BIREUEN– Komunitas Baca Bireuen kembali menggelar diskusi literasi sejarah sebagai bagian dari komitmen merawat ingatan kolektif masyarakat terhadap tokoh-tokoh besar Aceh. Mengangkat tema “Mengenang Habib Bugak dan Warisannya untuk Bangsa Aceh”, Sabtu, 25 Juli 2026.
Kegiatan yang berlangsung di Harvies Coffee, Bireuen, ini menghadirkan berbagai pandangan mengenai sosok ulama dan dermawan yang telah meninggalkan jejak panjang bagi masyarakat Aceh.
Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ruang berbagi pengetahuan, tetapi juga menjadi wadah untuk membangun kesadaran bahwa sejarah merupakan bagian penting dalam membentuk jati diri sebuah bangsa.
Melalui diskusi yang berlangsung secara terbuka, peserta diajak memahami bahwa keteladanan para tokoh masa lalu masih sangat relevan untuk menjawab tantangan masa kini.
Pemantik diskusi, Qafrawi Rienza, menegaskan bahwa pembahasan mengenai sejarah lokal harus terus dihidupkan agar tidak tergerus oleh waktu.
“Sejarah tidak boleh hilang dari telinga masyarakat, terutama generasi-generasi muda. Melalui forum seperti ini, kita berharap nilai perjuangan dan keteladanan para tokoh dapat terus diwariskan,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, peserta mendiskusikan sosok Habib Bugak Al-Asyi, ulama asal Aceh yang dikenal luas melalui wakaf Baitul Asyi (Rumah Aceh) di Makkah.
Wakaf tersebut menjadi salah satu warisan paling berharga bagi masyarakat Aceh karena hingga kini terus memberikan manfaat kepada jamaah haji asal Aceh yang berada di Tanah Suci.
Habib Bugak diperkirakan hidup pada rentang abad ke-18 hingga ke-19. Pada abad ke-19, beliau mewakafkan hartanya senilai sekitar 2.000 riyal untuk kepentingan masyarakat Aceh. Seiring berjalannya waktu, wakaf tersebut berkembang menjadi aset yang manfaatnya terus dirasakan oleh masyarakat Aceh hingga hari ini.
Diskusi berlangsung dalam suasana hangat, kritis, dan penuh semangat. Berbagai referensi, sudut pandang, serta hasil kajian mengenai Habib Bugak disampaikan oleh para peserta. Jalannya diskusi yang begitu alot hingga selesai menunjukkan besarnya perhatian peserta terhadap sejarah Aceh sekaligus pentingnya ruang-ruang literasi untuk terus dipelihara.
Sementara itu, PIC Manuskrip Komunitas Baca Bireuen, Rizki Wahyudi, menjelaskan bahwa dalam berbagai kajian sejarah terdapat beberapa penyebutan mengenai nama Habib Bugak. Sebagian peneliti menulisnya sebagai Habib Bugak, sementara sebagian lainnya menggunakan penyebutan Habib Buja’.
“Perbedaan penyebutan tersebut merupakan bagian dari kekayaan khazanah pengetahuan yang kita miliki. Beragam tafsir para peneliti itu sama sekali tidak mengurangi kebesaran sosok pewakaf Baitul Asyi sebagai seorang ulama yang alim, dermawan, dan visioner,” ujar Rizki.
Yang paling penting bukan semata-mata bagaimana kita menyebut namanya, melainkan bagaimana kita mampu meneladani cara berpikir beliau. Pewakaf Baitul Asyi telah membuktikan bahwa seseorang mampu melampaui zamannya dengan memikirkan masa depan masyarakat melalui sebuah wakaf yang manfaatnya terus mengalir hingga hari ini. Inilah semangat yang harus kita wariskan kepada generasi Aceh.
“Sudah saatnya kita melahirkan anak-anak muda yang berani bermimpi besar, berpikir jauh ke depan, ikhlas mengabdi, dan meninggalkan karya yang manfaatnya terus hidup untuk masyarakat, sebagaimana dicontohkan oleh pewakaf Baitul Asyi,” tegasnya.
Ketua Komunitas Baca Bireuen, Ema Yuliana, mengatakan bahwa diskusi sejarah dan literasi akan terus menjadi agenda yang dipertahankan oleh komunitas sebagai bentuk kepedulian terhadap pelestarian sejarah Aceh sekaligus penguatan budaya membaca di tengah masyarakat.
Menurutnya, sosok Habib Bugak Al-Asyi tidak hanya layak dikenang karena wakafnya yang masih memberi manfaat hingga kini, tetapi juga karena keteladanan hidupnya yang sarat dengan nilai keikhlasan, pengabdian, dan visi jauh ke depan.
“Kami ingin diskusi seperti ini terus berlangsung sehingga masyarakat, terutama generasi muda, semakin akrab dengan sejarah Aceh dan tokoh-tokoh besarnya. Habib Bugak Al-Asyi mengajarkan bahwa satu perbuatan baik yang dilandasi keikhlasan dapat memberi manfaat lintas abad. Semangat seperti inilah yang harus kita wariskan.
Kami berharap dari ruang-ruang literasi ini akan lahir generasi Aceh yang gemar membaca, berpikir kritis, mencintai sejarahnya, serta mampu melahirkan karya dan pengabdian yang bermanfaat bagi bangsa dan daerah,” tutupnya. (*)










Discussion about this post