Strategis dan Mencerahkan!
No Result
View All Result
  • TINJAUAN.ID
  • News
  • Global
  • Politik
    • Nasional
    • Regional
    • Daerah
  • Ekonomi
  • Opini
  • Sejarah
  • Liputan Khusus
  • Editorial
  • Pojok Ekraf
  • TINJAUAN.ID
  • News
  • Global
  • Politik
    • Nasional
    • Regional
    • Daerah
  • Ekonomi
  • Opini
  • Sejarah
  • Liputan Khusus
  • Editorial
  • Pojok Ekraf
No Result
View All Result
Strategis dan Mencerahkan!
No Result
View All Result
Home Fokus Laporan dan Analisis

BPD Sumbar Prioritaskan UMKM, Bank Aceh Pentingkan Surat Berharga

TINJAUAN ID by TINJAUAN ID
September 23, 2025
Reading Time: 4 mins read
0
BPD Sumbar Prioritaskan UMKM, Bank Aceh Pentingkan Surat Berharga

Bank Aceh Syariah sama sekali tidak memberikan klarifikasi publik terkait kewajiban pembiayaan UMKM yang belum mereka patuhi sesuai Qanun LKS dan ketentuan BI. 

Pekan lalu (10/9), IDeAS telah merilis hasil kajian dan analisis terhadap laporan kinerja keuangan PT Bank Aceh Syariah yang telah tayang di berbagai media di Aceh.

Kami melihat atensi dan perhatian publik terhadap “Bank Kebanggaan Masyarakat Aceh” tersebut sangat tinggi, bahkan menjadi perbincangan hangat di kalangan netizen di berbagai platform media sosial, ruang-ruang diskusi hingga warung kopi. Khususnya, terkait viralnya “Bank Aceh Syariah Investasi Triliunan Dana ke Luar Aceh”.

Dalam “Roadmap Penguatan BPD 2024-2027” terbitan OJK RI, dijelaskan bahwa BPD merupakan mitra strategis Pemerintah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah yang karakteristik layanan dan/atau produk sesuai dengan kebutuhan dan kondisi masyarakat daerah setempat.

Saat ini terdapat 27 BPD dari 38 Propinsi di Indonesia. Dari seluruh BPD tersebut, kita coba uraikan perbandingan kinerja antara BPD Aceh atau Bank Aceh Syariah (BAS) dengan BPD Sumatera Barat atau Bank Nagari.

Pemilihan dua BPD tersebut karena memiliki total aset serta berbagai indikator ekonomi lainnya yang hampir setara sehingga sangat apple to apple dalam membandingkan kinerja dua BPD tersebut berdasarkan analisis dokumen “Laporan Tahunan dan Laporan Keberlanjutan tahun 2024” ;

Total Aset

BAS : Rp 31,94 T

Bank Nagari : Rp 32,95 T

Dana Pihak Ketiga

BAS : Rp 26,21 T

Bank Nagari : Rp 26,68 T

Investasi Surat Berharga

BAS : Rp 7 T

Bank Nagari : Rp 4 T

Total Pembiayaan Nasabah

BAS : Rp 20,40 T

Bank Nagari : Rp 25,04 T

Pembiayaan UMKM

BAS : Rp 2,47 T (12%)

Bank Nagari : Rp 6,49 T (26%)

Net Income

BAS : Rp 443 M

Bank Nagari : Rp 538 M

Dari sajian data tersebut, berikut analisis perbandingan kinerja dua BPD di atas :

Total Aset: Jumlah aset kedua Bank hampir setara yaitu BAS Rp 31,9 T dan Bank Nagari Rp 32,9 T.

Dana Pihak Ketiga: Jumlah DPK kedua Bank juga hampir setara yaitu BAS Rp 26,2 T dan Bank Nagari Rp 26,6 T.

Investasi Surat Berharga: Bank Aceh Syariah melakukan investasi surat berharga yang jauh lebih besar yaitu Rp 7 T, sementara Bank Nagari hanya Rp 4 T.

Total Pembiayaan Nasabah: Bank Nagari fokus pada pembiayaan nasabah yang lebih besar yaitu total Rp 25,04 T, sementara BAS Rp 20,4 T.

Pembiayaan UMKM: Jumlah dan persentase pembiayaan nasabah UMKM Bank Nagari jauh lebih besar, yaitu 26% dari total pembiayaan, sementara BAS hanya 12% atau sebesar Rp 2,47 T dari total pembiayaan Rp 20,40 T. Sisanya, sekitar 88% dari total pembiayaan BAS disalurkan untuk kredit konsumtif ASN dan kredit korporasi.

