BANDA ACEH— Sebanyak 12 seniman Aceh dari sejumlah kabupaten/kota di Aceh mengikuti lokakarya penciptaan seni Tulak Angen yang diselenggarakan oleh Labs Aceh Rakitan di Banda Aceh, Minggu, 17 Mei 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari pelaksanaan program Hibah Dana Indonesiana 2025 kategori Penciptaan Karya Kreatif Inovatif.
Lokakarya tersebut menjadi tahap awal dalam rangkaian program “Menghidupkan Kembali Seni Timur di Aceh: Penciptaan & Penerapan Seni Tulak Angen pada Rumah Warga.” Dalam program ini, para seniman tidak hanya mendapatkan pembekalan mengenai sejarah, konsep, nilai budaya, dan karakter visual Tulak Angen, tetapi juga diarahkan untuk merancang karya yang nantinya dapat diterapkan pada ruang kehidupan masyarakat.
Sebanyak 12 seniman peserta akan mengembangkan rancang visual seni Tulak Angen berdasarkan hasil pembekalan dan eksplorasi kreatif selama lokakarya. Karya-karya tersebut selanjutnya akan ditempatkan atau diadopsi pada rumah-rumah warga yang berada di Kabupaten Aceh Besar dan Kota Banda Aceh.
Dengan demikian, program ini tidak berhenti pada penciptaan karya sebagai objek seni, tetapi berupaya membawa kembali seni tradisi ke dalam lingkungan kehidupan masyarakat. Tulak Angen ditempatkan sebagai bagian dari pengalaman visual dan budaya rumah, sekaligus sebagai medium untuk mempertemukan tradisi, kreativitas seniman, dan kebutuhan masyarakat kontemporer.
Lokakarya menghadirkan sejumlah narasumber dari latar belakang keilmuan yang berbeda. Dr. Dedy Afriadi, S.Sn., M.Sn., peneliti arsitektur dan seni ornamen Aceh, memberikan materi mengenai arsitektur, ornamen, serta konteks visual tradisi Aceh.
Sejarawan dan pakar epigrafi artefak Islam Asia Tenggara Tgk. Taqiyuddin Muhammad, Lc., memberikan perspektif mengenai sejarah dan jejak visual Islam yang menjadi bagian penting dalam perkembangan seni dan budaya Aceh.
Perspektif seni sastra dan kuratorial disampaikan oleh Muhyi Atsarissalaf, M.A., peneliti seni sastra sekaligus kurator seni rupa Aceh. Adapun aspek seni rupa dan pengembangan praktik penciptaan karya diperkuat melalui materi dari Indra Setiawan, S.Sn., M.Sn., akademisi seni rupa dari ISBI Aceh.
Sementara Yulfa Haris Saputra, Spd, M.Sn., dan Dr. Iskandar, S.Sn., M.Sn., memaparkar materi pengaplikasian dan praktik seni Tulak Angen dari produksi awal hingga finishing.
Keberagaman latar belakang narasumber tersebut menjadi bagian penting dari lokakarya. Seni Tulak Angen tidak hanya dipahami sebagai persoalan bentuk dan ornamen, tetapi juga dibaca melalui hubungan antara sejarah, arsitektur, sastra, seni rupa, nilai Islam, dan praktiknya dalam kehidupan masyarakat Aceh.
Koordinator pelaksana kegiatan, Iskandar Tungang, mengatakan bahwa lokakarya ini merupakan bentuk penguatan kapasitas seniman, terutama dalam memahami hubungan antara konsep penciptaan dan kemampuan teknis.
“Lokakarya ini merupakan bentuk penguatan seniman, baik dari segi materi konsep maupun teknis. Kami ingin seniman tidak hanya mampu menghasilkan karya secara visual, tetapi juga memahami akar tradisi yang menjadi sumber penciptaannya,” ujar Iskandar.
Menurutnya, penciptaan seni yang berangkat dari tradisi perlu ditempatkan dalam konteks kebutuhan masyarakat. Tradisi tidak cukup hanya dipelajari atau direproduksi secara bentuk, tetapi perlu ditafsirkan kembali agar dapat hidup dalam konteks zaman.
“Tujuannya adalah melahirkan seniman yang berkarya dengan akar tradisi dan kebutuhan masyarakat. Karena itu, karya yang dihasilkan dalam program ini nantinya tidak hanya berada di ruang pamer, tetapi akan bertemu langsung dengan rumah dan kehidupan warga,” katanya.
Program tersebut sekaligus menjadi upaya untuk memperluas pemahaman mengenai seni Tulak Angen sebagai salah satu kekayaan visual Aceh. Melalui keterlibatan seniman dari berbagai daerah, diharapkan terjadi pertukaran pengetahuan dan pengalaman yang dapat memperkaya proses penciptaan.
Tahap berikutnya adalah proses perancangan dan penciptaan karya oleh para seniman peserta. Rancangan tersebut kemudian akan dikembangkan untuk diterapkan pada rumah warga di Aceh Besar dan Banda Aceh, sehingga Tulak Angen tidak sekadar menjadi ingatan tentang masa lalu, melainkan kembali hadir sebagai bagian dari lingkungan visual masyarakat Aceh hari ini.












Discussion about this post