BANDA ACEH — Sekitar seribuan eks kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan tokoh Komite Peralihan Aceh (KPA) Wilayah Pasee menggelar silaturahmi perjuangan dan doa bersama di kompleks makam Wali Neugara Aceh, Tgk. Hasan Muhammad di Tiro, Kecamatan Indrapuri, Kabupaten Aceh Besar, Kamis (26/3/2026).
Kegiatan ini menjadi momentum konsolidasi internal jajaran KPA, sekaligus bentuk penghormatan kepada sang Wali yang jasadnya bersemayam di kompleks pemakaman bersejarah di Gampong Meureu, Kecamatan Indrapuri, tempat bersemayam jasad deklarator GAM, Tgk. Hasan Muhammad di Tiro.
Tak hanya Anggota KPA Pasee, tokoh penting KPA dan Partai Aceh dari daerah lain juga turut hadir, diantaranya Ketua KPA Aceh Besar Adun Mukhlis dan anggota DPR Aceh dari Partai Aceh asal Aceh Selatan Abu Heri. Turut juga hadir bersama para anggota KPA, Ketua Komisi 1 DPR Aceh Teungku Muharuddin.
Dalam sambutannya, Ketua Partai Aceh Pang Joni menyampaikan bahwa jajaran eks KPA harus bersatu dan tidak tercerai-berai. Ia juga mengingatkan tentang kekompakan jajaran KPA Pasee yang mampu menangkan Mualem sebagai gubernur dengan perolehan suara 83 persen di Aceh Utara.
“Di media-media disampaikan bahwa, kunci kemenangan Gubernur Aceh Mualem adalah Pase… sebesar 83 persen. Ini adalah bukti bahwa kami wilayah Pasee sangat kompak,” tutur Pang Joni.
Mengapa Abang Samalanga Absen?
Di tengah gegap gempita seribu anggota KPA yang berkumpul di kompleks makam bersejarah itu, satu nama justru menjadi perbincangan publik karena ketidakhadirannya, Zulfadhli alias Abang Samalanga selaku Ketua DPR Aceh dari Partai Aceh.
Belakangan ini, nama Abang Samalanga tengah didera gelombang tekanan politik dari dalam tubuh KPA dan Partai Aceh sendiri.
Juru Bicara KPA Pusat, Zakaria N Yacob atau Bang Jack Libya, dalam komentarnya di media beberapa waktu lalu, pernah menyatakan sepakat terhadap wacana pergantian Zulfadhli dari kursi Ketua DPR Aceh. Ia menilai Zulfadli sudah menjadi sumber kegaduhan di jajaran pemerintah maupun di parlemen Aceh.
Ketidakhadiran Abang Samalanga dalam momen doa bersama yang melibatkan ribuan anggota KPA dan PA ini tentu menambah tanda tanya. Apakah ini cerminan dari kerenggangan relasi antara dirinya dengan basis perjuangan? Ataukah sekadar soal teknis agenda yang berbenturan?
Pengamat sekaligus akademisi UIN Ar-Raniry Zikrayanti mengungkapkan bahwa ada indikasi hubungan Ketua DPRA dan KPA kurang harmonis, meski tak disebutkan ke publik. Hal itu bisa dirasakan dari komentar yang pernah dilontarkan Jubir KPA Jack Libya sebelumnya.
Zikrayanti menilai, momen ini mengindikasikan bahwa secara semiotika, melalui bahasa politik, di tubuh KPA sendiri menginginkan penggantian Ketua DPRA, sebagaimana isu yang berkembang.
“Indikasi keretakan hubungan di internal Partai Aceh dan KPA mulai terasa. Terbukti bahwa anggota dari fraksi PA ikut tanda tangan (mosi tidak percaya-red) untuk pergantian ketua DPRA,” terang Zikrayanti, Sabtu, 28 Maret 2026.
Sebelumnya diberitakan oleh sejumlah media bahwa 11 anggota DPR Aceh dari Partai Aceh menandatangani mosi tidak percaya untuk pergantian Ketua DPRA.
Zikrayanti beranggapan bahwa kekecewaan itu bisa saja lahir dari aspirasi politik KPA dan sebagian kader PA, yang tidak dijalankan dengan baik oleh Zulfadhli.
“Bisa jadi faktor aspirasi politik mantan kombatan, dalam hal ini KPA, yang tidak dijalankan dengan baik oleh Ketua DPRA,” pungkasnya.[]











Discussion about this post