TINJAUAN.ID | Pada tahun 2000, Saddam Hussein mengumumkan keputusan teknis yang berdampak luar biasa. Irak akan menjual minyaknya dalam Euro, bukan Dolar Amerika. Tiga tahun kemudian, pasukan koalisi pimpinan AS menyerang Baghdad dengan justifikasi senjata pemusnah massal yang tidak pernah ditemukan. Setelah rezim Saddam runtuh, hal pertama yang berubah adalah denominasi perdagangan minyak Irak kembali ke Dolar.
Satu dekade kemudian, Muammar Gaddafi mengusulkan mata uang Afrika bersama berbasis emas, yang ia sebut dinar emas, untuk membebaskan negara-negara Afrika dari ketergantungan pada Dolar dalam perdagangan energi.
Pada 2011, NATO melancarkan intervensi militer dengan dalih kemanusiaan. Gaddafi tewas. Proyek dinar emas terkubur bersama jasadnya. Minyak Libya kembali diperdagangkan dalam Dolar.
Apakah hal ini semata-mata kebetulan? Atau ada arsitektur kekuasaan yang lebih dalam yang sedang beroperasi?
1971, Awal Fondasi Baru Hegemoni Amerika Serikat
Untuk memahami ini semua, kita harus mundur ke 15 Agustus 1971, hari dimana Presiden Nixon mengumumkan berakhirnya emas sebagai penjamin nilai bagi Dolar.
Sejak Perjanjian Bretton Woods (1944), Dolar AS menjadi tulang punggung sistem moneter dunia karena dijamin oleh emas. Setiap 35 Dolar AS bisa ditukar dengan satu troy ounce emas. Sistem ini memberi Dolar legitimasi yang kuat.
Ketika Nixon mencabut jaminan itu, logikanya sederhana, AS sedang membiayai Perang Vietnam dan program sosial besar-besaran secara bersamaan, sementara cadangan emasnya terus terkuras karena negara-negara Eropa mulai menukar Dolar mereka dengan emas. Untuk mencegah kebangkrutan, Nixon memutus kaitan nilai antara Dolar dan emas.
Secara teori, Dolar seharusnya runtuh. Mata uang tanpa cadangan nyata, didukung hanya oleh kepercayaan. Siapa yang mau memegangnya? Tapi keruntuhan tidak terjadi. Sebab tiga tahun kemudian, Henry Kissinger merancang salah satu kesepakatan paling brillian dalam sejarah keuangan modern.
Petrodollar: Perjanjian yang Mengubah Dunia
Pada 1974, Kissinger menyelesaikan negosiasi rahasia dengan Arab Saudi yang menghasilkan apa yang kini dikenal sebagai sistem petrodollar. Isinya sederhana namun mengubah segalanya: Arab Saudi (dan kemudian seluruh OPEC) setuju untuk menjual minyak hanya dalam Dolar AS. Sebagai imbalannya, AS menjamin keamanan dan kelangsungan rezim Saudi, termasuk perlindungan militer dan pasokan senjata.
Hasilnya bersifat sistemik dan mengglobal. Karena minyak adalah darah perekonomian industri modern, setiap negara yang ingin membeli energi harus memiliki Dolar terlebih dahulu. Ini menciptakan permintaan struktural dan permanen terhadap dolar AS, bukan karena dolar didukung emas, melainkan karena minyak didukung dolar.
Inilah yang membuat sistem ini bertahan dan mengapa Dolar tetap menjadi mata uang cadangan dunia hingga hari ini.
Ekonom menyebutnya exorbitant privilege (keistimewaan berlebihan). AS dapat mencetak Dolar, menukarnya dengan barang dan jasa riil dari seluruh dunia, sementara dunia tidak punya pilihan selain menumpuk Dolar itu sebagai cadangan devisa.
Defisit neraca berjalan AS yang kronik — yang seharusnya melemahkan mata uang mana pun — justru bisa dipertahankan karena permintaan artifisial terhadap dolar tidak pernah berhenti.
SWIFT: Senjata Finansial
Sistem SWIFT (Society for Worldwide Interbank Financial Telecommunication) sering digambarkan sebagai jaringan komunikasi antar-bank yang netral. Faktanya, ia telah berkali-kali digunakan sebagai instrumen tekanan geopolitik.
Iran diputus dari SWIFT pada 2012 dan 2022, membuat ekonominya hampir lumpuh. Rusia mengalami pemblokiran parsial setelah invasi Ukraina 2022, memaksa Moscow mencari alternatif pembayaran.
Cuba dan Venezuela juga menghadapi pembatasan serupa. Pola yang muncul konsisten. Negara-Negara yang menantang dominasi Dolar atau kepentingan strategis AS menghadapi pengucilan dari sistem keuangan global.
Ini bukan teori konspirasi, hal ini tercatat dalam kebijakan sanksi resmi pemerintah AS dan dokumen Departemen Keuangan. Juan Zarate, mantan pejabat Departemen Keuangan AS, bahkan menulis buku yang merayakan penggunaan sistem keuangan sebagai senjata dalam Treasury’s War (2013).
