Strategis dan Mencerahkan!
No Result
View All Result
  • TINJAUAN.ID
  • News
  • Global
  • Politik
    • Nasional
    • Regional
    • Daerah
  • Ekonomi
  • Opini
  • Sejarah
  • Liputan Khusus
  • Editorial
  • Pojok Ekraf
  • TINJAUAN.ID
  • News
  • Global
  • Politik
    • Nasional
    • Regional
    • Daerah
  • Ekonomi
  • Opini
  • Sejarah
  • Liputan Khusus
  • Editorial
  • Pojok Ekraf
No Result
View All Result
Strategis dan Mencerahkan!
No Result
View All Result
Home Kolom Opini

Aceh dalam Geopolitik Global

TINJAUAN ID by TINJAUAN ID
September 3, 2025
Reading Time: 4 mins read
0
Aceh dalam Geopolitik Global

Aceh, dengan berbagai kewenangan sebagai daerah otonomi khusus, kiranya dapat memacu ketertinggalan dari berbagai aspek pembangunan.

Oleh Mirza Fanzikri*

Tepat 15 Agustus lalu, masyarakat Aceh memperingati hari Damai Aceh. Pelbagai tokoh nasional dan dunia berkumpul di Banda Aceh. Mereka hadir di berbagai even, konferensi, seminar, dan podcast, untuk merayakan dan merefleksikan 20 tahun berakhirnya konflik bersenjata antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Pemerintah Republik Indonesia (RI).

Meskipun rangkaian kegiatan tersebut telah usai, namun beberapa penggalan bait diskusi masih terus bergulir dan kerap menjadi topik yang dibahas di kalangan masyarakat luas, terutama di media sosial.

Salah satu isu yang menarik adalah pernyataan seorang juru runding RI-GAM, Juha Christensen. Ia mengatakan bahwa Aceh tidak akan pernah merdeka karena letak geostrategis nya di Selat Malaka, yang dikenal sebagai jalur maritim penting perdagangan internasional.

Memang, argumen tersebut terkesan skeptis bagi Masyarakat Aceh. Di satu sisi, alasan itu cenderung menafikan sejarah entitas Aceh yang pernah menjadi sebagai sebuah bangsa berdaulat. Pun, mengabaikan kegigihan semangat perjuangan Aceh di era kolonial Belanda dan pasca kemerdekaan Indonesia. Karena itu, wajar jika sebagian masyarakat Aceh memandang pendapat tersebut sebagai narasi pesimistik.

Namun, dalam paradigma hubungan internasional, pernyataan mediator perdamaian asal Finlandia tersebut memiliki alasan yang dapat diuraikan secara akademis.

Aceh dan Dunia Internasional

Di era pra-kemerdekaan Indonesia, Aceh memiliki peran yang luas di panggung global. Sekitar abad ke-17’an, Aceh berada di puncak keemasannya. Di bawah kepemimpinan Sultan Iskandar Muda, Aceh bahkan mampu memperluas wilayah kekuasaannya di sebagian besar Sumatera hingga ke semenanjung Malaya.

Aceh juga terkenal dengan diplomasi global dengan beragam bangsa dan negara, termasuk Turki, Arab, China, India, Eropa, hingga Amerika Serikat (AS). Singkatnya, pra-kemerdekaan, dunia mengenal Aceh sebagai hub perdagangan global, kemajuan maritim, dan pusat keilmuan Islam di Asia Tenggara.

Namun, pasca kemerdekaan Indonesia, posisi Aceh mengalami subordinasi. Dinamika politik dan konflik panjang dengan pemerintah pusat menempatkan Aceh di sudut yang terisolasi.

Sebagai provinsi, Aceh telah melewatkan perannya sebagai ‘pemain’ di pelbagai peristiwa transformasi ekonomi politik di kancah internasional. Aceh kehilangan peran di panggung global, termasuk di Badan Persatuan Bangsa Bangsa (PBB) and peristiwa perang dingin.

Singkat kata, memori masyarakat Internasional terhadap Aceh pasca kemerdekaan terkonsentrasi dalam dua isu besar: konflik pusat-daerah (1953 – 2005) dan Tsunami (2004-2008). Dua peristiwa akbar tersebut menempatkan entitas Aceh dalam pusat perhatian dunia, di saat lembaga-lembaga internasional sedang gencarnya melaksanakan agenda kampanye hak asasi manusia (HAM) dan bantuan kemanusiaan.

