Strategis dan Mencerahkan!
No Result
View All Result
  • TINJAUAN.ID
  • News
  • Global
  • Politik
    • Nasional
    • Regional
    • Daerah
  • Ekonomi
  • Opini
  • Sejarah
  • Liputan Khusus
  • Editorial
  • Pojok Ekraf
  • TINJAUAN.ID
  • News
  • Global
  • Politik
    • Nasional
    • Regional
    • Daerah
  • Ekonomi
  • Opini
  • Sejarah
  • Liputan Khusus
  • Editorial
  • Pojok Ekraf
No Result
View All Result
Strategis dan Mencerahkan!
No Result
View All Result
Home News Daerah

Sebulan Mengungsi, Warga Pidie Jaya Penyintas Bencana Banjir Menanti Kepastian

TINJAUAN ID by TINJAUAN ID
December 27, 2025
Reading Time: 2 mins read
0
Sebulan Mengungsi, Warga Pidie Jaya Penyintas Bencana Banjir Menanti Kepastian

Para penyintas bencana banjir bandang Aceh di Pidie Jaya tak hanya kehilangan rumah, tetapi juga merasakan runtuhnya rasa aman. Para penyintas kini hidup dalam ketidakpastian.

Pidie Jaya – Malam itu, Rabu (26/12/2025) Nursiah tak pernah menyangka air akan datang secepat dan seganas itu. Hujan yang sejak sore mengguyur Meunasah Bie, Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya, tiba-tiba berubah menjadi teror.

Menjelang tengah malam, suara gemuruh memecah sunyi. Dalam hitungan menit, banjir bandang menerjang kampungnya.

“Air masuk deras sekali. Saya cuma sempat bangunkan anak-anak. Tidak ada yang bisa diselamatkan,” ujar Nursiah (45), matanya berkaca-kaca saat ditemui, Rabu (24/12/2025).

Rumah sederhana yang selama ini ia tempati bersama suami dan dua anaknya kini nyaris tenggelam. Lumpur dan material banjir menimbun bangunan hingga ketinggian hampir dua meter.

Dinding rumah tak lagi terlihat utuh, hanya atap yang masih menyembul, seolah menjadi saksi bisu kehidupan yang tertinggal di bawahnya.

Malam itu, Nursiah berlari dalam gelap. Ia menggandeng anak-anaknya, menembus air yang terus meninggi. Tak ada perabot, tak ada dokumen, tak ada pakaian yang sempat dibawa. Hanya tubuh yang basah, pakaian yang melekat di badan, dan doa agar anak-anaknya selamat.

Kini, sebulan pascabanjir bandang, Nursiah masih hidup berpindah-pindah. Ia menumpang di rumah saudara. Namun tempat itu bukan pengungsian yang layak. Ruang sempit, keterbatasan air bersih, dan rasa sungkan menumpang terlalu lama menjadi beban tersendiri.

“Data sudah diminta, katanya mau dibangun hunian sementara. Tapi sampai sekarang belum ada kepastian,” katanya lirih.

Suasana pengungsian di Gedung Serbaguna Tgk Chik Pante Geulima, Kabupaten Pidie Jaya, tempat para penyintas banjir bandang—termasuk perempuan dan anak-anak—bertahan hampir sebulan sambil menanti kepastian hunian sementara dan akses air bersih. Foto: tinjauan.id

Harapan Nursiah sederhana. Ia ingin segera dipindahkan ke hunian sementara agar anak-anaknya bisa hidup lebih layak. Ia juga berharap rumahnya yang kini terkubur lumpur dapat dibangun kembali.

“Kalau pun tidak bisa dibongkar semua, rumah itu ditinggikan saja. Saya bangun di atasnya. Yang penting ada tempat pulang,” ucapnya.

Krisis Air Bersih

Persoalan lain yang tak kalah mendesak adalah krisis air bersih. Sejak banjir bandang melanda, sumber air rusak, sumur tercemar lumpur, dan distribusi air bersih terbatas.

“Air bersih sangat susah. Untuk masak, mandi, apalagi anak-anak, susah sekali,” katanya.

Kondisi serupa juga dirasakan para penyintas lain yang kini bertahan di pengungsian Gedung Serbaguna Tgk Chik Pante Geulima, Kabupaten Pidie Jaya,  kawasan kompleks perkantoran Bupati Pidie Jaya.

Di salah satu sudut gedung, Roslina Gampong Manyangcut, Kecamatan Meureudu, duduk memeluk kedua anaknya.

Sudah hampir sebulan ia tinggal di sana. Kepastian tentang masa depan masih menggantung.

“Kami menunggu. Sampai kapan di pengungsian, belum tahu,” ucap Roslina pelan.

Bantuan logistik memang datang. Beras, mie instan, dan kebutuhan dasar relatif tersedia. Namun persoalan air bersih tak kunjung teratasi sepenuhnya. Bagi perempuan dan anak-anak, krisis ini terasa berlipat ganda.

“Air sering tidak cukup. Anak-anak butuh mandi, butuh bersih. Perempuan juga punya kebutuhan sendiri,” katanya.

Di pengungsian, air bersih bukan sekadar soal kenyamanan, melainkan soal kesehatan dan martabat. Anak-anak mulai mengalami keluhan kulit.

