SIGLI — Kondisi kesehatan masyarakat terkait penyebaran HIV/AIDS kembali menjadi sorotan di Kabupaten Pidie. Dalam khutbah Jumat di Masjid Al-Falah Sigli, Ustadz Amri Fatmi menyinggung fenomena LGBT dan mengaitkannya dengan data kasus HIV/AIDS yang tercatat di daerah tersebut.
“Data Dinas Kesehatan Kabupaten Pidie mencatat terdapat 132 kasus HIV/AIDS yang telah terdeteksi atau dilaporkan” ujar Ustadz Amri Fatmi dalam khutbahnya, Sigli, Jumat, 31 Juli 2026.
Angka tersebut sejalan dengan data resmi Dinas Kesehatan Kabupaten Pidie yang dipaparkan dalam kegiatan penguatan Forum Kemitraan Penanggulangan AIDS, Tuberkulosis, dan Malaria (ATM) di Aula DeHa Cafe Sigli, Kamis, 30 Juli 2026. Berdasarkan data tersebut, hingga Juni 2026 tercatat 132 kasus HIV/AIDS
Ustadz Amri Fatmi mengingatkan, angka 132 kasus itu hanya mencerminkan kasus yang sudah diketahui tenaga kesehatan atau yang telah dilaporkan. Ia menduga masih ada warga yang belum menjalani pemeriksaan, belum terdeteksi, atau enggan melapor karena stigma dan rasa takut.
Persoalan ini dinilai tidak boleh dipandang sebelah mata. Menurut Ustadz Amri Fatmi, dibutuhkan edukasi yang benar, kepedulian keluarga, akses terhadap pelayanan kesehatan, serta kesadaran masyarakat untuk melakukan pencegahan dan pemeriksaan secara dini.
“Semakin cepat suatu kasus diketahui dan ditangani, semakin besar pula peluang untuk mencegah penularan dan meningkatkan kualitas hidup orang yang mengalaminya,” pesannya.
Ustadz Amri juga mengaitkan perilaku pencegahan LGBT dengan menjaga adab kesopanan dalam berpakaian dengan memastikan menutup aurat. Salah satu yang ditekankan adalah aurat laki-laki juga harus diperhatikan dengan menghindari pemakaian celana pendek di kalangan laki-laki, terlebih remaja. Hal tersebut dapat mengundang niat buruk bagi pria dengan kecenderungan seksual menyimpang.
“Jangan hanya perempuan yang diingatkan untuk tidak memakai pakaian ketat. Laki-laki juga harus berhati-hati. Hari ini, ada laki-laki yang tertarik kepada sesama jenis dan memandang laki-laki berpakaian ketat dengan syahwat yang lebih besar daripada laki-laki memandang perempuan,” ungkapnya.
Data HIV/AIDS di Kota/Kabupaten Lain di Aceh
Persoalan serupa juga terjadi di sejumlah daerah lain di Aceh. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Aceh dan sejumlah laporan media, tren peningkatan kasus terlihat di beberapa wilayah.
Di Banda Aceh, Wakil Ketua DPRK Banda Aceh, Musriadi, mengungkapkan bahwa data Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh mencatat 541 kasus HIV/AIDS per April 2025, dengan dominasi kasus pada kelompok laki-laki berhubungan sesama laki-laki (LSL).
Secara provinsi, jumlah kasus yang diterima dari Dinas Kesehatan Aceh hingga 2025 tercatat 1.735 kasus dan terus meningkat setiap bulan. Di Aceh Utara, 34 kasus baru sepanjang 2024. Kota Langsa, 30 kasus baru sepanjang 2024. Kota Lhokseumawe, 26 kasus baru sepanjang 2024. Bireuen, 23 kasus baru sepanjang 2024. Pidie, Aceh Barat, dan Aceh Tenggara, masing-masing 15 kasus baru sepanjang 2024.
Secara keseluruhan, Dinas Kesehatan Aceh mencatat 348 orang telah dinyatakan positif mengidap HIV sepanjang 2024 dari 109.645 orang yang menjalani pemeriksaan di seluruh Aceh.
Sementara itu, Kepala Bidang P2P Dinas Kesehatan Provinsi Aceh, dr. Iman Murahman, mengungkapkan bahwa dari 2004 hingga 2025 tercatat 132 kasus HIV pada kelompok usia 11–20 tahun, dengan 32 kasus baru terjadi sepanjang 2025 saja, tren yang disebutnya mengkhawatirkan di kalangan remaja.
Ajakan Bersama
Sejumlah pihak, baik dari kalangan pemerintah maupun tokoh agama, mengajak masyarakat untuk tidak menstigma penderita, melainkan mendorong deteksi dini melalui layanan tes HIV yang tersedia gratis di puskesmas dan rumah sakit.
Sekretaris Daerah Pidie, Samsul Azhar, menekankan bahwa penanggulangan HIV/AIDS, TBC, dan malaria membutuhkan komitmen bersama lintas sektor. Mulai dari pemerintah, dunia usaha, akademisi, tokoh agama, organisasi masyarakat, hingga pemerintah gampong.[MS/JS]










Discussion about this post