Turkiye telah memberikan akses untuk produk teknologi militer mereka. Hal ini sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto yang menginginkan Indonesia memiliki basis industri pertahanan mandiri.
Tinjauan.id – Kunjungan serentak Menteri Luar Negeri Sugiono dan Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin ke Ankara, Turkiye, baru-baru ini bukan sekadar kunjungan diplomatik rutin. Di tengah pergeseran peta kekuatan global, pertemuan dengan Menlu Hakan Fidan dan Menhan Yaşar Güler ini menandakan bahwa Indonesia tengah mengunci jangkar strategisnya di titik temu Asia dan Eropa.
Pertanyaannya, seberapa dalam hubungan ini benar-benar terjalin, dan mengapa Turkiye menjadi pilihan utama bagi Jakarta?
Transformasi Kerjasama Industri Pertahanan
Selama dekade terakhir, kerja sama pertahanan RI-Turkiye telah berevolusi dari transaksi jual-beli menjadi aliansi teknologi yang intim. Indonesia tidak lagi hanya puas dengan label “Made in Turkiye“, melainkan bergerak menuju “Co-produced by Indonesia”.
Data menunjukkan portofolio alutsista Turkiye di Indonesia telah mencakup tiga matra utama, darat, laut dan udara. Keberhasilan Tank Medium Kaplan/Harimau (kerjasama PT Pindad dan FNSS) menjadi bukti nyata transfer teknologi (ToT) yang sukses. Indonesia kini memiliki kemampuan memproduksi tank kelas dunia di dalam negeri. Ini memperkuat angkatan darat Indonesia.
Pengadaan drone ANKA senilai USD 300 juta (sekitar Rp 4,5 triliun) bukan hanya soal unit, tapi mencakup pelatihan dan integrasi sistem. Kini, pembicaraan beralih ke jet tempur generasi kelima KAAN, di mana Indonesia melirik potensi menjadi mitra dalam program kedirgantaraan tercanggih Turkiye. Ini menjadi potensi besar bagi pengembangan angkatan udara Indonesia.
Pembelian sistem rudal balistik taktis KHAN dari Roketsan menandai pertama kalinya Indonesia memiliki kemampuan rudal jarak jauh dengan presisi tinggi, sebuah lompatan drastis bagi daya deteren regional.Teknologi rudal ini bisa diadaptasikan pada kekuatan angkatan laut RI.
Turkiye: Game Changer Industri Pertahanan Global
Para ahli militer global menyebut Turkiye sebagai the rising sun dalam industri pertahanan. Berbeda dengan negara NATO lainnya yang sering memberikan prasyarat politik rumit, Turkiye menawarkan fleksibilitas yang luar biasa.
Posisi Turkiye kini sangat kuat karena produk mereka bersifat combat-proven (teruji di medan perang), seperti yang terlihat pada efektivitas drone Bayraktar di berbagai konflik modern. Bagi Indonesia, bekerja sama dengan Turkiye berarti mendapatkan teknologi standar NATO tanpa ancaman embargo atau batasan penggunaan yang sering diterapkan oleh negara-negara Barat.
Kerjasama Ekonomi: Mengejar Target USD 10 Miliar
Meski pertahanan menjadi “wajah” dari hubungan ini, urusan ekonomi tetap menjadi tulang punggung. Saat ini, kedua negara sedang mengakselerasi penyelesaian IT-CEPA (Indonesia-Turkiye Comprehensive Economic Partnership Agreement).
Berdasarkan data Ekonomi, volume perdagangan bilateral kedua negara saat ini berkisar di angka USD 2,5 – 3 miliar. Namun, dalam pertemuan di Ankara, kedua menteri menegaskan ambisi untuk menembus USD 10 miliar pada dekade ini.
Sektor Kunci kerjasama ekonomi kedua negara, selain ekspor sawit dan tekstil Indonesia, Turkiye mulai masuk ke sektor energi terbarukan dan konstruksi di Indonesia, termasuk ketertarikan pada proyek infrastruktur strategis di IKN.
Keuntungan Strategis dan Masa Depan
Bagi Indonesia, keuntungan bermitra dengan Turkiye adalah Kemandirian. Turkiye sangat royal dalam memberikan akses untuk produk teknologi mereka. Ini sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto yang menginginkan Indonesia memiliki basis industri pertahanan mandiri.
Secara geopolitik, Jakarta dan Ankara berbagi identitas sebagai Middle Powers yang berpengaruh di dunia Islam dan organisasi internasional seperti G20. Keduanya memiliki kepentingan untuk menjaga stabilitas kawasan tanpa harus memihak sepenuhnya pada polaritas AS atau China.
Masa depan kerja sama ini akan ditentukan oleh seberapa cepat birokrasi kedua negara meresmikan IT-CEPA dan seberapa konsisten implementasi joint production alutsista dilakukan. Kunjungan Menlu Sugiono dan Menhan Sjafrie adalah sinyal kuat bahwa Indonesia melihat Turkiye bukan sekadar penjual senjata, melainkan rekan setara dalam membangun kedaulatan di abad ke-21.













Discussion about this post