Strategis dan Mencerahkan!
No Result
View All Result
  • TINJAUAN.ID
  • News
  • Global
  • Politik
    • Nasional
    • Regional
    • Daerah
  • Ekonomi
  • Opini
  • Sejarah
  • Liputan Khusus
  • Editorial
  • Pojok Ekraf
  • TINJAUAN.ID
  • News
  • Global
  • Politik
    • Nasional
    • Regional
    • Daerah
  • Ekonomi
  • Opini
  • Sejarah
  • Liputan Khusus
  • Editorial
  • Pojok Ekraf
No Result
View All Result
Strategis dan Mencerahkan!
No Result
View All Result
Home Oase

Mengurangi Gesekan Antara Kaum Tradisionalis dan Kaum Akademis dengan Tiga Tradisi Keilmuan Islam ala Prof. Amin Abdullah

TINJAUAN ID by TINJAUAN ID
April 17, 2026
Reading Time: 4 mins read
0
Mengurangi Gesekan Antara Kaum Tradisionalis dan Kaum Akademis dengan Tiga Tradisi Keilmuan Islam ala Prof. Amin Abdullah

TINJAUAN.ID | Gesekan antara umat beragama di Indonesia bukan hanya terjadi antar mereka yang berbeda pendapat dalam akidah seperti kaum Wahabi, Aswaja, atau Syi’ah, tetapi juga terjadi antara kaum tradisionalis dan kaum akademis.

Kaum tradisionalis berangkat dari santri-santri pondok pesantren, baik salaf ataupun terpadu (tradisionalis) yang mempelajari Islam langsung dari kitab-kitab klasik (turas). Sedangkan kaum akademis berangkat dari mahasiswa dan dosen kampus yang cenderung lebih banyak mempelajari Islam dari buku-buku modern baik yang ditulis oleh tokoh Muslim atau orientalis.

Para akademisi melabeli mereka yang belajar di pesantren dengan kolot, ketinggalan zaman, fundamentalis, dll. Para santri melabeli mereka yang belajar di kampus dengan liberal, sekular, modernis, dll. Keduanya seringkali menyerang satu sama lain. Apa sebabnya? Apa latar belakang dari gesekan ini? Dan apa solusinya?

Tiga Tradisi Keilmuan Prof. Amin Abdullah

Prof. Amin Abdullah dalam artikelnya yang berjudul “Mempertautkan Ulum al-Diin, al-Fikr al-Islamiy dan Dirasat Islamiyah: Sumbangan Keilmuan Islam Untuk Peradaban Global” membagi tradisi keilmuan islam ke dalam 3 bagian: ‘Ulum al-Diin (Religious Knowledge), al-Fikr al-Islamiy (Islamic Thought) dan Dirasat Islamiyyah (Islamic Studies).

Dalam tulisan itu beliau menjelaskan bahwa ‘Ulum al-Diin adalah representasi “tradisi lokal” keislaman yang berbasis pada “bahasa” dan “teks-teks” atau nash-nash keagamaan, ia mencakup ilmu-ilmu dasar islam seperti akidah, fikih, tasawuf, hadis, tafsir, dan lain-lain yang meruju’ langsung kepada al-Quran, hadis, dan kitab-kitab turas, ‘Ulum al-Diin punya pendekatan yang normatif, parsial, sektarian, provinsial, dan reduktif.

Dan al-Fikr al-Islamiy adalah representasi pergumulan humanitas pemikiran keislaman yang berbasis pada “rasio-intelek”, ia merupakan tahap lanjutan dari ‘Ulum al-Diin. Tidak ada perbedaan yang signifikan di antara keduanya, hanya saja ia mempunyai struktur ilmu dan the body of knowledge yang kokoh dan komprehensif-utuh tentang Islam, sedang ‘Ulūm ad-Dīn ‘seringkali hanya menekankan atau memilih bagian tertentu saja atau satu-dua saja dari the body of knowledge pengetahuan tentang Islam yang utuh-komprehesif tersebut.

Secara sederhana, mungkin bisa kita katakan bahwa disusun secara sistematis dan terstruktur secara akademis dengan melibatkan pendekatan sejarah pemikiran (Origin, Change dan Development). al-Fikr al-Islamiy merupakan jembatan antara ‘Ulum al-Diin dan Dirasat Islamiyyah.

Sedangkan Dirasat Islamiyyah atau Islamic Studies adalah kluster keilmuan baru yang berbasis pada paradigma keilmuan sosial kritis-komparatif lantaran melibatkan seluruh “pengalaman” (experiences) umat manusia di alam historis-empiris yang amat sangat beranekaragam.

