Strategis dan Mencerahkan!
No Result
View All Result
  • TINJAUAN.ID
  • News
  • Global
  • Politik
    • Nasional
    • Regional
    • Daerah
  • Ekonomi
  • Opini
  • Sejarah
  • Liputan Khusus
  • Editorial
  • Pojok Ekraf
  • TINJAUAN.ID
  • News
  • Global
  • Politik
    • Nasional
    • Regional
    • Daerah
  • Ekonomi
  • Opini
  • Sejarah
  • Liputan Khusus
  • Editorial
  • Pojok Ekraf
No Result
View All Result
Strategis dan Mencerahkan!
No Result
View All Result
Home News Daerah

Koalisi Masyarakat Sipil Peduli Bencana Nilai Pemerintah Bohongi Publik, Sebut Korban Bencana Aceh Tak Lagi Tinggal di Tenda

TINJAUAN ID by TINJAUAN ID
March 24, 2026
Reading Time: 2 mins read
0
Masih di Tenda Saat Lebaran, Warga Aceh Tamiang Keluhkan Penyaluran DTH

Lebaran hari ketiga, warga korban banjir di Desa Sukajadi, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang, masih bertahan di tenda pengungsian dengan keterbatasan fasilitas. (Dok. Warga).

BANDA ACEH – Klaim Presiden Prabowo pemulihan bencana di Aceh hampir 100 persen dan warga tidak lagi di tenda disebut sebagai upaya sistemis pemerintah membohongi publik. Hal itu mempertegas ketidakmampuan pemerintah dalam percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pasca banjir dan longsor di Aceh.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Koalisi Masyarakat Sipil Peduli Bencana, Selasa, 23 Maret 2026, di Banda Aceh melalui pers rilisnya.

Upaya sistemis pembohongan publik oleh pemerintahan Prabowo sudah dilakukan sejak dua pekan pertama banjir dan longsor terjadi di Aceh, Sumut, dan Sumbar. Mulai dari klaim Indonesia mampu tangani bencana Sumatra, hingga terbaru Prabowo klaim pemulihan di Aceh hampir 100 persen dan warga tidak lagi di tenda pengungsian,” ujar Alfian, narahubung Koalisi Masyarakat Sipil Peduli Bencana.

Koalisi masyarakat sipil yang terdiri dari sejumlah LSM di Aceh ini menilai, klaim Prabowo tersebut bukan persoalan teknis akibat tidakmendapatkan informasi yang utuh. Klaim itu adalah upaya membohongi publik untuk menutupi klaim-klaim “kesuksesan” rezim dalam penanganan bencana ekologis Sumatra yang kadung tersebar luas.

Pola itu dianggap akan terus terjadi ke depan meskipun realitasnya selalu jauh dari kondisi yang dirasakan masyarakat di lapangan.

“Bahkan pada kunjungan Prabowo untuk Shalat Idul Fitri di Aceh Tamiang, masyarakat dipaksa untuk keluar dari tenda pengungsi dan pembongkaran tenda pengungsian hanya agar kondisi di Aceh Tamiang kelihatan pulih,” terangnya.

Upaya terstruktur ini dianggap memperjelas ketidakmampuan pemerintah dalam melakukan percepatan pemulihan pasca bencana ekologis Sumatra di Aceh.

“Alih-alih mempercepat pembangunan hunian sementara untuk menyambut lebaran sebagai mana janji pemerintah, pengurus negara malah memaksa masyarakat korban keluar dari tenda pengungsian di saat hunian sementara belum merata di dapatkan oleh masyarakat korban. Tindakan seperti itu sangat merugikan masyarakat korban,” lanjut Alfian.

Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Belum Berdampak

Dalam pernyataan pers yang sama, koalisi masyarakat sipil ini juga menilai Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi belum berdampak besar, mengingat Satgas tersebut tidak bisa melakukan eksekusi karena kewenangannya ada di tiap kementerian.

Satuan Tugas Pemantauan DPR RI juga tidak berjalan dalam melakukan pemantauan proses percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi. Satuan Tugas Pemantauan ini memiliki kewajiban untuk mempertanyakan klaim soal pemulihan bencana di Aceh hampir 100 persen, karena klaim tersebut sangat jauh dari kondisi di lapangan,” ungkap Alfian.

Koalisi masyarakat sipil merasa perlu mempertegas bahwa masih banyak masyarakat Aceh yang belum dapat kembali ke rumahnya, belum mendapatkan hunian sementara, dan masih banyak masyarakat yang tinggal seadanya di tenda-tenda pengungsian.

Fasilitas umum juga masih belum pulih total, sekolah masih rusak dan tertimbun longsor sehingga memaksa anak sekolah untuk belajar di tenda pengungsian maupun di runtuhan sekolahnya.