Di waktu yang bersamaan, sejak kemerdekaan, Indonesia sangat dekat dengan AS; yang merupakan representatif dominasi global. Secara politik, Indonesia memainkan peran penting dalam percaturan politik dunia yang cenderung dianggap sebagai pendukung setia AS dan sekutunya (Barat) dalam menjalankan agenda global di kawasan Asia Tenggara.

Perspektif Politik Global

Dalam perspektif konstruktivisme, realitas sejarah eksistensial Aceh sebagai entitas lokal menjadi modal penting (necessary) dalam meyakinkan dunia internasional. Isu tentang identitas, hak, dan pelanggaran HAM menjadi kosa kata kunci untuk menarik perhatian lembaga internasional. Namun, alasan-alasan ini tentu tidak cukup (insufficient) untuk memperoleh dukungan para elit global. Tentunya, ada pelbagai kalkulasi kepentingan yang patut dipertimbangkan. Termasuk geopolitik, ekonomi dan keamanan global.

Benar, secara geopolitik, bahwa posisi Aceh di Selat Malaka dapat menjadi alasan utama ‘Aceh tidak akan merdeka,’ sebagaimana disampaikan Juha dalam sebuah Podcast yang dirilis Sagoe TV. Menerjemahkan argument tersebut, setidaknya punya dua dasar yang menempatkan Aceh ‘tidak menguntungkan’ elit global secara politik dan ekonomi: identitas Islam dan formasi pemerintahan.

Tentu saja, persepsi global tersebut berkaitan erat dengan rentetan peristiwa politik internasional. Misalnya, berakhirnya perang dingin dan terjadinya Revolusi Republik Islam di Iran pada 1979, kekhawatiran Barat terhadap hegemoni Islam mulai menguat.

Apalagi, menjelang perjanjian damai antara RI dan GAM, tren Islamophobia global tersebut sedang sangat masif dan meningkat. Terutama pasca terjadinya peristiwa 9/11 dan dideklarasikannya perlawanan terhadap terorisme global (Global War on Terror) pada tahun 2001.

Dengan demikian, Aceh, sebagai daerah yang identik dengan Islam yang mengakar secara sejarah dan di masyarakat, dapat dipandang sebagai ‘ancaman’ secara ideologi dan politik yang berpotensi mengganggu kepentingan Barat di Kawasan Asia Tenggara.

Dalam kacamata realisme, tentu saja Barat tidak mungkin menyetujui kemunculan entitas baru yang berpotensi mengancam stabilitas keamanan regional dan kepentingan elit global. Barat belajar banyak dari kontestasi di terusan Suez; jalur maritim paling strategis di Timur Tengah.

Belum lagi, Aceh punya legasi sejarah kepemipinan yang berbentuk kerajaan dan berpotensi mewarisi sistem monarki. Tentu saja, hal ini tidak sejalan dengan agenda liberalisme dan demokratisasi global saat itu.

Geostrategis Selat Malaka

Oleh karena itu, keberadaan Aceh di pintu gerbang Selat Malaka adalah suatu faktor yang krusial. Ia dapat menjadi faktor strategis sekaligus ancaman.

Secara ekonomi politik, jalur maritim yang menghubungkan Samudra Hindia, Pasifik, dan Laut Cina Selatan tersebut merupakan poin vital sebagai rute perdagangan lintas negara, sekaligus hub ekonomi Asia Tenggara. Maka, bagi global, memastikan keamanan rute tersibuk kedua di dunia tersebut adalah jauh lebih penting demi kelangsungan kepentingan elit global.

Karena itu, tidak heran, jika ‘dilema Selat Malaka’ menempatkan Aceh berada dalam persimpangan geopolitik global.

Memacu Pembangunan

Terlepas dari itu, kini, perdamaian Aceh adalah realitas dan rahmat Allah. Aceh, dengan berbagai kewenangan sebagai daerah otonomi khusus, kiranya dapat memacu ketertinggalan dari berbagai aspek pembangunan.

Memang, Selat Malaka sangat strategis. Baik secara keamanan, politik, maupun ekonomi. Tidak hanya bagi global, terutama bagi kepentingan nasional. Namun, tanpa kolaborasi pemerintah pusat dan berbagai stakeholder di daerah, potensi geostrategis ini sulit mencapai kejayaannya.