Sangatlah berbeda dari kedua jenis keilmuan keislaman yang mendahuluinya. Selain masih merujuk pada kluster ilmu-ilmu keagamaan Islam yang paten, standard baku dalam Ulum al Diin dan al-Fikr al-Islamiy, ia juga ditopang dan diperkokoh oleh research (penelitian) lapangan, pengamatan historis-empiris yang ‘objektif ’ tentang dinamika sosial, ketersambungan (continuity), dan perubahan (change), pola (pattern) dan trends pergumulan sosial-politik, ekonomi, budaya, pola-pola ketegangan, konflik, harmoni, dan merekam pluralitas interpretasi makna oleh para pelaku di lapangan.

Menurut penglihatan Pak Amin, para penggemar dan pecinta studi keislaman sendiri seringkali tidak dapat membedakan secara jelas dan gamblang antara ketiganya sehingga tidak dapat membentuk satu pandangan keagamaan (worldview) Islam yang utuh, yang dapat mempertemukan dan mendialogkan secara positif-konstruktif antara yang “lokal” dan “global”, antara yang “partikular” dan “universal”, antara “distinctive values” dan “shared values”, antara yang biasa disebut “dzanni” dan “qath’iy” dalam pemikiran fikih Islam dalam hubungannya dengan keberadaan pandangan hidup dan pandangan keagamaan tradisi dan budaya lain di luar budaya Islam.

Tradisi belajar yang ada di pondok pesantren mengikuti dinamika yang pertama yaitu ‘Ulum al-Diin (Religious Knowledge), mereka mempelajari islam langsung dari sumber-sumber primer, baik itu al-Quran, hadis, atau kitab-kitab klasik yang dikarang oleh para ulama terdahulu.

Para santri fokus dalam membaca, menghafal, menganalisa dan mendiskusikan teks dari kitab-kitab tersebut dan jarang mempelajari islam secara kontekstual yang terkadang dibutuhkan untuk menyesuaikan beberapa pemahaman Islam dengan perkembangan zaman.

Pola keilmuan pesantren yang terlalu fokus kepada teks membuat beberapa santri berpikir rigid dan kaku, mudah menyalahkan mereka yang punya pandangan berbeda, punya sudut pandang yang sempit, terjebak ke dalam taqlid buta, bahkan beberapa di antara mereka ada sampai mengharamkan ilmu sains.

Sedangkan pola pembelajaran islam di kampus atau perguruan tinggi cenderung kepada dinamika yang ketiga yaitu Dirasat Islamiyyah (Islamic Studies). Mereka mempelajari islam dengan sudut pandang yang lebih luas, kata pak Amin:

“Pendekataan kritis dan komparatif (perbandingan) sangat diutamakan dalam tradisi keilmuan Dirasat Islamiyyah atau Islamic Studies. Ia selalu menggunakan metode dan pendekatan historis, psikologis, antropologis atau sosiologis (meskipun tidak sampai jatuh pada jebakan reduksionistik) terhadap realitas keberagamaan muslim di lapangan.”

Inilah yang membuat pola berpikir yang tercipta di ruang kampus lebih terbuka, kritis, dan liberal. Buku-buku atau tulisan yang mereka gunakan sebagai referensi tidak sedikit yang berasal dari orientalis Barat.

Lalu, kenapa gesekan dan konflik bisa terjadi?

1. Kaum tradisionalis menutup mata dari Dirasat Islamiyah, mereka merasa cukup dengan kitab-kitab yang mereka pelajari di pondok, tanpa perlu membaca buku dan tulisan-tulisan kontemporer atau melihat islam dengan pendekatan lain yang membuat islam terasa lebih universal dan mencakup segala aspek dalam kehidupan. Pandangan tersebut membuat beberapa kaum pesantren alergi terhadap kampus.

2. Kaum akademis melihat kaum sarungan (tradisionalis) sebagai orang-orang tertinggal, kolot, fundamentalis, bahkan tidak jarang dari mereka yang memandang rendah kitab-kitab turas dan menilainya sebagai sesuatu yang sudah usang dan ketinggalan zaman.

3. Kaum akademis latah membicarakan hukum-hukum agama yang tidak mereka kuasai. Beberapa akademisi tidak punya dasar ‘ulum al-diin (bahkan beberapa di antaranya tidak punya dasar bahasa arab), tetapi mereka berani-beraninya memberikan fatwa-fatwa agama di khalayak ramai, sehingga timbullah fatwa-fatwa yang aneh dan nyeleneh yang akan membuat kaum sarungan sinis.

Solusi dan Jalan Tengah

Setiap dari kita harus memahami tiga dinamika atau tradisi keilmuan islam di atas. Ketiganya berhubungan erat dalam sejarah intelektual-akademik budaya Islam. Masing-masing dari ketiga kluster keilmuan tersebut bisa saling berdialog, dan memberikan kritik bila terdapat poin-poin yang janggal.

Hubungan antara ketiganya bersifat dialogis dan negosiatif. Ketiganya sama-sama dibutuhkan untuk mencapai satu worldview Islam yang ideal. Dengan cara pandang seperti ini akan memudahkan pengembangan ilmu Islam yang semakin hari semakin memiliki banyak tantangan.

