Indonesia memasuki periode paling krusial dalam sejarah politiknya sejak Reformasi 1998. Menjelang Pilpres 2029 dan 2034, para tokoh yang selama seperempat abad terakhir mengendalikan pusaran utama kekuasaan: Megawati, SBY, Jokowi, Jusuf Kalla, Surya Paloh, hingga Prabowo Subianto, telah memasuki usia senja. Bagaimana skema transisi kekuasaan di Indonesia akan berlangsung sepeninggal mereka?
TINJAUAN.ID | ANALISIS – Sejumlah elit politik Indonesia yang bisa kita sebut sebagai jajaran super elit atau top elit, seperti Mantan Presiden Megawati Soekarnoputri, Mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi), Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla, Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh, termasuk Presiden Prabowo Subianto, telah berusia senja, berumur di atas 70 tahun.
Nama-nama yang kita sebut tadi berada di pusaran utama kekuasaan di Indonesia dan telah menciptakan trah politik yang dominan dalam konstelasi politik di Indonesia. Kecuali Jusuf Kalla yang pernah menjabat sebagai Ketua Umum Partai Golkar, semua nama yang disebutkan di atas adalah “pemilik” partai politik besar di Indonesia.
Dari nama-nama tersebut, hampir semuanya menyiapkan skema transisi kekuasaan kepada anak atau pewarisnya–fenomena yang memperkuat relevansi politik dinasti di Indonesia.
Megawati telah mengorbit putrinya Puan Maharani yang sekarang menduduki jabatan Ketua DPR-RI. Sementara putranya yang jarang tampil ke publik, Prananda Prabowo, punya kendali yang kuat atas PDI-P, partai bentukan Mega.
SBY di usia senjanya telah melakukan proses transisi kekuasaan dari dirinya kepada anaknya, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dengan cukup baik. Setelah penyerahan jabatan Ketua Umum Partai Demokrat kepada AHY, SBY telah memastikan kemenangan Prabowo, rekan sejawatnya di militer, dalam pemilihan presiden 2024. Prabowo kemudian mempercayakan AHY sebagai Menteri Koordinator Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan kepada AHY sebagai ganti atas dukungan SBY, AHY dan Partai Demokrat selaku mitra koalisi.
Jusuf Kalla dan Surya Paloh sepertinya tidak bisa memastikan pewaris mereka memegang jabatan politik yang cukup bergengsi dalam waktu dekat di dalam lingkaran utama kekuasaan di Indonesia.
Prananda Paloh, anak Surya, kini menjabat sebagai anggota DPR-RI. Namun Prananda bukanlah politisi muda yang namanya mencuat ke publik, meski dengan privilege ayahnya selaku konglomerat dan ketua sekaligus “pemillik” partai.
Erwin Aksa, keponakan Kalla, merupakan seorang pebisnis handal dan politisi Golkar yang cukup diperhitungkan. Hanya saja mungkin Aksa tidak punya sesuatu yang benar-benar spesial untuk menjadi begitu populer di pentas utama politik Indonesia.
Yang menarik adalah Jokowi. Melalui jalan pintas–yang bagi sebagian orang dianggap terlalu instant–ia telah memastikan putra sulungnya Gibran menjadi wakil presiden mendampingi Prabowo. Tak hanya itu, dalam sesaat ia menjadikan putranya yang lain, Kaesang, menjadi Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) sekaligus “mengakuisisi” PSI menjadi partai miliknya. Menantunya Bobby Nasution pun berhasil menjabat Gubernur Sumatera Utara.
Sementara itu, Prabowo Subianto tidak secara langsung menyerahkan warisan trah politik kepada anaknya. Namun jejaring besar kekuasaan yang telah ia bangun melalui Partai Gerindra, beserta jejaring subordinat kekuasaan di jalur militer, membuat Prabowo telah menyiapkan beberapa nama yang kedepan akan menjadi elit-elit politik baru yang diperhitungkan di masa depan.
Di dalam Partai Gerindra, Prabowo memposisikan Dasco sebagai operator utamanya sekaligus tokoh utama yang mengorkestrasi kekuasaannya di tubuh partai.
Baru-baru ini Prabowo memunculkan tokoh baru yang relatif muda, ia adalah Sugiono, Menteri Luar Negeri dalam kabinetnya yang pernah menjadi prajurit angkatan darat, dipercaya menjadi Sekretaris Umum Partai Gerindra menggantikan Ahmad Muzani. Sugiono dipercaya menjadi kandidat kuat pewaris Partai Gerindra.
