Merespons dinamika konflik Timur Tengah, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan sedang melakukan evaluasi mendalam terhadap perkembangan harga minyak mentah Indonesia untuk mengevaluasi harga BBM.
JAKARTA – Kebahagiaan masyarakat merayakan Idul Fitri 1447 H kini dibayangi oleh awan mendung ekonomi global. Tren harga minyak mentah dunia yang terus merangkak naik dan stabil bertengger di atas level USD 100 per barel memicu kekhawatiran massal akan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi di awal bulan depan.
Eskalasi ketegangan di Timur Tengah yang mengganggu jalur logistik Selat Hormuz menjadi faktor utama yang memaksa harga minyak jenis Brent dan West Texas Intermediate (WTI) melesat jauh di atas asumsi makro Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026.
Pernyataan Resmi Kementerian ESDM
Merespons dinamika konflik Timur Tengah, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan sedang melakukan evaluasi mendalam terhadap perkembangan harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP).
Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik, dan Kerja Sama Kementerian ESDM, dalam keterangan resminya menyatakan bahwa pemerintah terus memantau pergerakan harga minyak dunia setiap jam.
“Kami menyadari adanya tekanan luar biasa dari sisi hulu akibat konflik geopolitik. Sesuai regulasi, evaluasi harga BBM nonsubsidi dilakukan secara berkala setiap bulan. Saat ini tim teknis sedang menghitung formula harga keekonomian dengan tetap mempertimbangkan daya beli masyarakat pasca-lebaran,” ujar juru bicara Kementerian ESDM di Jakarta (24/3).
Pihak kementerian juga menekankan bahwa penyesuaian harga pada jenis Pertamax Series (RON 92, RON 98, dan Dex Series) merupakan domain korporasi PT Pertamina (Persero) yang mengacu pada harga pasar global, namun tetap di bawah pengawasan ketat pemerintah agar tidak menciptakan inflasi yang liar.
Analisis Dampak: Dilema BBM Nonsubsidi vs Subsidi
Para pengamat energi memperingatkan adanya potensi “migrasi besar-besaran” konsumsi BBM. Jika selisih harga antara Pertamax dan Pertalite semakin lebar akibat kenaikan di bulan April, beban APBN untuk subsidi energi dipastikan akan membengkak.
“Jika Pertamax naik signifikan, pengguna kendaraan pribadi kemungkinan besar akan mengantre di jalur Pertalite. Ini tantangan bagi pemerintah, menaikkan harga untuk menyelamatkan kas negara, atau menahan harga dengan risiko kuota subsidi jebol sebelum akhir tahun,” ungkap Fahmy Radhi, Pengamat Ekonomi Energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM).
Keresahan Pelaku Usaha Logistik
Di sektor riil, ketidakpastian ini mulai memukul kepercayaan diri pelaku usaha jasa transportasi dan logistik. Kenaikan harga Dexlite atau Pertamina Dex diprediksi akan langsung mengerek tarif angkutan barang lintas provinsi.
“Kami baru saja keluar dari periode high season lebaran dengan biaya operasional yang tinggi. Jika awal April nanti BBM nonsubsidi naik lagi, kami tidak punya pilihan selain menyesuaikan tarif angkut. Dampaknya tentu sampai ke harga sembako di pasar,” keluh Budiyanto, pengusaha logistik di wilayah Jawa Tengah.
Pantauan Pasar Global
Hingga Selasa siang (24/3/2026), harga minyak Brent masih bertahan di angka USD 102,45 per barel. Para analis internasional memprediksi harga ini tidak akan melandai dalam waktu dekat selama jalur distribusi di Timur Tengah masih dalam ancaman blokade militer.
Masyarakat kini hanya bisa menunggu pengumuman resmi dari PT Pertamina (Persero) yang biasanya dirilis tepat pada tengah malam tanggal 1 April setiap bulannya. Harapan publik bertumpu pada kebijakan pemerintah untuk memberikan “bantalan ekonomi” agar kenaikan ini tidak mencekik daya beli masyarakat yang baru saja merayakan kemenangan lebaran.[]











Discussion about this post