Net Income: Bank Nagari menghasilkan laba bersih yang jauh lebih tinggi yaitu Rp 538 M, sementara BAS Rp 443 M.

Kesimpulan:

Bank Nagari menunjukkan kinerja yang lebih baik ditinjau dari beberapa indikator ekonomi seperti total pembiayaan nasabah, pembiayaan UMKM, dan laba bersih.

Sementara itu, Bank Aceh Syariah masih mengandalkan investasi dalam bentuk surat berharga. Dari capaian profitabilitas juga menunjukkan bahwa; Bank Nagari yang lebih fokus pada sektor pembiayaan UMKM justru laba bersih perusahaan jauh lebih tinggi.

Dengan paparan data capaian kinerja di atas, dapat disimpulkan bahwa tidak ada khilafiyah bagi Manajemen BAS untuk tidak meningkatkan fokus pembiayaan pada sektor UMKM, sesuai kewajiban minimal 40 persen yang diatur secara eksplisit di dalam Pasal 14 Qanun LKS No.11 Tahun 2018 serta Peraturan BI No.14/22/PBI/2012 terkait kewajiban pembiayaan UMKM minimal 20 persen. Terbaru, OJK RI selaku regulator perbankan juga telah menerbitkan POJK No.19 Tahun 2025 tentang Kemudahan Akses Pembiayaan Kepada UMKM.

Sesuai ketentuan Qanun Aceh No.9 Tahun 2014, BAS itu dibentuk sebagai lokomotif untuk menggerakkan ekonomi masyarakat Aceh, jadi BAS jangan lagi asyik bermain aman di pasar sekuritas/surat berharga. Itu sama saja dengan mengkhianati kepercayaan masyarakat Aceh terhadap BAS.

Tgl 18 September kemarin, Manajemen BAS telah memberikan klarifikasi publik ke berbagai media bahwa; “Kebijakan investasi Rp 7,05 triliun dalam bentuk surat berharga mereka sebut hal yang lazim dan penting menurut BAS dalam mengelola likuiditas serta untuk menjaga stabilitas fiskal dan moneter pemerintah.”

Dari statement Manajemen BAS tersebut, ingin kami sampaikan bahwa terkait stabilitas fiskal itu domain-nya Kementerian Keuangan dan moneter itu domain-nya Bank Sentral yaitu BI.

Tugas utama Bank Aceh itu iya fokus pada pertumbuhan ekonomi daerah, terutama investasi pada sektor riil produktif yang menyerap tenaga kerja dan sektor UMKM. Berbicara soal fiskal dan moneter itu ranah-nya Menteri Keuangan dan Gubernur BI, bukan Dirut Bank Umum, apalagi Bank Daerah.

Jadi, janganlah mengeluarkan statement yang seakan-akan masyarakat Aceh tidak paham, itu pembodohan publik dan manipulatif namanya.

Disisi lain, BAS sama sekali tidak memberikan klarifikasi publik terkait kewajiban pembiayaan UMKM yang belum mereka patuhi sesuai Qanun LKS dan ketentuan BI.

Oleh karena itu, kita meminta DPR Aceh selaku legislator yang melahirkan Qanun LKS agar segera memanggil dan meminta pihak BAS untuk memberikan penjelasan ke publik terutama terkait kebijakan “memarkir dana” dalam bentuk investasi Surat Berharga ke luar Aceh serta belum patuhnya Bank Aceh terhadap ketentuan Qanun LKS dan ketentuan BI mengenai kewajiban minimal pembiayaan sektor UMKM.

Untuk para pemegang saham Bank Aceh, kepada Gubernur Aceh selaku PSP beserta 23 Bupati/Walikota se Aceh kita harapkan agar setiap RUPS tidak hanya acara seremonial dan bagi-bagi dividen semata. Sudah saatnya Bapak/Ibu pimpinan daerah agar serius memberikan perhatian dan catatan terhadap laporan kinerja BAS secara komprehensif serta evaluasi terhadap arah kebijakan pembiayaan Bank Aceh agar lebih fokus ke sektor UMKM serta sektor produktif lainnya sesuai amanat Qanun Aceh.

Hal tersebut senada dengan kebijakan Presiden Prabowo yang ditindaklanjuti oleh seluruh pemangku kepentingan di tingkat Pusat (Kementerian Keuangan, BI, OJK, dsb) yang terus bekerja mendorong dan melakukan intervensi terhadap entitas perbankan untuk fokus menyalurkan pembiayaan ke sektor ritel dan UMKM agar roda ekonomi masyarakat dapat tumbuh dan berkembang. Sekian!

