Sejarah gerakan mahasiswa di Indonesia, aktor tunggal atau instrumen politik. Fakta sejarah menggambarkan lapis-lapis konflik yang tidak tunggal, melainkan berkelindan dalam lapisan konflik dan pertentangan berbagai representasi simbolik.
TINJAUAN.ID | Perihal gerakan mahasiswa di Indonesia, sebagai subjek atau objek? Sebagai aktor gerakan atau instrumen politik? Saya tidak akan memberi contoh gerakan ’98 yang mana aktornya masih hidup–bahkan berada di dalam kekuasaan hari ini. Meski di kasus pergerakan reformasi ’98, akar dan benih pergerakannya bisa kita lacak berawal dari
didirikannya Forum Demokrasi di tahun 1998–yang salah satu tokohnya adalah Gus Dur yang kelak menjadi tokoh reformasi.
Forum Demokrasi (Fordem) sendiri didirikan di tahun 1991 sebagai gerakan masyarakat sipil oposisi pemerintah, mengimbangi ICMI yang didirikan tahun 1990 sebagai organisasi sipil yang memback-up Orde Baru, saat Soeharto mulai merapat ke kelompok Islam.
Rivalitas ICMI dan Fordem di satu lapisan adalah representasi dari persaingan antara Islam modern dan Islam tradisional dengan Gus Dur sebagai simbolnya. ICMI diback up oleh Prabowo, dan Fordem diback up oleh Benny Moerdani, di lapisan ini, ada lapisan dua faksi yang berseteru saat itu: Abri Hijau dan Abri Merah.
Dari kasus awal ’90 an ini yang akhirnya terakumulasi di tahun 1998 dalam aksi reformasi ini–meski dengan dinamika yang mengubah konfigurasi konflik di akhir–menggambarkan lapis-lapis konflik yang tidak tunggal, melainkan berkelindan dalam lapis-lapis konflik dan pertentangan representasi simbolik.
Lalu ke belakang lagi, di peristiwa aksi mahasiswa di tahun 1974 yang dikenal dengan Malari, ada lapisan konflik internal dalam lingkaran kekuasaan Soeharto paling dalam, antara Ali Moertopo yang memimpin Opsus dan Pangkobkamtib Jenderal Soemitro.
Lalu ke belakang lagi di peristiwa jelang Gestapu di tahun 1965 yang menandai beralihnya rezim Orde Lama ke rezim Orde Baru, dimana gerakan mahasiswa yang tergabung dalam KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) dengan tokohnya seperti Fahmi Idris, dkk, termasuk Nono Anwar Makarim, ayah Nadiem Makariem, juga melibatkan dua tokoh kunci gerakan mahasiswa masa Orde Lama dalam menentang Soekarno, yang nantinya jadi arsitek utama mazhab pembangunanisme Orde Baru lewat lembaga think-tank nya CSIS: Liem Bian Kie alias Jusuf Wanandi dan Hary Chan Silalahi.
Nama organisasi gerakan mahasiswa itu bersama nama tokoh-tokohnya tadi berada di bawah perlindungan Kostrad, kesatuan TNI angkatan darat tempat Soeharto bertugas. Menurut pengakuan Jusuf Wanandi sendiri dalam memoarnya Shades of Grey dan dalam catatan Salim Said, mereka berlindung di markas Kostrad, dan dilatih disana.
Disini saya coba meluruskan, bukan semata karena mereka digerakkan, digalang, dijadikan objek politik atau wayang atau pion, tapi juga karena kondisi dan pilihan logis pada masanya, di saat mereka harus berlari, bersembunyi dan mencari perlindungan dari kejaran dan incaran RPKAD, kesatuan pasukan khusus TNI-AD yang dikenal loyal terhadap Soekarno.
Di satu lapis terlihat gerakan mahasiswa yang menjadi oposisi melawan rezim, di sisi lain ada lapisan konflik antara RPKAD versus Kostrad di masa itu. Setidaknya beberapa literatur sejarah politik Indonesia yang ditulis menyimpulkan seperti itu.
Dari contoh kasus dalam sejarah panjang republik ini, sejarah telah menjelaskan kepada kita bahwa gerakan mahasiswa tidak pernah menjadi sebuah gerakan sebagai subjek dan aktor tunggal.
Gerakan mahasiswa selalu menjadi salah satu lapisan dari berlapis-lapis konflik dan perseteruan politik yang ada. Gerakan mahasiswa menjadi puncak gunung es yang tampak di permukaan, di bawah permukaan ada struktur kekuasaan besar yang menopangnya.
Bahkan Soe Hoek Gie yang jadi simbol idealisme aktivisme dan pergerakan mahasiswa, punya afiliasi politik dengan Partai Sosialis Indonesia (PSI), partai tempat bernaungnya Soemitro Djojihadikusumo, bapaknya Prabowo, dan A.R. Baswedan, kakek Anies Baswedan. Itulah sebabnya mengapa Gie mengenal Bowo–panggilan Prabowo kecil–dan menulis tentang Bowo dalam buku legendarisnya, Catatan Seorang Demonstran.
Oleh: Jabal Sab, redaktur Tinjauan.id.











Discussion about this post