kesan paradoks yang sulit diabaikan. Aceh Utara yang menjadi kantong dukungan besar dan memiliki kebutuhan riil yang paling mendesak, justru terlihat seperti wilayah pinggiran dalam distribusi anggaran prasarana dayah.

Daerah yang secara politik berkontribusi besar seolah tidak memperoleh balasan dalam bentuk perhatian pembangunan. Alih-alih menjadi prioritas, Aceh Utara justru tampak berdiri di luar lingkaran distribusi utama, seperti penonton yang hanya menyaksikan aliran anggaran mengarah ke wilayah lain.

Kesan terpinggirkan itu semakin kuat ketika kebutuhan riil daerah ini jauh lebih mendesak. Pascabanjir, sejumlah dayah membutuhkan rehabilitasi, ruang belajar harus diperbaiki, dan fasilitas pendukung harus dipulihkan. Namun dalam pembagian anggaran, kebutuhan tersebut tidak tercermin secara proporsional.

Alokasi Anggaran Dayah Capai Rp251,66 Miliar

Perlu diketahui, berdasarkan sumber yang sama, total pagu kegiatan prasarana dayah sebesar sekitar Rp251,66 miliar, di mana porsi terbesar berasal dari usulan reses. Nilai usulan reses mencapai sekitar Rp162,29 miliar atau sekitar 64,5 persen dari total pagu. Sementara usulan pokir dewan reguler sekitar Rp 89,37 miliar atau sekitar 35,5 persen.

Dominasi reses tersebut memperkuat sorotan terhadap mekanisme distribusi. Dengan porsi hampir dua pertiga anggaran berasal dari reses, arah alokasi menjadi sangat dipengaruhi oleh usulan legislatif.

Dalam praktiknya, proses pengoordinasian usulan reses di tingkat parlemen kerap berada dalam lingkup kendali Ketua DPRA, sehingga membuka ruang besar bagi pengaruh politik dalam menentukan prioritas distribusi anggaran.

Ketika konsentrasi terbesar justru mengalir ke wilayah yang berafiliasi dengan pimpinan legislatif, muncul sinyalemen kuat adanya kepentingan kelompok dalam penentuan distribusi anggaran, bukan kebutuhan objektif daerah yang menjadi acuan.

Hal ini menjadi salah satu pemicu menguatnya isu mosi tak percaya di kalangan anggota DPRA, yang juga sempat disuarakan oleh anggota DPRA, Martini.

Distribusi pagu yang dianggap tidak mencerminkan kebutuhan objektif, terutama bagi daerah terdampak bencana seperti Aceh Utara, menjadi salah satu faktor yang mendorong ketidakpuasan internal. Ketimpangan alokasi prasarana dayah yang bersumber dari usulan reses dan pokir dewan ini pada akhirnya memunculkan pertanyaan publik mengenai dasar penentuan prioritas pembangunan.

Ketika daerah terdampak bencana dengan populasi terbesar justru menerima porsi lebih kecil, sementara wilayah yang terhubung dengan lingkaran kekuasaan legislatif memperoleh alokasi dominan, transparansi mekanisme penentuan anggaran menjadi krusial. Tanpa penjelasan yang terbuka dan berbasis kebutuhan riil, distribusi anggaran berpotensi terus dipersepsikan sebagai hasil kompromi politik, bukan sebagai instrumen pemerataan pembangunan pendidikan dayah di Aceh.

Rincian Anggaran Prasarana Dayah per Kabupaten/Kota 2026

Sumber: Usulan Reses dan Pokir DPRA — atjehwatch.com, diurutkan dari terbesar.

  1. Aceh Tenggara | Rp 37.650.000.000
  2. Bireuen Rp 35.650.000.000
  3. Pidie Rp 15.050.000.000
  4. Aceh Besar Rp 10.150.000.000
  5. Aceh Utara Rp 10.450.000.000
  6. Langsa Rp 9.400.000.000
  7. Bener Meriah Rp 8.700.000.000
  8. Aceh Timur Rp 6.850.000.000
  9. Pidie Jaya Rp 6.700.000.000
  10. Aceh Tamiang Rp 6.700.000.000
  11. Gayo Lues Rp 9.300.000.000
  12. Aceh Tengah Rp 2.900.000.000
  13. Aceh Selatan Rp 2.700.000.000
  14. Lhokseumawe Rp 2.700.000.000
  15. Aceh Singkil Rp 2.500.000.000
  16. Nagan Raya Rp 2.150.000.000
  17. Aceh Barat Rp 1.500.000.000
  18. Aceh Barat Daya Rp 1.500.000.000
  19. Aceh Jaya Rp 1.000.000.000
  20. Banda Aceh Rp 500.000.000
  21. Subulussalam Rp 500.000.000
  22. Simeulue Rp 300.000.000

