Strategis dan Mencerahkan!
No Result
View All Result
  • TINJAUAN.ID
  • News
  • Global
  • Politik
    • Nasional
    • Regional
    • Daerah
  • Ekonomi
  • Opini
  • Sejarah
  • Liputan Khusus
  • Editorial
  • Pojok Ekraf
  • TINJAUAN.ID
  • News
  • Global
  • Politik
    • Nasional
    • Regional
    • Daerah
  • Ekonomi
  • Opini
  • Sejarah
  • Liputan Khusus
  • Editorial
  • Pojok Ekraf
No Result
View All Result
Strategis dan Mencerahkan!
No Result
View All Result
Home Pojok Ekraf

Bili Droe, Warisan Indatu yang Menjadi Sumber Ekonomi Kreatif Perempuan Lampanah

TINJAUAN ID by TINJAUAN ID
November 11, 2025
Reading Time: 2 mins read
0
Bili Droe, Warisan Indatu yang Menjadi Sumber Ekonomi Kreatif Perempuan Lampanah

Ulfa Fitria (37), pemilik UMKM Bili Droe, menunjukkan hasil anyaman bili buatan tangan ibu-ibu di Desa Lampanah, Kecamatan Indrapuri, Aceh Besar.

Dari tangan-tangan terampil ibu-ibu di Desa Lampanah, Kecamatan Indrapuri, Aceh Besar, lahir produk ekonomi kreatif bernama Bili Droe. 

Aceh Besar – Dari tangan-tangan terampil ibu-ibu di Desa Lampanah, Kecamatan Indrapuri, Aceh Besar, lahir produk ekonomi kreatif bernama Bili Droe.

Usaha kecil yang dikelola Ulfa Fitria (37) ini sukses mengubah anyaman tradisional berbahan tumbuhan bili atau bemban menjadi produk khas Aceh yang kini dilirik pasar nasional hingga internasional.

“Ini semua buatan tangan ibu-ibu di Lampanah,” kata Ulfa, pemilik UMKM Bili Droe, saat ditemui di Banda Aceh. Kamis (7/11/2025).

Bulan ini menjadi masa paling sibuk bagi Ulfa. Pesanan datang bersamaan dengan jadwal pameran. Ia harus pintar membagi waktu antara mengurus pameran dan mengontrol produksi agar pesanan pelanggan tetap terpenuhi.

Beragam produk Bili Droe berbahan dasar tumbuhan bili atau bemban Lampanah menghadirkan warisan tradisional Aceh menjadi karya bernilai ekonomi.

Cerita Bili Droe bermula dari kebiasaan masyarakat Lampanah sejak 1980-an. Saat itu, bili atau bemban hanya dianyam untuk kebutuhan rumah tangga, seperti tutup saji atau wadah jemur ikan.

Ulfa sendiri adalah generasi keenam perajin yang mewarisi keterampilan itu dari ibunya, pengelola kelompok Tunas Karya.

“Dulu hasil anyaman hanya untuk dipakai sendiri, tidak terpikir untuk dijual. Kalau pun dijual, pembelinya paling lewat cerita dari mulut ke mulut,” kenang Ulfa.

Tahun 2016 menjadi titik awal perubahan. Ulfa memberi nama baru pada kelompok anyaman itu: Bili Droe, yang berarti bili kita dalam bahasa Aceh. Dengan nama itu, ia ingin menjadikan anyaman bili bukan sekadar kerajinan rumah tangga, tapi juga identitas dan sumber ekonomi warga.

Awalnya, pemasaran menjadi tantangan besar. Produk tradisional sulit bersaing dengan barang pabrikan yang lebih murah. “Kadang barang sudah jadi, tapi pembeli tidak ada,” ujarnya.

Namun kini, situasinya berbalik. Permintaan terhadap produk Bili Droe terus meningkat. Tahun 2025 ini, produksi berbagai jenis kerajinan bili mencapai rata-rata 200 produk per bulan, naik dari tahun sebelumnya yang hanya sekitar 140 produk per bulan.

Bahan utama bili, yang dulunya tumbuh liar di hutan, kini mulai dibudidayakan warga. Batang bili disayat memanjang, dan bagian kulit luarnya yang hijau dijadikan bahan anyaman.

Dari bahan sederhana itu, lahirlah berbagai produk kreatif seperti tas, dompet, keranjang, vas bunga, hingga tempat tisu.

“Tumbuhan bili ini tumbuh hampir di setiap hutan atau perbukitan di Indrapuri dan sekitarnya.

Batangnya disayat dan dijemur, setelah kering baru dianyam,” jelas Ulfa.

Produk Bili Droe tak hanya mengusung nilai tradisional, tapi juga ramah lingkungan. Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap isu pemanasan global, produk alami seperti bili semakin diminati

“Tanaman bili bisa dibudidayakan, jadi tidak merusak alam. Sekarang banyak yang cari produk ramah lingkungan,” katanya.

Selain berkontribusi pada pelestarian budaya, Bili Droe juga memberi dampak ekonomi bagi warga sekitar. Puluhan perempuan di Lampanah kini ikut terlibat sebagai penganyam, mendapatkan penghasilan tambahan dari hasil penjualan.

