Strategis dan Mencerahkan!
No Result
View All Result
  • TINJAUAN.ID
  • Global
  • Politik
    • News
    • Nasional
    • Regional
    • Daerah
  • Ekonomi
  • Opini
  • Sejarah
  • Liputan Khusus
  • Editorial
  • Pojok Ekraf
  • TINJAUAN.ID
  • Global
  • Politik
    • News
    • Nasional
    • Regional
    • Daerah
  • Ekonomi
  • Opini
  • Sejarah
  • Liputan Khusus
  • Editorial
  • Pojok Ekraf
No Result
View All Result
Strategis dan Mencerahkan!
No Result
View All Result
Home Ekonomi

Menimbang Liputan The Economist tentang Indonesia dan Pemerintahan Prabowo

TINJAUAN ID by TINJAUAN ID
May 19, 2026
Reading Time: 4 mins read
0
Menimbang Liputan The Economist tentang Indonesia dan Pemerintahan Prabowo

Dalam menimbang pemberitaan The Economist mengenai Indonesia dan pemerintahan Presiden Prabowo, kami mencoba menganalisis secara adil dan berimbang dalam melihat pernyataan dan respons yang ada.

TINJAUAN.ID | Pada 14 Mei 2026, The Economist menerbitkan dua artikel besar sekaligus yang sama-sama mengulas tentang Indonesia dan Presiden Prabowo Subianto.

Dua liputan tersebut berjudul “Indonesia’s President Is Jeopardising the Economy and Democracy” dan “Indonesia, the Biggest Muslim-Majority Country, Is on a Risky Path.” Subjudulnya tidak kalah keras: “Prabowo Subianto is too spendthrift and too authoritarian.”

Pemerintah Indonesia melalui Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa langsung merespons dan menolak penilaian tersebut. Perdebatan pun meluas ke ruang publik dalam negeri.

Melalui artikel ini, kami tidak bertujuan menghakimi siapa yang benar atau salah. Tujuannya adalah memetakan apa yang dikritik? seberapa kuat dasarnya? bagaimana pemerintah merespons? dan di mana masing-masing pihak menyisakan celah argumentasi?

Lima Poin Kritik The Economist untuk Indonesia dan Prabowo

The Economist membangun argumennya di atas lima gugatan utama terhadap pemerintahan Prabowo.

Pertama, belanja negara yang terlalu besar untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Merah Putih (KMP) yang dianggap membebani fiskal tanpa kepastian hasil yang terukur. Majalah itu memperingatkan bahwa pemerintah mungkin akan menghadapi pilihan sulit dengan memangkas subsidi, memperlebar defisit, atau mengorbankan program lain.

Kedua, majalah tersebut menyorot masalah disiplin fiskal. The Economist menyebut Indonesia telah meninggalkan tradisi disiplin anggaran yang dibangun lebih dari dua dekade, termasuk sinyal yang dikirim melalui pergantian Menteri Keuangan Sri Mulyani dengan Purbaya Yudhi Sadewa.

Ketiga, liputan tersebut turut menyorot meningkatnya peran negara dalam ekonomi. Pembentukan Danantara sebagai badan investasi negara dengan kewenangan besar dinilai mempersempit ruang swasta dan mengurangi transparansi pengelolaan aset publik.

Keempat, dalam pemerintahan, turut diangkat soal militer yang masuk ke ranah sipil. Pembentukan 100 Batalyon Teritorial Pembangunan dan revisi regulasi yang membuka posisi sipil bagi personel militer aktif dinilai sebagai kemunduran dari prinsip supremasi sipil pasca reformasi.

Kelima, terkait isu demokrasi, The Economist melihat melemahnya oposisi dan masyarakat sipil. Dijelaskan bahwa ruang bagi perbedaan pendapat menyempit, oposisi parlemen terpinggirkan, dan masyarakat sipil terintimidasi. Mereka juga menyoroti wacana penghapusan pilkada langsung sebagai tanda konsolidasi kekuasaan eksekutif.

Respons Pemerintah Indonesia

Jakarta merespons dengan cepat, terutama dari sisi fiskal. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap sehat dan terkendali.

Defisit anggaran tahun 2025 tercatat 2,8–2,95 persen dari PDB, masih di bawah batas maksimal 3 pereen yang ditetapkan undang-undang. “Kan fiskal kita bisa dikendalikan di bawah 3 persen dari PDB. Jadi tidak ada masalah,” kata Purbaya.

