PIDIE — Desa Beureueh, Kabupaten Pidie, yang dikenal sebagai salah satu kawasan yang memiliki sejarah kuat dalam perjalanan Aceh dan merupakan daerah asal tokoh Aceh Daud Beureueh, juga menyimpan aktivitas ekonomi masyarakat yang telah berlangsung secara turun-temurun. Salah satunya adalah produksi emping melinjo yang dikerjakan oleh para perempuan sebagai bagian dari usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Namun, produksi emping melinjo di kawasan tersebut kini menghadapi persoalan bahan baku. Banjir yang melanda wilayah Aceh pada 2025 menyebabkan banyak pohon melinjo mati. Kondisi itu membuat ketersediaan melinjo lokal semakin terbatas sehingga para pengrajin terpaksa mendatangkan bahan baku emping dari luar Aceh.
“Produksi saja dari kami. Setelah banjir di Meureudu tahun kemarin, empingnya terpaksa kami beli dari luar Aceh. Tidak ada lagi emping lokal,” ujar salah seorang perempuan pengrajin emping melinjo.
Menurut pengrajin, saat ini hampir 90 persen emping yang digunakan dalam produksi berasal dari luar Aceh. Sebelum banjir, bahan baku lokal masih lebih mudah diperoleh dari masyarakat sekitar.
Dalam sehari, seorang pengrajin rata-rata mampu menghasilkan sekitar 1,3 hingga 2,6 kilogram emping. Dengan harga jual sekitar Rp90 ribu per kilogram, keuntungan bersih yang diperoleh hanya berkisar Rp15 ribu hingga Rp20 ribu per hari.
Jika dihitung dalam satu bulan, penghasilan dari produksi emping tersebut rata-rata hanya sekitar Rp450 ribu hingga Rp600 ribu. Nilai tersebut dinilai belum cukup untuk menjadi penopang utama perekonomian keluarga.
Meski demikian, usaha emping tetap berjalan karena memiliki pasar yang cukup luas. Permintaan biasanya meningkat menjelang dan saat perayaan Imlek. Para pengrajin umumnya memiliki tengkulak masing-masing. Sebagian lainnya menjual produksi melalui toko-toko di kawasan Beureunun.
Dari Beureunun, emping kemudian didistribusikan kembali ke berbagai daerah, termasuk ke luar Aceh. Dengan demikian, rantai perdagangan emping melibatkan pengrajin, pedagang pengumpul, toko, hingga konsumen di berbagai provinsi.
Aktivitas produksi emping juga menjadi bagian penting dari kegiatan ekonomi perempuan di desa. Produksi dilakukan dalam skala rumah tangga dan sebagian besar masih menggunakan fasilitas sederhana.
Tokoh desa, Teungku Zulkifli, mengatakan para pengrajin membutuhkan dukungan agar usaha yang telah berjalan tersebut dapat dikembangkan. Salah satu kebutuhan mendesak adalah tempat produksi yang lebih layak.
“Sekarang mereka masih banyak yang produksi di gubuk. Kalau ada bantuan shelter untuk tempat produksi, tentu akan lebih higienis dan bisa dikembangkan lagi,” ujarnya.
Selain tempat produksi, Zulkifli berharap adanya program penyediaan bibit melinjo untuk mengembalikan ketersediaan pohon melinjo di kawasan tersebut. Menurutnya, kelangkaan pohon melinjo semakin menjadi persoalan setelah banjir menyebabkan banyak tanaman mati.
Ia menilai bantuan tidak hanya diperlukan dalam bentuk peralatan produksi, tetapi juga harus menyentuh keberlanjutan bahan baku. Penanaman kembali melinjo dinilai penting agar industri emping tidak terus bergantung pada pasokan dari luar Aceh.
Para pengrajin sebelumnya juga pernah memperoleh dukungan dari Bank Rakyat Indonesia (BRI), baik melalui kemudahan akses kredit maupun bantuan peralatan produksi. Namun, setelah BRI tidak lagi beroperasi di Aceh, dukungan tersebut tidak berlanjut seperti sebelumnya.
Bagi para pengrajin, emping bukan sekadar makanan tradisional, tetapi juga sumber pendapatan bagi perempuan di desa. Dengan dukungan terhadap tempat produksi, peralatan, akses pembiayaan, serta pengembangan kembali tanaman melinjo, usaha tersebut diharapkan dapat bertahan dan berkembang.
Di tengah meningkatnya permintaan pada waktu-waktu tertentu, persoalan utama kini bukan hanya bagaimana meningkatkan produksi, tetapi juga bagaimana memastikan bahan baku tetap tersedia. Tanpa pemulihan tanaman melinjo, sentra emping di Beureueh Pidie berpotensi semakin bergantung pada pasokan dari luar Aceh.[]












Discussion about this post