“Saya bersyukur, usaha ini tidak hanya membantu keluarga saya, tapi juga membuka lapangan kerja bagi ibu-ibu di sekitar,” ujar Ulfa.

Dia mengatakan setiap helai anyaman punya cerita. “Ini bukan cuma soal kerajinan, tapi juga tentang menjaga warisan indatu (leluhur) dan memberi makna baru lewat karya,” tutup Ulfa.

Kini, Bili Droe tak sekadar nama merek. Ia menjadi simbol perempuan Lampanah yang berdaya lewat warisan tradisi membuktikan bahwa dari anyaman sederhana, bisa lahir karya besar yang membawa Aceh ke pentas dunia. (*)

Tags: Aceh Besarekonomi kreatifkriya
ShareTweetSendShare

Related Posts

Tingkatkan Kapasitas Wirusahawan Digital, Diskop UKM Aceh Gelar Pelatihan Go Digital
Daerah

Tingkatkan Kapasitas Wirusahawan Digital, Diskop UKM Aceh Gelar Pelatihan Go Digital

May 10, 2026
Stafsus Menekraf Rian Syaf Beri Pemaparan di Lemhanas Perihal Ekonomi Kreatif
Nasional

Stafsus Menekraf Rian Syaf Beri Pemaparan di Lemhanas Perihal Ekonomi Kreatif

May 5, 2026
Bersama Studiosa, Nazar Apache Lahirkan 350 Karya Musik dan Orbit Lebih 20 Musisi Aceh
Daerah

Bersama Studiosa, Nazar Apache Lahirkan 350 Karya Musik dan Orbit Lebih 20 Musisi Aceh

April 13, 2026
Tanggapi Kasus Amsal, Kementerian Ekonomi Kreatif Siapkan Pedoman Biaya Jasa Kreatif
News

Tanggapi Kasus Amsal, Kementerian Ekonomi Kreatif Siapkan Pedoman Biaya Jasa Kreatif

April 1, 2026
Miswar Ibrahim Njong Ditunjuk sebagai Koordinator ICCN Aceh, Siap Perkuat Ekosistem Kota Kreatif
Pojok Ekraf

Miswar Ibrahim Njong Ditunjuk sebagai Koordinator ICCN Aceh, Siap Perkuat Ekosistem Kota Kreatif

February 16, 2026
Menteri Ekraf Tegaskan Peran Perempuan Perkuat Daya Saing Kriya Nasional di INACRAFT 2026
Nasional

Menteri Ekraf Tegaskan Peran Perempuan Perkuat Daya Saing Kriya Nasional di INACRAFT 2026

February 4, 2026
Next Post
Bertemu Menteri Amran, Bupati Aceh Besar Fokus Perkuat Sektor Pertanian

Bertemu Menteri Amran, Bupati Aceh Besar Fokus Perkuat Sektor Pertanian

Fokus Kembangkan Peternakan, Bupati Aceh Besar Kunjungi Balai Embrio Ternak Cipelang

Fokus Kembangkan Peternakan, Bupati Aceh Besar Kunjungi Balai Embrio Ternak Cipelang

Discussion about this post

Recommended Stories

GMPK Aceh kecam Pemko Banda Aceh amburadul kelola anggaran

July 4, 2023
Kunjungi BPKP, Syech Muharram Ingin Perkuat Pengawasan Pembangunan di Aceh Besar

Kunjungi BPKP, Syech Muharram Ingin Perkuat Pengawasan Pembangunan di Aceh Besar

September 15, 2025
Ekonomi Kreatif Melesat, Kementerian Ekraf Raih Anugerah Penggerak Nusantara 2025

Ekonomi Kreatif Melesat, Kementerian Ekraf Raih Anugerah Penggerak Nusantara 2025

November 21, 2025

Popular Stories

  • Pemerintah Aceh Siapkan Rp10 Miliar Bantuan Pendidikan bagi Mahasiswa Korban Bencana Hidrometeorologi, Baca Persyaratannya

    Pemerintah Aceh Siapkan Rp10 Miliar Bantuan Pendidikan bagi Mahasiswa Korban Bencana Hidrometeorologi, Baca Persyaratannya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prabowo Segera Bentuk Tim Reformasi Polri, Bentuk Juga Komisi Investigasi Insiden Agustus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gaji PPPK Aceh Macet Hampir 4 Bulan, Ribuan ASN Hidup dengan Utang Karena APBA-P Tak Kunjung Jelas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kritik Kosong tentang Ulama Dayah Adalah Opini yang Tak Perlu Ditulis

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tak Kunjung Dapat Kerja di Aceh, Hendra Nekat Merantau ke Australia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dataset
  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • TINJAUAN.ID
  • Pedoman Media Siber
Email: redaksi@tinjauan.id

© 2025 Tinjauan.ID - Strategis dan Mencerahkan!

No Result
View All Result
  • TINJAUAN.ID
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Dunia
  • Ekonomi
  • Politik
  • Opini
  • Sejarah
  • Editorial
  • Pojok Ekraf

© 2025 Tinjauan.ID - Strategis dan Mencerahkan!