Ia juga menantang balik dengan perbandingan global, “Jika The Economist melihat kebijakan fiskal kita kacau, maka lihat negara-negara di Eropa. Berapa defisit dan rasio utang mereka? Banyak yang mendekati 100 persen dari PDB.”

Menurut Purbaya, Indonesia seharusnya mendapat apresiasi, bukan sentimen negatif, mengingat kondisi makroekonomi yang masih lebih baik dari banyak negara maju. Rasio utang terhadap PDB bahkan sedikit mereda ke 29,5 persen pada kuartal pertama 2026.

Pemerintah juga berargumen bahwa program MBG bukan sebagai pemborosan, melainkan sebagai investasi sosial jangka panjang yang menyentuh lebih dari 60 juta penerima. Mulai dari anak sekolah, ibu hamil, dan balita, dengan tujuan memutus rantai malnutrisi yang selama ini menghambat kualitas sumber daya manusia.

Menimbang Argumen Kedua Pihak

Kami mencoba menimbang dengan adil terkait perkara ini, di beberapa hal, The Economist punya pijakan data dan argumentasi yang kuat.

Data tentang tekanan fiskal bukan dibuat-buat. Capital outflow atau arus modal keluar dari Indonesia sebesar 6 miliar dolar AS, pelemahan rupiah sekitar 11 persen terhadap dolar, dan defisit yang semakin mendekati batas 3 persen adalah fakta yang juga dicatat oleh lembaga riset dalam negeri seperti LPEM FEB UI.

Kekhawatiran tentang peran militer dan penyempitan ruang masyarakat sipil juga bukan narasi asing semata, banyak akademisi dan organisasi dalam negeri sudah mengangkat isu ini sebelum The Economist mengulasnya.

Beberapa Argumen The Economist Perlu dipertanyakan

Pertama, majalah ini secara ideologis berkomitmen pada mazhab ekonomi  liberal, ini dilihat dari identitas editorial yang tidak tersembunyi.

Konsekuensinya, setiap program yang memperbesar peran negara hampir secara otomatis dibaca sebagai risiko, bukan pilihan kebijakan yang sah. Pertanyaan tentang nilai jangka panjang investasi gizi bagi generasi mendatang tidak muncul dalam framing mereka.

Kedua, artikel ini tampak membaca Indonesia dengan kerangka pasca reformasi 1998 tanpa cukup mempertimbangkan bahwa lanskap geopolitik dan ekonomi global 2026 sudah sangat berbeda. Termasuk bagaimana banyak negara berkembang sedang meninjau ulang model pembangunannya di tengah persaingan kekuatan besar.

Bagian Respons Pemerintah yang Menyisakan Celah

Argumen komparatif Purbaya bahwa defisit Eropa jauh lebih besar dari Indonesia adalah perbandingan yang tidak sepenuhnya sebanding. Negara-negara Eropa beroperasi dalam konteks kelembagaan, pasar modal, dan kapasitas fiskal yang berbeda.

Lebih penting untuk digarisbawahi dalam melihat Indonesia adalah pertanyaan tentang trajektori. Ke mana arah defisit dan utang Indonesia jika program-program besar terus berjalan tanpa sumber pendanaan baru yang signifikan?

Pertanyaan tentang mekanisme pengawasan Danantara, keberlanjutan fiskal MBG dalam jangka menengah, dan ruang bagi oposisi yang bermartabat juga belum mendapat jawaban yang cukup konkret dari pemerintah.

Pemerintah Indonesia, dalam merespons hal ini terlalu berfokus pada pembelaan angka-angka fiskal dan kurang menawarkan narasi alternatif yang meyakinkan tentang bagaimana risiko-risiko yang diidentifikasi akan dikelola ke depan.

Kekhawatiran yang menjadi bahan dalam publikasi The Economist ini bsebenarnya sudah lama beredar di dalam diskursus publik Indonesia sendiri. Mulai dari jurnal akademik, laporan LSM, hingga pemberitaan media lokal.

Fakta bahwa perhatian internasional baru terpicu setelah media asing yang menulis mencerminkan sesuatu tentang kondisi ruang publik dalam negeri kita yang layak dipikirkan lebih serius.