Banda Aceh, 21 Sept 2025

Munzami Hs

Direktur IDeAS (Institute for Development of Acehnese Society)

Tags: Bank Acehpembiayaan perbankanpembiayaan UMKMUMKM
ShareTweetSendShare

Related Posts

Bupati Aceh Besar Tinjau Finalisasi Lahan Sekolah Rakyat, Dorong Percepatan Pembangunan Sarana Pendidikan
Daerah

Bupati Aceh Besar Tinjau Finalisasi Lahan Sekolah Rakyat, Dorong Percepatan Pembangunan Sarana Pendidikan

May 13, 2026
Sambut Idul Adha 1447 H, Pemkab Aceh Besar Gelar Pangan Murah di Sukamakmur
Daerah

Sambut Idul Adha 1447 H, Pemkab Aceh Besar Gelar Pangan Murah di Sukamakmur

May 13, 2026
Bupati Aceh Besar Minta Pembebasan Lahan untuk SPAM Regional Dipercepat
Daerah

Bupati Aceh Besar Minta Pembebasan Lahan untuk SPAM Regional Dipercepat

May 13, 2026
Polemik JKA, Praktisi Hukum Nilai Publik Sedang Digiring pada Pemahaman Keliru
Daerah

Polemik JKA, Praktisi Hukum Nilai Publik Sedang Digiring pada Pemahaman Keliru

May 13, 2026
Kak Na: Konsumsi Ikan Penting untuk Mendukung Tumbuh Kembang Otak Anak
Daerah

Kak Na: Konsumsi Ikan Penting untuk Mendukung Tumbuh Kembang Otak Anak

May 11, 2026
Rabithah Alumni MUDI Aceh Utara Resmi Dikukuhkan, Perkuat Khidmah Alumni untuk Guru dan Dayah
Daerah

Rabithah Alumni MUDI Aceh Utara Resmi Dikukuhkan, Perkuat Khidmah Alumni untuk Guru dan Dayah

May 11, 2026
Next Post
Abu Sibreh dan Politik Rekognisi Dayah: Menggugat Jawa-Sentrisme Pendidikan Islam

Abu Sibreh dan Politik Rekognisi Dayah: Menggugat Jawa-Sentrisme Pendidikan Islam

