BANDA ACEH — Budayawan Iskandar Tungang menilai tantangan utama Aceh, khsususnya pemuda Aceh saat ini adalah hilangnya pemahaman bahwa kebudayaan merupakan sesuatu yang dinamis dan terus bergerak mengikuti perkembangan zaman. Ketidakpahaman tersebut, menurutnya, turut memengaruhi cara generasi tua memandang dan memperlakukan generasi muda.
Ia menilai sebagian generasi tua justru tidak memahami secara utuh kebudayaan masa lalu, tetapi pada saat yang sama menunjukkan sikap ketakutan terhadap kebudayaan kontemporer.
“Ketidakpahaman akan itu terlihat jelas pada generasi tua. Mereka sebenarnya juga tidak paham budaya lama itu bagaimana dan cenderung tidak paham serta menjadi pribadi yang fobia pada budaya kontemporer,” ujar Iskandar.
Menurutnya, persoalan tersebut terlihat dari cara generasi tua menilai generasi muda, termasuk kecenderungan membangun ketakutan dan ketidakpercayaan terhadap kemampuan anak muda dalam menghadapi perubahan.
Iskandar mengkhawatirkan sikap tersebut dapat menghambat kesempatan generasi muda untuk mengambil peran dalam pembangunan Aceh. Padahal, masa depan daerah membutuhkan keberanian, kapasitas, dan keterbukaan terhadap perubahan.
Ia menegaskan, generasi muda seharusnya diberikan kepercayaan untuk menentukan cara menghadapi tantangan zamannya sendiri. Sebab, mereka memiliki pengalaman langsung terhadap perubahan yang sedang berlangsung dan akan menanggung konsekuensi dari keputusan hari ini dalam waktu yang lebih panjang.
“Pengetahuan dan pengalaman generasi tua tetap penting, tetapi tidak boleh menjadi alasan untuk memonopoli pengambilan keputusan. Masa depan tidak bisa terus-menerus ditentukan oleh mereka yang pengalaman hidupnya terutama dibentuk oleh masa lalu,” katanya.
Pemuda di Garis Depan Perubahan
Iskandar menyebut pemuda sebagai kelompok yang paling mampu menghadapi berbagai tantangan zaman saat ini. Hal tersebut, menurutnya, dapat dilihat dari peran generasi muda dalam penguasaan teknologi, respons terhadap bencana, hingga kemampuan membaca perkembangan dunia secara kritis.
Ia menilai generasi muda tidak hanya memiliki kemampuan untuk beradaptasi, tetapi juga mempunyai pengalaman langsung dalam menghadapi perubahan yang semakin cepat.
Namun, Iskandar mengingatkan bahwa kemampuan tersebut harus dibangun di atas fondasi nilai yang kuat.
Menurutnya, pemuda tidak cukup hanya hadir dan menjalani perubahan zaman. Mereka harus mampu memahami serta mengalami perkembangan dunia dengan kesadaran penuh sebagai manusia yang memiliki nilai ketuhanan dan kebudayaan.
“Dalam dunia yang semakin gila-gilaan ini, pemuda kita harus terikat pada fondasi yang kuat. Kita tidak boleh hanya hadir saja menjalani dunia yang demikian, tetapi harus benar-benar mengalaminya,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya kesadaran bahwa manusia merupakan makhluk Tuhan yang berkebudayaan. Dengan demikian, kemajuan teknologi dan perubahan sosial harus dihadapi dengan kesadaran moral serta tanggung jawab.
Nilai Islam sebagai Fondasi Regenerasi
Terkait nilai-nilai yang perlu dipegang generasi muda Aceh, Iskandar menegaskan bahwa Islam harus menjadi fondasi moral, intelektual, dan spiritual dalam menghadapi perubahan.
Nilai-nilai keislaman tersebut, menurutnya, perlu diwujudkan melalui keadilan, amanah, pencarian ilmu, keberanian berpikir, serta tanggung jawab sosial.
Ia juga mengingatkan bahwa generasi muda harus tetap kritis terhadap warisan generasi sebelumnya. Regenerasi tidak boleh berhenti pada pergantian orang, tetapi harus disertai perubahan pola pikir dan perilaku yang lebih baik.
“Jangan sampai regenerasi hanya mengganti orang-orangnya, tetapi tetap mewarisi pola pikir dan perilaku yang keliru,” katanya.
Iskandar menilai kebudayaan tidak seharusnya diwariskan secara pasif tanpa pertimbangan. Sebaliknya, setiap generasi perlu memahami, mengkritisi, dan mengembangkan warisan kebudayaan agar tetap relevan dengan tantangan zaman.
Ia menegaskan bahwa masa depan Aceh membutuhkan generasi muda yang memiliki kepercayaan diri, kapasitas intelektual, serta fondasi nilai yang kuat. Dengan memberikan ruang dan kepercayaan kepada pemuda, Aceh diharapkan mampu menghadapi perubahan tanpa kehilangan identitas kebudayaannya.
“Kebudayaan harus diwariskan dengan kesadaran, bukan sekadar diteruskan tanpa pertimbangan,” tutup Iskandar.











Discussion about this post