Apakah perilaku provokatif Donald Trump adalah tanda gangguan klinis? sejumlah psikiater telah menulis buku mengenai kondisi kejiwaan Trump yang dinilai membahayakan.
WASHINGTON D.C. – Di panggung politik global, Donald Trump bukan sekadar mantan presiden atau kandidat petahana, ia adalah fenomena psikologis. Sejak menuruni eskalator emas di Trump Tower pada 2015, kepribadiannya telah memicu perang dingin di kalangan ahli kesehatan mental Amerika Serikat.
Apakah perilaku provokatif Donald Trump adalah tanda gangguan klinis, sejumlah psikiater telah menulis buku mengenai kondisi kejiwaan Trump yang dinilai membahayakan.
Analisis Sejumlah Psikiater tentang Donald Trump
Dr. Bandy X. Lee, seorang psikiater forensik, pernah merilis buku fenomenal berjudul The Dangerous Case of Donald Trump. Tidak tanggung-tanggung, 37 pakar kesehatan mental bergabung memberikan peringatan keras. Mereka berargumen bahwa Trump menunjukkan tanda-tanda bahaya nyata bagi stabilitas nasional.
“Kami memiliki kewajiban untuk memperingatkan publik (Duty to Warn),” tegas kelompok tersebut. Mereka merujuk pada pola perilaku Trump yang dianggap memenuhi kriteria Malignant Narcissism (narsisisme ganas)—sebuah kombinasi beracun dari narsisisme, antisosial, paranoid, dan sadisme.
Kesaksian Keluarga
Analisis paling tajam justru datang dari orang dalam, Dr. Mary Trump. Sebagai seorang psikolog klinis sekaligus keponakan kandung Donald, Mary memberikan perspektif yang tidak dimiliki ahli lain dalam bukunya, Too Much and Never Enough.
Mary menggambarkan lingkungan keluarga Trump sebagai pabrik narsisisme. Ia mengklaim pamannya memenuhi kesembilan kriteria gangguan kepribadian narsistik (NPD).
Menurutnya, pola asuh sang kakek, Fred Trump, yang keras dan tanpa empati, telah menciptakan sosok Donald yang tidak mengenal kerentanan.
“Patologi Donald begitu kompleks… ia memerlukan serangkaian tes psikologis komprehensif yang tidak akan pernah ia ikuti,” tulis Mary dalam bukunya.
Kode Etik Psikiater AS
Namun, gerakan para psikiater ini tidak berjalan mulus. Mereka terbentur pada Goldwater Rule, sebuah kode etik yang melarang psikiater mendiagnosis tokoh publik tanpa pemeriksaan langsung.
Asosiasi Psikiatri Amerika (APA) menegaskan bahwa spekulasi publik dapat merusak kredibilitas profesi medis. Namun, Dr. Bandy Lee membalas dengan merujuk pada Deklarasi Jenewa. Ia berpendapat bahwa diam di hadapan pemimpin yang destruktif justru merupakan pelanggaran etika yang lebih besar, mengingatkan pada kegagalan medis di masa Nazi Jerman.
Pola Perilaku Donald Trump
Terlepas dari apakah label medis layak disematkan, para ahli mencatat tiga pola konsisten yang ditampilkan Trump di depan kamera.
Trump dianggap mengidap grandiositas, kebutuhan ekstrem akan pujian dan rasa haus akan pengakuan.
Ia juga dianggap mengidap impulsivitas, mengejar kepuasan instan seperti pujian di media sosial atau kemenangan debat, tanpa memedulikan risiko jangka panjang
Trump juga menunjukkan gejala psikosis bersama (Shared Psychosis), bagaimana retorika Trump mampu menciptakan delusi kolektif di antara para pengikut fanatiknya.
Hingga saat ini, secara medis formal, Donald Trump dinyatakan sehat oleh tim dokter kepresidenan. Trump sendiri menanggapi semua kritik ini dengan gaya khasnya, mengeklaim dirinya sebagai seorang “very stable genius” (jenius yang sangat stabil).[]












Discussion about this post