Sekda Aceh Pimpin Rapat Tindak Lanjut Pengelolaan Sumur Minyak Masyarakat

Sekda Aceh Pimpin Rapat Tindak Lanjut Pengelolaan Sumur Minyak Masyarakat

Discussion about this post

Recommended Stories

Alijullah Hasan Yusuf Hadiri Syarah Budaya di Sigli, Bagikan Kisah Perjalanan Hidup ke Eropa Sigli, 23 Juli 2025 – Komunitas Beulangong Tanoh menggelar kegiatan Syarah Budaya bersama tokoh Aceh, Alijullah Hasan Yusuf, pada Rabu (23/7) sore di balai kayu Pekarangan Warong Kupi Kulam, Sigli. Acara dimulai pukul 16.30 hingga 18.00 WIB dan diikuti oleh peserta dari berbagai kalangan serta komunitas, termasuk FAMe Pidie dan sejumlah komunitas literasi dan budaya lainnya. Alijullah Hasan Yusuf, atau akrab disapa Pak Ali, merupakan tokoh asal Blang Paseh yang dikenal luas sejak tahun 1970-an melalui kisahnya sebagai “penumpang gelap” menuju Eropa. Kisah tersebut kemudian dibukukan dengan judul Penumpang Gelap dan menjadi titik awal ketenarannya. Dalam kegiatan tersebut, Pak Ali membagikan pengalamannya merantau dari Aceh hingga ke Eropa. Ia bercerita tentang masa kecilnya yang dipenuhi oleh pembacaan Hikayat Aceh di kampung halaman, ketertarikannya terhadap pesawat, hingga akhirnya memberanikan diri naik pesawat sebagai penumpang gelap setelah meneliti kebiasaan orang-orang di bandara saat bekerja di Jakarta. “Waktu kecil saya hanya dengar bunyi pesawat dari kejauhan. Saat melihat langsung pesawat di Kuta Cane, saya cuma bisa berbisik dalam hati: suatu hari saya akan naik pesawat itu, apa pun caranya,” ujar Pak Ali disambut tawa oleh segenap peserta yang hadir. Selain berbagi kisah pribadinya, Pak Ali juga menceritakan pertemuannya dengan sejumlah tokoh nasional, seperti Bung Hatta, Soemitro Djojohadikoesoemo, Daud Beureueh, Hasan Tiro, dan B.J. Habibie. Ia mengungkapkan bahwa Bung Hatta adalah sosok yang menyemangatinya untuk menuliskan kisah hidupnya. “Pak Hatta bilang langsung ke saya, ‘Ali, kamu harus menulis kisah hidupmu. Ini penting untuk generasi muda.’ Itu yang membuat saya mulai serius menulis,” jelas Pak Ali. Dorongan itu melahirkan buku otobiografi Penumpang Gelap yang kemudian banyak dibaca dan dikagumi, termasuk oleh calon istrinya sendiri, yang kelak ia temui dan nikahi di Indonesia. Sementara itu, pertemuannya dengan B.J. Habibie terjadi di sebuah bukit di Paris, di mana Pak Ali dan Mantan Presiden Indonesia ke-3 itu berdiskusi panjang mengenai pembangunan Aceh, termasuk rencana menghidupkan kembali jalur kereta api Aceh yang belum sempat terwujud. “Pak Habibie bilang ke saya, dia ingin membangun Aceh dengan menghidupkan kembali jalur kereta api. Tapi takdir berkata lain, beliau keburu dilengserkan,” ujar Pak Ali dengan nada haru. Pak Ali hadir di lokasi acara dengan pakaian santai, kaos berkerah putih, celana jeans biru, sepatu putih, lengkap dengan topi dan kacamata. Ia didampingi oleh istrinya, Suryati, serta anak perempuan mereka. Acara yang dipandu langsung oleh Yulia Erni, berlangsung dalam suasana akrab dan penuh antusiasme. Pesertapun terlihat aktif menyimak dan berebutan untuk melayangkan pertanyaan yang bermuara dialog panjang. Di penghujung ceritanya tadi, Pak Ali menyampaikan pesan yang menjadi inti dari perjalanan hidupnya sekaligus warisan pemikiran yang ingin ia tularkan kepada generasi muda, “Kita harus berani merantau, menulis, dan membaca,” Menurutnya, tiga hal sederhana ini merantau, menulis, dan membaca adalah kunci yang telah membuka banyak pintu dalam hidupnya. Merantau mengajarkannya tentang dunia dan keberanian, menulis membuatnya diingat dan dikenang, sementara membaca membentuk cara pandangnya terhadap kehidupan. “Merantau membuat saya berani keluar dari kampung, dari zona nyaman. Menulis membuat saya bisa merekam hidup saya, dan membaca membuat saya mengerti hidup orang lain,” jelasnya. Pak Ali berharap agar generasi muda Aceh, khususnya peserta yang hadir hari itu, tidak ragu untuk bermimpi besar, dan menjelajah dunia.

Alijullah Hasan Yusuf Hadiri Syarah Budaya di Sigli, Bagikan Kisah Perjalanan Hidup ke Eropa

July 23, 2025
Wali Nanggroe Malik Mahmud Temui Mendagri, Bahas Dana Otsus hingga Penguatan PAD.

Wali Nanggroe Malik Mahmud Temui Mendagri, Bahas Dana Otsus hingga Penguatan PAD

July 13, 2025

Dinas ESDM Aceh: Gerakan Tanah di Ketol dan Aceh Tengah Masih Aktif, Masyarakat Diminta Waspada

January 28, 2026

Popular Stories

  • Pemerintah Aceh Siapkan Rp10 Miliar Bantuan Pendidikan bagi Mahasiswa Korban Bencana Hidrometeorologi, Baca Persyaratannya

    Pemerintah Aceh Siapkan Rp10 Miliar Bantuan Pendidikan bagi Mahasiswa Korban Bencana Hidrometeorologi, Baca Persyaratannya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prabowo Segera Bentuk Tim Reformasi Polri, Bentuk Juga Komisi Investigasi Insiden Agustus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gaji PPPK Aceh Macet Hampir 4 Bulan, Ribuan ASN Hidup dengan Utang Karena APBA-P Tak Kunjung Jelas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kritik Kosong tentang Ulama Dayah Adalah Opini yang Tak Perlu Ditulis

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tak Kunjung Dapat Kerja di Aceh, Hendra Nekat Merantau ke Australia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dataset
  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • TINJAUAN.ID
  • Pedoman Media Siber
Email: redaksi@tinjauan.id

© 2025 Tinjauan.ID - Strategis dan Mencerahkan!

No Result
View All Result
  • TINJAUAN.ID
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Dunia
  • Ekonomi
  • Politik
  • Opini
  • Sejarah
  • Editorial
  • Pojok Ekraf

© 2025 Tinjauan.ID - Strategis dan Mencerahkan!