Di luar tubuh Gerindra, Prabowo telah memposisikan Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin sebagai salah satu figur utama dalam lingkaran kekuasaannya yang memainkan peranan penting, meski demikian Sjafrie sudah tergolong tua dan tidak bisa disebut sebagai bagian dari pewaris kekuasaan Prabowo.
Dalam regenerasi kepemimpinan dibawah trah besarnya, Prabowo punya dua keponakannya, Thomas dan Budi Djiwandono, anak dari ekonom Sudradjat Djiwandono, untuk mengisi jabatan penting di pemerintahannya. Thomas pernah diangkat sebagai Wakil Menteri Keuangan sebelum menjabat jabatan baru selaku Deputi Gubernur Bank Indonesia. Sementara Budi menjabat sebagai Ketua Fraksi Gerindra di DPR-RI, dan posisi penting di partai sebagai wakil ketua umum.
Warna Trah Politik dan Pertarungan Masa Depan dalam Transisi Kekuasaan di Indonesia
Dari nama-nama yang telah disebutkan di atas, setidaknya di tahun 2029 dan 2034, kontestasi politik Indonesia akan mengerucut ke dalam beberapa faksi utama trah politik yang telah ada.
Trah Megawati melalui PDI-P masih akan melambangkan semangat revolusi Bung Karno, Marhaenisme, dan nasionalisme kerakyataan. Partai yang dilabeli sebagai partai “Wong Cilik” atau partai rakyat kecil ini adalah partai yang punya jaringan basis suara ke kantong-kantong suara paling bawah hingga pedesaan, khususnya di Pulau Jawa. Trah Megawati akan tetap berwarna “merah”, dan Bung Karno akan tetap menjadi ikon utama perjuangannya.
Trah SBY melalui Partai Demokrat yang berslogan Nasionalis-Religius akan tetap berwarna “biru”, senada dengan warna Partai Demokrat di AS yang melambangkan demokrasi, semangat ekonomi pasar, kebebasan, supremasi sipil, keterbukaan, yang berpadukan dengan kebijakan pemerintah yang teknokratis, sejalan dengan corak sosok SBY, yang sangat mungkin diwariskan kepada AHY.
Sementara trah Prabowo, tidak bisa dipungkiri mewakili semangat pembangunan dan stabilitas nasional yang tidak bisa dipisahkan dari Soeharto. Prabowo hingga kini masih bicara perihal swasembada pangan, kemandirian petani, pemajuan koperasi desa, dan kedaulatan pangan–salah satu upayanya melalui program Makan Bergizi Gratis–yang identik dengan program-program developmentalisme atau pembangunanisme era Soeharto.
Meski demikian Prabowo juga mewakili pengaruh dari ayahnya yang merupakan begawan ekonomi Indonesia, Soemitro. Trah Prabowo juga akan merepresentasikan ekonomi kesejahteraan ala sosialisme demokrasi, dan peran kuat negara dalam menjalankan roda ekonomi (state-led economic development) yang ia coba wujudkan melalui pembentukan Danantara, lembaga negara yang berfungsi sebagai soveriegn wealth fund.
Mungkin akan sulit menggambarkan seperti apa representasi dari corak trah Jokowi. Jokowi mungkin lebih cocok disebut mewakili tren populisme. Ia akan dikenal sebagai politisi yang berasal dari akar rumput, dekat dengan rakyat, dan sering terjun langsung membaur bersama rakyat yang dikenal dengan istilah “blusukan”.
Trah Jokowi mewakili kebijakan populis seperti bantuan sosial untuk masyarakat miskin. Hingga saat ini Gibran tampaknya masih menggambarkan karakter yang sama dan memainkan pola yang sama dengan ayahnya, sebagai pewaris utama trah Jokowi.
Ke depan, masing-masing trah politik ini akan berkontestasi untuk meraih posisi puncak, bertarung memperebutkan kursi presiden. Diantara sesama trah yang ada, punya potensi untuk saling berkoalisi dan bermitra, namun potensi ruang tarung antar trah politik ini juga terbuka lebar.
Selain merawat corak dan karakter yang diwariskan –yang sebelumnya telah berhasil membawa pendahulu mereka ke puncak kekuasaan– setiap pewaris dari tiap trah politik ini tentu harus mampu membaca tantangan zamannya sendiri, dan mengambil strategi yang tepat untuk bisa menang dan melanggengkan kekuasaan.
Oleh: Jabal Ali Husin Sab, analis Saman Strategic Indonesia.











Discussion about this post