Strategis dan Mencerahkan!
No Result
View All Result
  • TINJAUAN.ID
  • News
  • Global
  • Politik
    • Nasional
    • Regional
    • Daerah
  • Ekonomi
  • Opini
  • Sejarah
  • Liputan Khusus
  • Editorial
  • Pojok Ekraf
  • TINJAUAN.ID
  • News
  • Global
  • Politik
    • Nasional
    • Regional
    • Daerah
  • Ekonomi
  • Opini
  • Sejarah
  • Liputan Khusus
  • Editorial
  • Pojok Ekraf
No Result
View All Result
Strategis dan Mencerahkan!
No Result
View All Result
Home Kolom Sejarah

Sejarah Gerakan Mahasiswa di Indonesia, Aktor Tunggal atau Instrumen Politik? 

TINJAUAN ID by TINJAUAN ID
May 18, 2026
Reading Time: 2 mins read
0
Sejarah Gerakan Mahasiswa di Indonesia, Aktor Tunggal atau Instrumen Politik? 

Sejarah gerakan mahasiswa di Indonesia, aktor tunggal atau instrumen politik. Fakta sejarah menggambarkan lapis-lapis konflik yang tidak tunggal, melainkan berkelindan dalam lapisan konflik dan pertentangan berbagai representasi simbolik.

TINJAUAN.ID | Perihal gerakan mahasiswa di Indonesia, sebagai subjek atau objek? Sebagai aktor gerakan atau instrumen politik? Saya tidak akan memberi contoh gerakan ’98 yang mana aktornya masih hidup–bahkan berada di dalam kekuasaan hari ini. Meski di kasus pergerakan reformasi ’98, akar dan benih pergerakannya bisa kita lacak berawal dari

didirikannya Forum Demokrasi di tahun 1998–yang salah satu tokohnya adalah Gus Dur yang kelak menjadi tokoh reformasi.

Forum Demokrasi (Fordem) sendiri didirikan di tahun 1991 sebagai gerakan masyarakat sipil oposisi pemerintah, mengimbangi ICMI yang didirikan tahun 1990 sebagai organisasi sipil yang memback-up Orde Baru, saat Soeharto mulai merapat ke kelompok Islam.

Rivalitas ICMI dan Fordem di satu lapisan adalah representasi dari persaingan antara Islam modern dan Islam tradisional dengan Gus Dur sebagai simbolnya. ICMI diback up oleh Prabowo, dan Fordem diback up oleh Benny Moerdani, di lapisan ini, ada lapisan dua faksi yang berseteru saat itu: Abri Hijau dan Abri Merah.

Dari kasus awal ’90 an ini yang akhirnya terakumulasi di tahun 1998 dalam aksi reformasi ini–meski dengan dinamika yang mengubah konfigurasi konflik di akhir–menggambarkan lapis-lapis konflik yang tidak tunggal, melainkan berkelindan dalam lapis-lapis konflik dan pertentangan representasi simbolik.

Lalu ke belakang lagi, di peristiwa aksi mahasiswa di tahun 1974 yang dikenal dengan Malari, ada lapisan konflik internal dalam lingkaran kekuasaan Soeharto paling dalam, antara Ali Moertopo yang memimpin Opsus dan Pangkobkamtib Jenderal Soemitro.

Lalu ke belakang lagi di peristiwa jelang Gestapu di tahun 1965 yang menandai beralihnya rezim Orde Lama ke rezim Orde Baru, dimana gerakan mahasiswa yang tergabung dalam KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) dengan tokohnya seperti Fahmi Idris, dkk, termasuk Nono Anwar Makarim, ayah Nadiem Makariem, juga melibatkan dua tokoh kunci gerakan mahasiswa masa Orde Lama dalam menentang Soekarno, yang nantinya jadi arsitek utama mazhab pembangunanisme Orde Baru lewat lembaga think-tank nya CSIS: Liem Bian Kie alias Jusuf Wanandi dan Hary Chan Silalahi.

Nama organisasi gerakan mahasiswa itu bersama nama tokoh-tokohnya tadi berada di bawah perlindungan Kostrad, kesatuan TNI angkatan darat tempat Soeharto bertugas. Menurut pengakuan Jusuf Wanandi sendiri dalam memoarnya Shades of Grey dan dalam catatan Salim Said, mereka berlindung di markas Kostrad, dan dilatih disana.

Disini saya coba meluruskan, bukan semata karena mereka digerakkan, digalang, dijadikan objek politik atau wayang atau pion, tapi juga karena kondisi dan pilihan logis pada masanya, di saat mereka harus berlari, bersembunyi dan mencari perlindungan dari kejaran dan incaran RPKAD, kesatuan pasukan khusus TNI-AD yang dikenal loyal terhadap Soekarno.

Di satu lapis terlihat gerakan mahasiswa yang menjadi oposisi melawan rezim, di sisi lain ada lapisan konflik antara RPKAD versus Kostrad di masa itu. Setidaknya beberapa literatur sejarah politik Indonesia yang ditulis menyimpulkan seperti itu.