Perdebatan tentang liputan The Economist ini pada akhirnya bisa disebut produktif hanya jika mendorong kita melampaui dua posisi yang sama-sama mudah: menerimanya sebagai vonis final, atau menolaknya sebagai intervensi asing.

Kritik dari luar, bahkan yang bias sekalipun, bisa menjadi daya dorong yang produktif jika disambut dengan sikap yang membedakan mana yang substansial untuk dijawab dengan kebijakan, dan mana yang perlu direspons dengan argumen.

Tim redaksi Tinjauan.id

Tags: demokrasiEKonomiindonesiaMenkeu PurbayaPrabowoThe economist
ShareTweetSendShare

Related Posts

Pengadaan Mobil Rp17,9 Miliar BRA: Risiko Anggaran di Lembaga Perdamaian
Laporan dan Analisis

Pengadaan Mobil Rp17,9 Miliar BRA: Risiko Anggaran di Lembaga Perdamaian

October 6, 2026
Jabat Dua Kementerian Sekaligus, Apakah Bahlil Menjadi “The New Luhut”? 
Ekonomi

Jabat Dua Kementerian Sekaligus, Apakah Bahlil Menjadi “The New Luhut”? 

October 2, 2026
Saatnya Pelabuhan Krueng Geukueh Dioptimalkan Sebagai Pintu Utama Ekspor CPO Sawit Aceh
Daerah

Kepentingan Tata Kelola Migas Aceh Dipertaruhkan dalam RUU Migas, Posisi BPMA dan Pasal 160 Harus Dipertegas

October 2, 2026
Syahganda Nainggolan Dilantik Jadi Kepala Bakom RI: Dari Dunia Aktivis ke Istana
Nasional

Syahganda Nainggolan Dilantik Jadi Kepala Bakom RI: Dari Dunia Aktivis ke Istana

October 2, 2026
Utang Pemerintah Aceh Rp885,88 Miliar, Rp416,98 Miliar Berasal dari RSUDZA
Daerah

Utang Pemerintah Aceh Rp885,88 Miliar, Rp416,98 Miliar Berasal dari RSUDZA

October 1, 2026
Prabowo Reshuffle Kabinet, Sejumlah Menteri dan Pejabat Negara Dilantik
Nasional

Prabowo Reshuffle Kabinet, Sejumlah Menteri dan Pejabat Negara Dilantik

October 1, 2026
Next Post
Wali Nanggroe Minta Penjelasan Pergub JKA, Sekda Aceh : Penataan Data dan Efisiensi Anggaran

Wali Nanggroe Minta Penjelasan Pergub JKA, Sekda Aceh : Penataan Data dan Efisiensi Anggaran

Wali Nanggroe Tekankan Dialog dan Transparansi, Pemerintah Aceh Siapkan Pergub Baru JKA

Wali Nanggroe Tekankan Dialog dan Transparansi, Pemerintah Aceh Siapkan Pergub Baru JKA