Kaum tradisionalis pesantren hendaklah membuka diri untuk menerima pola keilmuan Islam yang lebih terbuka dan modern, tanpa harus meninggalkan khazanah islam yang ada.

Mereka tidak boleh merasa cukup dengan kitab-kitab yang dikaji di pesantren, tetapi mulai untuk membaca tulisan-tulisan kontemporer agar bisa melihat agama dari POV yang lebih luas dan berwarna.

Kaum Akademis kampus juga harus sadar bahwa inti dari ajaran islam itu terkandung dalam al-Quran, hadis, dan kitab-kitab warisan para ulama. Jadi jangan berpongah diri dengan membicarakan Islam, tapi menjauh dari inti dasar dari ajaran islam itu sendiri.

Pada akhirnya kita harus belajar satu sama lain, saling mendukung, saling bekerja sama untuk mewujudkan islam yang kaffah sebagaimana pesan Nabi kita Muhammad SAW. Bukankah pada akhirnya tujuan kita sama yaitu mewujudkan islam rahmatan lil ‘alamin.

و لكل وجهة هو موليها فاستبقوا الخيرات

Oleh: Fudhail Nuril Huda, Lc.
Alumnus Universitas Al-Azhar, Kairo, mahasiswa magister Akidah Filsafat Islam, UIN Sunan Kalijaga.

Tags: Amin AbdullahKeilmuan Islampemikiran Islamtradisionalis
ShareTweetSendShare

Related Posts

Restitusi sebagai Jembatan Kepercayaan: Mengoptimalkan Pasal 11 UU KUP dalam Ekosistem Self-Assessment
Ekonomi

Restitusi sebagai Jembatan Kepercayaan: Mengoptimalkan Pasal 11 UU KUP dalam Ekosistem Self-Assessment

April 14, 2026
Di Balik Layar Ponsel: Ancaman Diet Ekstrim pada Remaja Perempuan Aceh
Opini

Di Balik Layar Ponsel: Ancaman Diet Ekstrim pada Remaja Perempuan Aceh

April 7, 2026
Program MBG, Masalah Birokratis dan Gizi Nasional
Nasional

Program MBG, Masalah Birokratis dan Gizi Nasional

April 1, 2026
Transisi Kekuasaan di Indonesia: Proyeksi Pewaris Trah Politik Menuju Pilpres 2029 dan 2034
Laporan dan Analisis

Transisi Kekuasaan di Indonesia: Proyeksi Pewaris Trah Politik Menuju Pilpres 2029 dan 2034

March 24, 2026
Halal Bukan Warisan dan Asumsi, Tapi Tanggung Jawab yang Harus Dipastikan
Opini

Halal Bukan Warisan dan Asumsi, Tapi Tanggung Jawab yang Harus Dipastikan

March 3, 2026
Corvée
Opini

Corvée

February 10, 2026

Discussion about this post

Recommended Stories

Kedai Kopi Pertama di Aceh: Antara Pengaruh Ottoman dan Budaya Perantauan Tionghoa

Kedai Kopi Pertama di Aceh: Antara Pengaruh Ottoman dan Budaya Perantauan Tionghoa

July 19, 2025
Aceh Film Festival 2025 Digelar September, Angkat Tema “Stratagem”: Siasat Budaya dari Aceh ke Dunia

Aceh Film Festival 2025 Digelar September, Angkat Tema “Stratagem”: Siasat Budaya dari Aceh ke Dunia

August 30, 2025
Melihat Sisi Baik Kekerasan: Pandangan Sosiologis

Melihat Sisi Baik Kekerasan: Pandangan Sosiologis

February 5, 2026

Popular Stories

  • Tingkat Pengangguran Usia Muda Tinggi, Indonesia Berjuang Ciptakan Lapangan Kerja

    Prabowo Segera Bentuk Tim Reformasi Polri, Bentuk Juga Komisi Investigasi Insiden Agustus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gaji PPPK Aceh Macet Hampir 4 Bulan, Ribuan ASN Hidup dengan Utang Karena APBA-P Tak Kunjung Jelas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kritik Kosong tentang Ulama Dayah Adalah Opini yang Tak Perlu Ditulis

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tak Kunjung Dapat Kerja di Aceh, Hendra Nekat Merantau ke Australia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Buntut Polemik di DPRA, Mualem Dikabarkan Kantongi Dua Nama Kandidat Pengganti Ketua DPRA

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • TINJAUAN.ID
  • Pedoman Media Siber
Email: redaksi@tinjauan.id

© 2025 Tinjauan.ID - Strategis dan Mencerahkan!

No Result
View All Result
  • TINJAUAN.ID
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Dunia
  • Ekonomi
  • Politik
  • Opini
  • Sejarah
  • Editorial
  • Pojok Ekraf

© 2025 Tinjauan.ID - Strategis dan Mencerahkan!