Masuknya Indonesia dalam daftar negara dengan risiko terdampak cuaca panas ekstrim pada tahun 2050 menjadikan ratusan juta rakyat Indonesia terancam mengalami penurunan kualitas hidup, risiko kesehatan serius, hingga gangguan ekonomi akibat suhu yang menyengat.
OXFORD – Sebuah studi terbaru dari Universitas Oxford memberikan peringatan keras bagi penduduk bumi, khususnya mereka yang tinggal di wilayah tropis seperti Indonesia. Penelitian tersebut memprediksi bahwa jumlah populasi global yang terpapar panas ekstrem akan melonjak dua kali lipat pada tahun 2050 jika pemanasan global mencapai ambang batas 2,0°C.
Indonesia disebut sebagai salah satu negara yang akan menanggung beban populasi terbesar akibat fenomena ini, bersama dengan negara-negara padat penduduk lainnya seperti India, Nigeria, Bangladesh, Pakistan, dan Filipina.
Lonjakan Drastis Populasi Terancam
Studi yang diterbitkan dalam jurnal Nature Sustainability ini mengungkapkan bahwa pada tahun 2010, sekitar 23% populasi dunia hidup di bawah ancaman panas ekstrem. Namun, angka ini diproyeksikan akan membengkak hingga 41% dalam beberapa dekade mendatang. Secara total, hampir 3,8 miliar orang akan hidup dalam kondisi suhu yang membahayakan kesehatan pada tahun 2050.
“Temuan kami menunjukkan bahwa sebagian besar perubahan kebutuhan pendinginan dan pemanasan terjadi bahkan sebelum kita mencapai ambang batas 1,5°C,” ujar Dr. Jesus Lizana, Profesor Rekayasa Sains di Oxford. Ia menekankan perlunya langkah adaptasi yang signifikan sejak dini.

Mengapa Indonesia Sangat Rentan?
Sebagai negara kepulauan di khatulistiwa, Indonesia secara geografis berada di garis depan krisis iklim. Masuknya Indonesia dalam daftar negara dengan dampak populasi terbesar menunjukkan bahwa ratusan juta rakyat Indonesia terancam mengalami penurunan kualitas hidup, risiko kesehatan serius, hingga gangguan ekonomi akibat suhu yang menyengat.
Para peneliti memperingatkan bahwa jika suhu bumi melampaui target Perjanjian Paris (1,5°C), dampaknya akan merembet ke berbagai sektor vital di Indonesia, mulai dari pendidikan, kesehatan, hingga pertanian dan pola migrasi penduduk.
Seruan untuk Adaptasi dan Net Zero
Dr. Radhika Khosla, pemimpin program Oxford Martin Future of Cooling, menyatakan bahwa temuan ini harus menjadi alarm peringatan bagi para pengambil kebijakan di seluruh dunia.
“Pembangunan berkelanjutan dengan target emisi nol bersih (net zero) tetap menjadi satu-satunya jalur yang ada untuk membalikkan tren panas ekstrem ini. Sangat mendesak bagi para politisi untuk mengambil inisiatif,” tegasnya.
Bagi negara seperti Indonesia, studi ini menggarisbawahi pentingnya strategi adaptasi yang tangguh, termasuk dekarbonisasi sektor bangunan dengan mengembangkan desain rumah dan gedung yang lebih dingin secara alami.
Negara berpotensi terdampak seperti Indonesia perlu melakukan efisiensi energi, mengingat permintaan listrik untuk alat pendingin (AC) diprediksi akan melonjak tajam seiring kenaikan suhu.
Ketahanan pangan termasuk isu yang perlu diperhatiman. Perlu ada upaya preventif dalam melindungi sektor pertanian dari risiko gagal panen akibat cuaca panas yang berkepanjangan.
Tanpa langkah mitigasi dan adaptasi yang cepat, panas ekstrem bukan lagi sekadar isu lingkungan, melainkan ancaman eksistensial bagi kesejahteraan masyarakat Indonesia di masa depan.[]













Discussion about this post