Dari contoh kasus dalam sejarah panjang republik ini, sejarah telah menjelaskan kepada kita bahwa gerakan mahasiswa tidak pernah menjadi sebuah gerakan sebagai subjek dan aktor tunggal.

Gerakan mahasiswa selalu menjadi salah satu lapisan dari berlapis-lapis konflik dan perseteruan politik yang ada. Gerakan mahasiswa menjadi puncak gunung es yang tampak di permukaan, di bawah permukaan ada struktur kekuasaan besar yang menopangnya.

Bahkan Soe Hoek Gie yang jadi simbol idealisme aktivisme dan pergerakan mahasiswa, punya afiliasi politik dengan Partai Sosialis Indonesia (PSI), partai tempat bernaungnya Soemitro Djojihadikusumo, bapaknya Prabowo, dan A.R. Baswedan, kakek Anies Baswedan. Itulah sebabnya mengapa Gie mengenal Bowo–panggilan Prabowo kecil–dan menulis tentang Bowo dalam buku legendarisnya, Catatan Seorang Demonstran.

Oleh: Jabal Sab, redaktur Tinjauan.id.

Tags: aktivismegerakan mahasiswaorde baruOrde LamaSejarah
ShareTweetSendShare

Related Posts

Shakai Kaizo: Sejarah Jepang Melakukan Reformasi Sosial, Proses Menuju Modernisasi Jepang
Sejarah

Shakai Kaizo: Sejarah Jepang Melakukan Reformasi Sosial, Proses Menuju Modernisasi Jepang

May 2, 2026
Wali Nanggroe Malik Mahmud, Penafsir Hasan Tiro dan Penjaga Arah Aceh di Masa Depan
Politik

Wali Nanggroe Malik Mahmud, Penafsir Hasan Tiro dan Penjaga Arah Aceh di Masa Depan

April 27, 2026
Museum Indrapurwa Peukan Bada Resmi Beroperasi, Jadi Pusat Edukasi dan Pelestarian Sejarah di Aceh Besar
Daerah

Museum Indrapurwa Peukan Bada Resmi Beroperasi, Jadi Pusat Edukasi dan Pelestarian Sejarah di Aceh Besar

April 13, 2026
Sejarah Jepang di Aceh: Pergi dari Aceh Diam-Diam
Sejarah

Sejarah Jepang di Aceh: Pergi dari Aceh Diam-Diam

April 7, 2026
Muzakkir Walad dan Keinginan-Keinginan Soeharto di Aceh
Sejarah

Muzakkir Walad dan Keinginan-Keinginan Soeharto di Aceh

February 12, 2026
Melihat Sisi Baik Kekerasan: Pandangan Sosiologis
Opini

Melihat Sisi Baik Kekerasan: Pandangan Sosiologis

February 5, 2026

Discussion about this post

Recommended Stories

Dinas Pendidikan Dayah Aceh Terima Audiensi Kadisdik Dayah Aceh Besar

Dinas Pendidikan Dayah Aceh Awali Aktivitas Pasca-Idulfitri dengan Apel Perdana

March 25, 2026
Mahasiswa STISNU Aceh Ikuti Pelatihan Desain Grafis Bersama KemenEkraf

Mahasiswa STISNU Aceh Ikuti Pelatihan Desain Grafis Bersama KemenEkraf

August 30, 2025
Riza Chalid Ditetapkan Tersangka Kasus Korupsi Pertamina 285 Triliun, Siapa Dia?

Riza Chalid Ditetapkan Tersangka Kasus Korupsi Pertamina 285 Triliun, Siapa Dia?

July 11, 2025

Popular Stories

  • Pemerintah Aceh Siapkan Rp10 Miliar Bantuan Pendidikan bagi Mahasiswa Korban Bencana Hidrometeorologi, Baca Persyaratannya

    Pemerintah Aceh Siapkan Rp10 Miliar Bantuan Pendidikan bagi Mahasiswa Korban Bencana Hidrometeorologi, Baca Persyaratannya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prabowo Segera Bentuk Tim Reformasi Polri, Bentuk Juga Komisi Investigasi Insiden Agustus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gaji PPPK Aceh Macet Hampir 4 Bulan, Ribuan ASN Hidup dengan Utang Karena APBA-P Tak Kunjung Jelas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kritik Kosong tentang Ulama Dayah Adalah Opini yang Tak Perlu Ditulis

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tak Kunjung Dapat Kerja di Aceh, Hendra Nekat Merantau ke Australia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dataset
  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • TINJAUAN.ID
  • Pedoman Media Siber
Email: redaksi@tinjauan.id

© 2025 Tinjauan.ID - Strategis dan Mencerahkan!

No Result
View All Result
  • TINJAUAN.ID
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Dunia
  • Ekonomi
  • Politik
  • Opini
  • Sejarah
  • Editorial
  • Pojok Ekraf

© 2025 Tinjauan.ID - Strategis dan Mencerahkan!