Pola Konflik dan Perang Dunia yang Berulang
Jika diihat dari deretan berbagai kasus di dunia dalam 70-80 tahun terakhir, kita bisa mengetahui pola konflik dan perang di dunia didasari dari penolakan terhadap Dolar AS sebagai nilai tukar global.
Iran sejak 1979 berupaya menjual minyak di luar sistem Dolar, termasuk membuka bursa minyak berdenominasi Euro. Hasilnya, puluhan tahun sanksi dan isolasi internasional ditetapkan oleh Amerika Serikat.
Venezuela di bawah Chávez dan Maduro secara aktif mendorong dedolarisasi dalam OPEC dan ALBA. Hasilnya, sanksi, tekanan ekonomi, dan upaya kudeta yang didukung pihak luar.
Rusia mulai menuntut pembayaran gas dalam Rubel, setelah 2022 langkah ini langsung memicu eskalasi sanksi internasional.
Suriah (meski penyebabnya lebih kompleks) berada di tengah persaingan pipeline antara Qatar (yang mendukung rute menghindari Rusia, berdenominasi Dolar) dan Iran-Rusia (yang mendukung rute alternatif). Perang saudara yang berlangsung bertahun-tahun memiliki lapisan ekonomi dan energi yang jarang dibahas media arus utama.
Tatanan Ekonomi-Politik Dunia dan Sejarah yang Berulang
Ini bukan fenomena baru. Setiap mata uang cadangan dalam sejarah modern terikat pada kekuatan militer dan ekonomi yang melindunginya. Hal ini dibahas secara detail oleh Ray Dalio dalam Principles for Dealing with the Changing World Order (2021).
Gulden Belanda mendominasi perdagangan global abad ke-17, didukung oleh armada dagang dan militer VOC yang tak tertandingi. Ketika kekuatan militer Belanda melemah di abad ke-18, gulden pun menyusut.
Pound Sterling menjadi mata uang cadangan dunia selama hampir dua abad, didukung oleh Angkatan Laut Kerajaan Inggris yang menjaga jalur perdagangan global. Setelah Perang Dunia II menguras kekuatan Inggris, Pound digantikan Dolar dalam Perjanjian Bretton Woods, dan Imperium Inggris runtuh dalam dua dekade.
Siklus ini telah diamati oleh berbagai ekonom dan sejarawan. Ray Dalio, pendiri Bridgewater Associates, telah memetakan siklus panjang ini secara sistematis dalam karyanya tentang tatanan dunia yang berubah. Kebangkitan, puncak, dan kemunduran kekuatan hegemoni selalu beriringan dengan perjalanan mata uang cadangannya.
Tantangan dari China
China memahami pelajaran ini dengan sangat serius. Inisiatif Belt and Road (BRI) yang diluncurkan sejak 2013 sering disajikan sebagai program pembangunan infrastruktur global yang “ramah”. Namun strukturnya menciptakan jaringan hubungan utang yang berdenominasi pada Yuan dan diikat pada kepentingan strategis Beijing, persis seperti yang dilakukan AS melalui institusi Bretton Woods pasca-1945.
BRICS (Brasil, Rusia, India, China, Afrika Selatan) yang kini telah berkembang menjadi BRICS+ dengan anggota baru seperti Arab Saudi, Iran, dan UEA, secara aktif mendiskusikan mekanisme perdagangan yang melewati Dolar.
Pada KTT 2023 di Johannesburg, dedolarisasi menjadi agenda utama. Arab Saudi — mitra paling krusial dalam sistem petrodollar asli — mulai menerima Yuan untuk sebagian penjualan minyaknya ke China.
India membayar minyak Rusia dalam Rupee. Rusia dan China memperluas penggunaan sistem CIPS (alternatif SWIFT buatan China). Hal ini memulai pergeseran infrastruktur keuangan yang sedang berjalan.
Akankah Siklus Tatanan Politik Dunia Lama Berakhir?
Apakah Dolar akan segera jatuh? Hampir pasti tidak dalam jangka pendek. Jaringan kepercayaan, institusi, dan likuiditas yang membangun dominasi Dolar tidak akan runtuh dalam semalam. Namun tanda-tanda tekanan struktural sudah mulai tampak.
Pangsa pasar Dolar dalam cadangan devisa global turun dari 73 persen pada 2001 menjadi sekitar 58 persen pada 2024 menurut data IMF.
Yang lebih penting adalah pergeseran psikologis. Dunia mulai percaya bahwa alternatif mungkin ada. Dan dalam keuangan, kepercayaan adalah segalanya.
Melihat kasus ini, pertanyaannya bukan tentang siapa yang baik atau jahat. Pertanyaannya, apakah ada pola sistemik di mana ancaman terhadap dominasi Dolar secara konsisten memicu respons militer dan sanksi dari Washington?
Jawabannya, pola mengarah ke hal tersebut nyata. Sejarah keuangan global adalah sejarah kekuasaan. Siapa yang mengontrol mata uang cadangan dunia, mengontrol syarat-syarat perdagangan, utang, dan pada akhirnya mengontrol kebijakan ekonomi global.











Discussion about this post