Total Rp 251.660.000.000 

Tags: AcehDana Pokir DPRADayah
ShareTweetSendShare

Related Posts

Petrodollar: Antara Dominasi Dolar, Pola Konflik Global, dan Hegemoni Amerika Serikat
Ekonomi

Petrodollar: Antara Dominasi Dolar, Pola Konflik Global, dan Hegemoni Amerika Serikat

April 26, 2026
Pemko Banda Aceh Habiskan Hampir Rp4 Miliar untuk Rangkaian Pesta HUT Kota Banda Aceh
Daerah

Pemko Banda Aceh Habiskan Hampir Rp4 Miliar untuk Rangkaian Pesta HUT Kota Banda Aceh

April 24, 2026
Dulu Terima Bantuan IMF, Kini Menolaknya: Pelajaran Krisis Moneter 1998 yang Mengubah Ekonomi Indonesia
Ekonomi

Dulu Terima Bantuan IMF, Kini Menolaknya: Pelajaran Krisis Moneter 1998 yang Mengubah Ekonomi Indonesia

April 22, 2026
Dukungan Terhadap Iran Berawal dari Dukungan Terhadap Palestina dan Kekalahan Israel dalam Perang Narasi
Dunia

Dukungan Terhadap Iran Berawal dari Dukungan Terhadap Palestina dan Kekalahan Israel dalam Perang Narasi

April 4, 2026
Transisi Kekuasaan di Indonesia: Proyeksi Pewaris Trah Politik Menuju Pilpres 2029 dan 2034
Laporan dan Analisis

Transisi Kekuasaan di Indonesia: Proyeksi Pewaris Trah Politik Menuju Pilpres 2029 dan 2034

March 24, 2026
Kapabilitas Militer Iran Pasca Serangan 2025–2026: Tinjauan Strategis
Dunia

Kapabilitas Militer Iran Pasca Serangan 2025–2026: Tinjauan Strategis

March 6, 2026
Next Post
Dukung Pelestarian Budaya, Bupati Aceh Besar Buka Launching Galeri Kebudayaan Aceh

Dukung Pelestarian Budaya, Bupati Aceh Besar Buka Launching Galeri Kebudayaan Aceh

Persoalan JKA yang Harus Dipahami

Persoalan JKA yang Harus Dipahami

Discussion about this post

Recommended Stories

Lantik Kepala SKPA dan Deputi BPKS, Gubernur Mualem Ingatkan Percepatan Serapan Anggaran

Lantik Kepala SKPA dan Deputi BPKS, Gubernur Mualem Ingatkan Percepatan Serapan Anggaran

October 10, 2025

Karim Benzema akan meninggalkan Real Madrid setelah 14 tahun bergabung

June 4, 2023
BPR Syariah Mustaqim Catat Peningkatan Pembiayaan Hingga 100 Persen Selama Lima Tahun Terakhir

BPR Syariah Mustaqim Catat Peningkatan Pembiayaan Hingga 100 Persen Selama Lima Tahun Terakhir

September 19, 2025

Popular Stories

  • Tingkat Pengangguran Usia Muda Tinggi, Indonesia Berjuang Ciptakan Lapangan Kerja

    Prabowo Segera Bentuk Tim Reformasi Polri, Bentuk Juga Komisi Investigasi Insiden Agustus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gaji PPPK Aceh Macet Hampir 4 Bulan, Ribuan ASN Hidup dengan Utang Karena APBA-P Tak Kunjung Jelas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kritik Kosong tentang Ulama Dayah Adalah Opini yang Tak Perlu Ditulis

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tak Kunjung Dapat Kerja di Aceh, Hendra Nekat Merantau ke Australia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Buntut Polemik di DPRA, Mualem Dikabarkan Kantongi Dua Nama Kandidat Pengganti Ketua DPRA

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dataset
  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • TINJAUAN.ID
  • Pedoman Media Siber
Email: redaksi@tinjauan.id

© 2025 Tinjauan.ID - Strategis dan Mencerahkan!

No Result
View All Result
  • TINJAUAN.ID
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Dunia
  • Ekonomi
  • Politik
  • Opini
  • Sejarah
  • Editorial
  • Pojok Ekraf

© 2025 Tinjauan.ID - Strategis dan Mencerahkan!