Karena itu, geostrategis Aceh di pintu masuk rute perdagangan global perlu diperhatikan dan dioptimalkan dengan serius. Diantaranya, peran Badan Kawasan Pengusahaan Sabang (BPKS) perlu didukung dan didorong lebih kuat, agar kinerjanya dapat memberikan dampak bagi kebangkitan industri dan kemajuan konomi lokal. Kiranya perdamaian Aceh dapat membawa keberkahan bagi masyarakat Aceh untuk meningkatkan kesejahteraan dan martabatnya di mata dunia. []

*Mahasiswa S3 Ilmu Politik di Universitas Islam Internasional Indonesia, Dosen FISIP UIN Ar-Raniry Banda Aceh.

ShareTweetSendShare

Related Posts

Polemik JKA, Praktisi Hukum Nilai Publik Sedang Digiring pada Pemahaman Keliru
Daerah

Polemik JKA, Praktisi Hukum Nilai Publik Sedang Digiring pada Pemahaman Keliru

May 13, 2026
Rabithah Alumni MUDI Aceh Utara Resmi Dikukuhkan, Perkuat Khidmah Alumni untuk Guru dan Dayah
Daerah

Rabithah Alumni MUDI Aceh Utara Resmi Dikukuhkan, Perkuat Khidmah Alumni untuk Guru dan Dayah

May 11, 2026
PB HUDA Dukung Penuh Penegakan Hukum Maksimal Terhadap Terduga Pelaku Penistaan Agama
Daerah

PB HUDA Dukung Penuh Penegakan Hukum Maksimal Terhadap Terduga Pelaku Penistaan Agama

May 10, 2026
Ketua DPRA Usul Pergub JKA Dicabut, Jubir Pemerintah Aceh: Kita Hormati, Hal Itu Wajar Saja
Daerah

Pemerintah Aceh Bantah Kabar Pasien Rumah Sakit Diabaikan Akibat Pergub JKA

May 10, 2026
RSUDZA Layani 2.000 Pasien per Hari, Obat Diberikan, Administrasi Diurus 
Daerah

RSUDZA Layani 2.000 Pasien per Hari, Obat Diberikan, Administrasi Diurus 

May 10, 2026
Tingkatkan Kapasitas Wirusahawan Digital, Diskop UKM Aceh Gelar Pelatihan Go Digital
Daerah

Tingkatkan Kapasitas Wirusahawan Digital, Diskop UKM Aceh Gelar Pelatihan Go Digital

May 10, 2026
Next Post
Prabowo Perkuat Hubungan Diplomatik Dalam Kunjungan ke China

Presiden Prabowo Perkuat Hubungan Diplomatik Lewat Kunjungan ke China, Pasca Aksi Massa di Indonesia

Menko Yusril : Pemerintah Pasti Akan Merespons Positif 17+8 Tuntutan Rakyat

Menko Yusril : Pemerintah Pasti Akan Merespons Positif 17+8 Tuntutan Rakyat

Discussion about this post

Recommended Stories

Daud Beureueh: dari Rekognisi ke Rekonsiliasi

Daud Beureueh: dari Rekognisi ke Rekonsiliasi

September 13, 2025
Rabiul Awwal Sebagai Booster Iman Umat

Rabiul Awwal Sebagai Booster Iman Umat

September 11, 2025
Sekda Aceh Buka Rapat Kerja DWP 2025

Sekda Aceh Buka Rapat Kerja DWP 2025

September 12, 2025

Popular Stories

  • Pemerintah Aceh Siapkan Rp10 Miliar Bantuan Pendidikan bagi Mahasiswa Korban Bencana Hidrometeorologi, Baca Persyaratannya

    Pemerintah Aceh Siapkan Rp10 Miliar Bantuan Pendidikan bagi Mahasiswa Korban Bencana Hidrometeorologi, Baca Persyaratannya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prabowo Segera Bentuk Tim Reformasi Polri, Bentuk Juga Komisi Investigasi Insiden Agustus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gaji PPPK Aceh Macet Hampir 4 Bulan, Ribuan ASN Hidup dengan Utang Karena APBA-P Tak Kunjung Jelas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kritik Kosong tentang Ulama Dayah Adalah Opini yang Tak Perlu Ditulis

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tak Kunjung Dapat Kerja di Aceh, Hendra Nekat Merantau ke Australia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dataset
  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • TINJAUAN.ID
  • Pedoman Media Siber
Email: redaksi@tinjauan.id

© 2025 Tinjauan.ID - Strategis dan Mencerahkan!

No Result
View All Result
  • TINJAUAN.ID
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Dunia
  • Ekonomi
  • Politik
  • Opini
  • Sejarah
  • Editorial
  • Pojok Ekraf

© 2025 Tinjauan.ID - Strategis dan Mencerahkan!