Koalisi masyarakat sipil turut mendesak Presiden Prabowo agar menetapkan bencana ekologis Sumatra sebagai bencana nasional, mengingat dampak kerusakan rumah, lahan pencaharian masyarakat, dan fasilitas umum yang begitu besar dan luas terjadi di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.

“Penetapan bencana nasional masih sangat relevan untuk percepatan proses rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana ekologis Sumatra yang sedang dilakukan oleh Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi,” pungkasnya.[]

Tags: AcehBencana banjir SumateraPresiden Prabowo
ShareTweetSendShare

Related Posts

Akademisi UIN Ar-Raniry Tawarkan Alam Peudeung sebagai Solusi Polemik Bendera Aceh
Daerah

Akademisi UIN Ar-Raniry Tawarkan Alam Peudeung sebagai Solusi Polemik Bendera Aceh

June 26, 2026
Brigjen Pol Ruddi Setiawan Ditunjuk sebagai Kapolda Aceh, Berikut Profil dan Rekam Jejak
Daerah

Brigjen Pol Ruddi Setiawan Ditunjuk sebagai Kapolda Aceh, Berikut Profil dan Rekam Jejak

June 26, 2026
ISNU Aceh Bahas Disabilitas dan Pembangunan Bersama Aktivis Agus Hasan Hidayat
Daerah

ISNU Aceh Bahas Disabilitas dan Pembangunan Bersama Aktivis Agus Hasan Hidayat

June 26, 2026
Harga TBS Sawit di Bawah Standar, Bupati Aceh Barat Panggil Seluruh Perusahaan PKS
Daerah

Harga TBS Sawit di Bawah Standar, Bupati Aceh Barat Panggil Seluruh Perusahaan PKS

June 26, 2026
Gerakan Surah Indonesia Desak Transparansi Negosiasi dan PoD Blok South Andaman
Nasional

Gerakan Surah Indonesia Desak Transparansi Negosiasi dan PoD Blok South Andaman

June 25, 2026
Surati Presiden Prabowo, Mualem: Migas Andaman untuk Hilirisasi di KEK Arun Lhokseumawe
Daerah

Surati Presiden Prabowo, Mualem: Migas Andaman untuk Hilirisasi di KEK Arun Lhokseumawe

June 25, 2026
Next Post
Transisi Kekuasaan di Indonesia: Proyeksi Pewaris Trah Politik Menuju Pilpres 2029 dan 2034

Transisi Kekuasaan di Indonesia: Proyeksi Pewaris Trah Politik Menuju Pilpres 2029 dan 2034

Dinas Pendidikan Dayah Aceh Terima Audiensi Kadisdik Dayah Aceh Besar

Dinas Pendidikan Dayah Aceh Awali Aktivitas Pasca-Idulfitri dengan Apel Perdana

Discussion about this post

Recommended Stories

Bili Droe, Warisan Indatu yang Menjadi Sumber Ekonomi Kreatif Perempuan Lampanah

Bili Droe, Warisan Indatu yang Menjadi Sumber Ekonomi Kreatif Perempuan Lampanah

November 11, 2025
Bupati Syech Muharram Lepas Kafilah MTQ Aceh Besar ke Pidie Jaya

Bupati Syech Muharram Lepas Kafilah MTQ Aceh Besar ke Pidie Jaya

October 30, 2025
Indonesia Kekurangan Lapangan Kerja Berkualitas

Indonesia Kekurangan Lapangan Kerja Berkualitas

July 21, 2025

Popular Stories

  • Pemerintah Aceh Siapkan Rp10 Miliar Bantuan Pendidikan bagi Mahasiswa Korban Bencana Hidrometeorologi, Baca Persyaratannya

    Pemerintah Aceh Siapkan Rp10 Miliar Bantuan Pendidikan bagi Mahasiswa Korban Bencana Hidrometeorologi, Baca Persyaratannya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prabowo Segera Bentuk Tim Reformasi Polri, Bentuk Juga Komisi Investigasi Insiden Agustus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gaji PPPK Aceh Macet Hampir 4 Bulan, Ribuan ASN Hidup dengan Utang Karena APBA-P Tak Kunjung Jelas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kritik Kosong tentang Ulama Dayah Adalah Opini yang Tak Perlu Ditulis

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tak Kunjung Dapat Kerja di Aceh, Hendra Nekat Merantau ke Australia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dataset
  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • TINJAUAN.ID
  • Pedoman Media Siber
Email: redaksi@tinjauan.id

© 2025 Tinjauan.ID - Strategis dan Mencerahkan!

No Result
View All Result
  • TINJAUAN.ID
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Dunia
  • Ekonomi
  • Politik
  • Opini
  • Sejarah
  • Editorial
  • Pojok Ekraf

© 2025 Tinjauan.ID - Strategis dan Mencerahkan!