Masjid Jami’ Al Mabrur, Gampong Cot Meurak Blang, Kecamatan Samalanga, Kabupaten Bireuenyang selama ini menjadi pusat ibadah masyarakat dilaporkan longsor dan hanyut terbawa arus sungai saat banjir besar melanda kawasan tersebut pada November lalu.
Bireuen — Pagi Lebaran pertama Idul Fitri 1447 Hijriah kemarin, 21 Maret 2026, yang dirayakan mengikuti ketetapan pemerintah, terasa berbeda bagi masyarakat Gampong Cot Meurak Blang, Kecamatan Samalanga, Kabupaten Bireuen. Takbir tetap berkumandang seperti biasanya, warga pun datang dengan pakaian terbaik mereka. Namun ada satu hal yang hilang: masjid tempat mereka biasa berkumpul untuk shalat Id sudah tidak lagi berdiri.
Masjid Jami’ Al Mabrur yang selama ini menjadi pusat ibadah masyarakat dilaporkan longsor dan hanyut terbawa arus sungai saat banjir besar melanda kawasan tersebut pada November lalu. Bagi warga, peristiwa itu bukan hanya kehilangan sebuah bangunan, tetapi juga kehilangan ruang yang selama ini menjadi tempat mereka bersujud, belajar agama, dan merayakan hari-hari besar Islam bersama.
Meski begitu, musibah tersebut tidak mematahkan semangat mereka.
Selama bulan Ramadhan, warga bergotong royong membangun sebuah masjid darurat di sekitar lokasi masjid lama. Dengan bahan sederhana dan tenaga sukarela dari masyarakat, tempat ibadah itu akhirnya bisa digunakan sebelum hari raya tiba.
Pada pagi Lebaran pertama, warga mulai berdatangan untuk melaksanakan shalat Idul Fitri berjamaah di masjid darurat tersebut. Karena kapasitasnya terbatas, sebagian jamaah bahkan harus melaksanakan shalat di halaman hingga ke bantaran sungai.
Meski sederhana, suasana khusyuk tetap terasa. Takbir yang bergema di tengah udara pagi menghadirkan perasaan haru bagi banyak warga.
“Alhamdulillah, walaupun masjid kami sudah tidak ada, kami masih bisa shalat Id bersama,” kata Haris, salah seorang warga. “Yang penting kami tetap bisa berkumpul dan beribadah.”

Bagi masyarakat Cot Meurak Blang, Idul Fitri tahun ini terasa berbeda. Namun di balik kesederhanaan itu, justru tampak kuatnya kebersamaan warga yang saling membantu sejak masa pembangunan masjid darurat hingga hari pelaksanaan shalat Id.
Musibah yang merobohkan Masjid Jami’ Al Mabrur memang meninggalkan kenangan pahit. Namun dari peristiwa itu pula tumbuh solidaritas dan kepedulian yang semakin mempererat hubungan antarwarga.
Kini, di tempat masjid itu pernah berdiri, harapan baru mulai tumbuh. Warga berharap suatu hari nanti mereka dapat kembali membangun masjid yang lebih layak sebagai pusat ibadah dan kegiatan keagamaan di desa mereka.[]










Discussion about this post