Discussion about this post

Recommended Stories

Sekda Aceh Tinjau Kerusakan Jalan Gayo Lues-Agara dan Salurkan Bantuan Logistik

Sekda Aceh Tinjau Kerusakan Jalan Gayo Lues-Agara dan Salurkan Bantuan Logistik

January 3, 2026

AHY Dorong Anak Muda Aceh Makin Maju dan Kreatif

December 27, 2023
Alijullah Hasan Yusuf Hadiri Syarah Budaya di Sigli, Bagikan Kisah Perjalanan Hidup ke Eropa Sigli, 23 Juli 2025 – Komunitas Beulangong Tanoh menggelar kegiatan Syarah Budaya bersama tokoh Aceh, Alijullah Hasan Yusuf, pada Rabu (23/7) sore di balai kayu Pekarangan Warong Kupi Kulam, Sigli. Acara dimulai pukul 16.30 hingga 18.00 WIB dan diikuti oleh peserta dari berbagai kalangan serta komunitas, termasuk FAMe Pidie dan sejumlah komunitas literasi dan budaya lainnya. Alijullah Hasan Yusuf, atau akrab disapa Pak Ali, merupakan tokoh asal Blang Paseh yang dikenal luas sejak tahun 1970-an melalui kisahnya sebagai “penumpang gelap” menuju Eropa. Kisah tersebut kemudian dibukukan dengan judul Penumpang Gelap dan menjadi titik awal ketenarannya. Dalam kegiatan tersebut, Pak Ali membagikan pengalamannya merantau dari Aceh hingga ke Eropa. Ia bercerita tentang masa kecilnya yang dipenuhi oleh pembacaan Hikayat Aceh di kampung halaman, ketertarikannya terhadap pesawat, hingga akhirnya memberanikan diri naik pesawat sebagai penumpang gelap setelah meneliti kebiasaan orang-orang di bandara saat bekerja di Jakarta. “Waktu kecil saya hanya dengar bunyi pesawat dari kejauhan. Saat melihat langsung pesawat di Kuta Cane, saya cuma bisa berbisik dalam hati: suatu hari saya akan naik pesawat itu, apa pun caranya,” ujar Pak Ali disambut tawa oleh segenap peserta yang hadir. Selain berbagi kisah pribadinya, Pak Ali juga menceritakan pertemuannya dengan sejumlah tokoh nasional, seperti Bung Hatta, Soemitro Djojohadikoesoemo, Daud Beureueh, Hasan Tiro, dan B.J. Habibie. Ia mengungkapkan bahwa Bung Hatta adalah sosok yang menyemangatinya untuk menuliskan kisah hidupnya. “Pak Hatta bilang langsung ke saya, ‘Ali, kamu harus menulis kisah hidupmu. Ini penting untuk generasi muda.’ Itu yang membuat saya mulai serius menulis,” jelas Pak Ali. Dorongan itu melahirkan buku otobiografi Penumpang Gelap yang kemudian banyak dibaca dan dikagumi, termasuk oleh calon istrinya sendiri, yang kelak ia temui dan nikahi di Indonesia. Sementara itu, pertemuannya dengan B.J. Habibie terjadi di sebuah bukit di Paris, di mana Pak Ali dan Mantan Presiden Indonesia ke-3 itu berdiskusi panjang mengenai pembangunan Aceh, termasuk rencana menghidupkan kembali jalur kereta api Aceh yang belum sempat terwujud. “Pak Habibie bilang ke saya, dia ingin membangun Aceh dengan menghidupkan kembali jalur kereta api. Tapi takdir berkata lain, beliau keburu dilengserkan,” ujar Pak Ali dengan nada haru. Pak Ali hadir di lokasi acara dengan pakaian santai, kaos berkerah putih, celana jeans biru, sepatu putih, lengkap dengan topi dan kacamata. Ia didampingi oleh istrinya, Suryati, serta anak perempuan mereka. Acara yang dipandu langsung oleh Yulia Erni, berlangsung dalam suasana akrab dan penuh antusiasme. Pesertapun terlihat aktif menyimak dan berebutan untuk melayangkan pertanyaan yang bermuara dialog panjang. Di penghujung ceritanya tadi, Pak Ali menyampaikan pesan yang menjadi inti dari perjalanan hidupnya sekaligus warisan pemikiran yang ingin ia tularkan kepada generasi muda, “Kita harus berani merantau, menulis, dan membaca,” Menurutnya, tiga hal sederhana ini merantau, menulis, dan membaca adalah kunci yang telah membuka banyak pintu dalam hidupnya. Merantau mengajarkannya tentang dunia dan keberanian, menulis membuatnya diingat dan dikenang, sementara membaca membentuk cara pandangnya terhadap kehidupan. “Merantau membuat saya berani keluar dari kampung, dari zona nyaman. Menulis membuat saya bisa merekam hidup saya, dan membaca membuat saya mengerti hidup orang lain,” jelasnya. Pak Ali berharap agar generasi muda Aceh, khususnya peserta yang hadir hari itu, tidak ragu untuk bermimpi besar, dan menjelajah dunia.

Alijullah Hasan Yusuf Hadiri Syarah Budaya di Sigli, Bagikan Kisah Perjalanan Hidup ke Eropa

July 23, 2025
  • Dataset
  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • TINJAUAN.ID
  • Pedoman Media Siber
Email: redaksi@tinjauan.id

© 2025 Tinjauan.ID - Strategis dan Mencerahkan!

No Result
View All Result
  • TINJAUAN.ID
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Dunia
  • Ekonomi
  • Politik
  • Opini
  • Sejarah
  • Editorial
  • Pojok Ekraf

© 2025 Tinjauan.ID - Strategis dan Mencerahkan!