Rumahnya masih tenggelam lumpur tebal. Untuk membersihkannya, ia harus menyewa jasa alat dan tenaga. Biayanya tak main-main, mencapai hampir Rp10 juta. Jumlah yang mustahil ia penuhi dalam kondisi serba kehilangan.

“Katanya kalau mau bersihkan lumpur harus pakai alat, biayanya mahal. Bisa sampai sepuluh juta,” ujarnya.

Banjir bandang di Pidie Jaya tak hanya menenggelamkan rumah, tetapi juga meruntuhkan rasa aman. Para penyintas kini hidup dalam ketidakpastian, menunggu keputusan yang belum jelas arahnya.

Hunian sementara yang dijanjikan belum terwujud. Krisis air bersih masih membayangi hari-hari di pengungsian. Sementara perempuan dan anak-anak menjadi kelompok paling rentan menanggung dampaknya. [*]

Makin Tahu Indonesia

Tags: AcehBencana banjir SumateraMakin Tahu IndonesiaPidie Jaya
ShareTweetSendShare

Related Posts

Polemik JKA, Praktisi Hukum Nilai Publik Sedang Digiring pada Pemahaman Keliru
Daerah

Polemik JKA, Praktisi Hukum Nilai Publik Sedang Digiring pada Pemahaman Keliru

May 13, 2026
Rabithah Alumni MUDI Aceh Utara Resmi Dikukuhkan, Perkuat Khidmah Alumni untuk Guru dan Dayah
Daerah

Rabithah Alumni MUDI Aceh Utara Resmi Dikukuhkan, Perkuat Khidmah Alumni untuk Guru dan Dayah

May 11, 2026
PB HUDA Dukung Penuh Penegakan Hukum Maksimal Terhadap Terduga Pelaku Penistaan Agama
Daerah

PB HUDA Dukung Penuh Penegakan Hukum Maksimal Terhadap Terduga Pelaku Penistaan Agama

May 10, 2026
Ketua DPRA Usul Pergub JKA Dicabut, Jubir Pemerintah Aceh: Kita Hormati, Hal Itu Wajar Saja
Daerah

Pemerintah Aceh Bantah Kabar Pasien Rumah Sakit Diabaikan Akibat Pergub JKA

May 10, 2026
RSUDZA Layani 2.000 Pasien per Hari, Obat Diberikan, Administrasi Diurus 
Daerah

RSUDZA Layani 2.000 Pasien per Hari, Obat Diberikan, Administrasi Diurus 

May 10, 2026
Tingkatkan Kapasitas Wirusahawan Digital, Diskop UKM Aceh Gelar Pelatihan Go Digital
Daerah

Tingkatkan Kapasitas Wirusahawan Digital, Diskop UKM Aceh Gelar Pelatihan Go Digital

May 10, 2026
Next Post
ARAH Minta Pemerintah Aceh Segera Mencopot Kepala Badan Keuangan Aceh

ARAH Minta Pemerintah Aceh Segera Mencopot Kepala Badan Keuangan Aceh

Tahap Pertama, Sekda Aceh Lepas 3.000 ASN ke Lima Kabupaten Terdampak Bencana

Tahap Pertama, Sekda Aceh Lepas 3.000 ASN ke Lima Kabupaten Terdampak Bencana

Discussion about this post

Recommended Stories

Wagub Aceh Minta Percepatan Jadup, Pemulihan Ekonomi hingga Sapi Meugang saat Kunjungan Pimpinan MPR RI

Wagub Aceh Minta Percepatan Jadup, Pemulihan Ekonomi hingga Sapi Meugang saat Kunjungan Pimpinan MPR RI

February 10, 2026
Memoar Konflik Aceh hingga Damai: Lima Tahun "Terjebak" dalam Perang

Memoar Konflik Aceh hingga Damai: Lima Tahun “Terjebak” dalam Perang

August 16, 2025

Tu Sop Jeunieb Terpilih Kembali sebagai Ketua Umum PB HUDA Periode 2023-2028

December 3, 2023

Popular Stories

  • Pemerintah Aceh Siapkan Rp10 Miliar Bantuan Pendidikan bagi Mahasiswa Korban Bencana Hidrometeorologi, Baca Persyaratannya

    Pemerintah Aceh Siapkan Rp10 Miliar Bantuan Pendidikan bagi Mahasiswa Korban Bencana Hidrometeorologi, Baca Persyaratannya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prabowo Segera Bentuk Tim Reformasi Polri, Bentuk Juga Komisi Investigasi Insiden Agustus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gaji PPPK Aceh Macet Hampir 4 Bulan, Ribuan ASN Hidup dengan Utang Karena APBA-P Tak Kunjung Jelas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kritik Kosong tentang Ulama Dayah Adalah Opini yang Tak Perlu Ditulis

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tak Kunjung Dapat Kerja di Aceh, Hendra Nekat Merantau ke Australia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dataset
  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • TINJAUAN.ID
  • Pedoman Media Siber
Email: redaksi@tinjauan.id

© 2025 Tinjauan.ID - Strategis dan Mencerahkan!

No Result
View All Result
  • TINJAUAN.ID
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Dunia
  • Ekonomi
  • Politik
  • Opini
  • Sejarah
  • Editorial
  • Pojok Ekraf

© 2025 Tinjauan.ID - Strategis dan Mencerahkan!