Hakan Yavuz, penulis buku Islamic Political Identity in Turkey berpendapat bahwa Islam di Turki adalah sebuah identitas yang terus-menerus dikonstruksi ulang. Islam sebagai identitas politik di Turki lahir dari ketegangan sejarah, dipupuk oleh perubahan ekonomi, dan dibentuk oleh dinamika ruang publik yang selalu bergerak.
TINJAUAN.ID | Salah satu buku mengesankan yang permah saya baca mengenai Turki berjudul Islamic Political Identity in Turkey karya Hakan Yavuz, diterbitkan oleh Oxford University Press. Buku tersebut membahas tentang bagaimana Islam membentuk dinamika perubahan sosial yang terjadi di Turki hingga bertransformasi menjadi sebuah identitas politik.
Dalam buku itu ia juga menjelaskan bahwa gerakan politik Islam di Turki ibarat puncak gunung es yamg bertransformasi dalam beberapa fase sepanjang sejarah Turki modern. Berakar dari gerakan keagamaan, kemudian kebudayaan, pendidikan, dan ekonomi, hingga menjadi gerakan politik.
Untuk memahami kebangkitan Islam politik di Turki, Yavuz menjelaskan tentang proyek sekularisme Kemalis yang dibangun Mustafa Kemal Ataturk pasca 1923. Sekularisme Turki bukanlah sekularisme dalam pengertian Barat yang lazim, yakni hanya sebatas pemisahan negara dari agama demi menjamin kebebasan beragama.
Sekularisme Kemalis adalah proyek yang jauh lebih agresif. Sekularisme di Turki bukan hanya memisahkan agama dan negara, tetapi secara aktif menekan ekspresi keagamaan dari ruang publik, menempatkan Islam di bawah kontrol birokrasi negara melalui Direktorat Urusan Agama (Diyanet), dan menjadikan identitas Islam sebagai penanda keterbelakangan yang harus diatasi.
Paradoks terbesar dari proyek sekularisme Attaturk menurut Yavuz adalah bahwa represi justru memperkuat identitas Islam yang hendak dilemahkan.
Ketika negara memaksa Islam keluar dari ruang publik, Islam berubah menjadi bahasa perlawanan. Ia menjadi simbol bagi mereka yang merasa terpinggirkan secara kultural, ekonomi, dan politik oleh elite Kemalis yang berpusat di Istanbul dan Ankara.
Identitas Islam tidak melemah, justru menguat dan memperoleh muatan emosional yang jauh lebih kuat daripada sebelumnya.
Gagasan analitis terpenting dalam buku itu adalah konsep yang Yavuz sebut sebagai liberating spaces atau ruang-ruang pembebasan. Ia mengamati bahwa liberalisasi ekonomi yang digulirkan setelah kudeta militer 1980, oleh rezim sekular, secara tidak sengaja menciptakan celah-celah baru di luar jangkauan kontrol negara.
Ruang-ruang ini hadir dalam bentuk asosiasi sipil, jaringan bisnis, media Islam, komunitas jamaat, dan berbagai organisasi pendidikan berbasis nilai-nilai keagamaan. Dalam ruang tersebut identitas Islam tumbuh dan terkonsolidasi.
Yavuz menjelaskan bagaimana masyarakat Muslim Turki memanfaatkan peluang ekonomi pasar (market economy) tanpa menanggalkan identitas keagamaan mereka, bahkan menjadikan identitas itu sebagai modal sosial yang sangat berharga.
Berangkat dari hal tersebut, muncul kelas sosial baru yang kemudian disebut sebagai bourgeoise Islam atau kelas menengah Muslim. Mereka adalah para pengusaha dari kota-kota kecil Anatolia yang relijius, ambisius, dan berpikiran kritis terhadap sistem lama yang dianggap sudah tidak layak.
Macan Anatolia dan Politik Islam di Turki
Kelas menengah Muslim baru ini oleh Yavuz dijuluki Anadolu kaplanlari atau Macan Anatolia. Mereka bukan santri tradisional yang terputus dari arus modernitas, dan bukan pula sekularis kota yang telah menanggalkan akar keagamaannya.
Mereka, kelas menengah baru tersebut, adalah kelompok sosial hibrid yang sangat modern namun cukup relijius. Mereka menggunakan teknologi, bergerak dalam ekonomi global, membangun koneksi bisnis internasional, tetapi tetap menjadikan Islam sebagai fondasi identitas dan etika ekonomi mereka.
Kemunculan kelas ini mengubah peta sosial-politik Turki secara fundamental. Mereka membutuhkan representasi politik yang mencerminkan identitas mereka, dan itulah yang kemudian menyebabkan munculnya gerakan-gerakan Islam baru, seperti Partai Rafah era Erbakan, hingga beberapa tahun kemudian, muncul AKP yang didirikan oleh Erdogan dan kawan-kawannya yang lebih muda.
Yavuz dengan tepat mengurai secara sosiologis bahwa kekuatan Islam politik di Turki bukan semata soal ideologi agama, melainkan soal mobilisasi identitas kelas yang baru terbentuk.
Analisis Yavuz juga menguraikan tentang gerakan Fethullah Gulen. Gulen adalah seorang ulama karismatik yang mengembangkan jaringan sekolah di Turki dan kemudian di seluruh dunia, mewakili apa yang Yavuz sebut sebagai civic Islam.
Istilah civic Islam merujuk pada Islam yang tidak konfrontatif terhadap modernitas, melainkan berdialog dengannya melalui pendidikan, media, dan membangun jaringan antarbudaya. Gerakan Gulen menunjukkan bahwa identitas Islam dapat berfungsi sebagai platform untuk mobilitas sosial dan keterlibatan sipil, bukan sebatas berfungsi sebagai ideologi politik yang sempit.
Salah satu titik balik yang paling pentimg yang dianalisis Yavuz adalah pada fase perjalanan Partai Rafah pimpinan Necmettin Erbakan. Rafah berhasil memenangkan pemilu 1995 dengan membangun koalisi yang luar biasa antara kelas menengah Muslim, masyarakat miskin perkotaan, dan berbagai kelompok yang merasa diabaikan oleh partai-partai mainstream.
Kemenangan Rafah tersebut adalah kemenangan organisasi akar rumput yang telaten membangun jaringan sosial selama bertahun-tahun.
Namun pada 1997, militer Turki yang memposisikan diri sebagai penjaga sekularisme Kemalis melancarkan kudeta yang memaksa pemerintahan Erbakan runtuh.
Yavuz membaca peristiwa kudeta tersebut sebagai bentuk betapa dalamnya ketegangan struktural antara identitas Islam yang sedang menguat dan tatanan negara Kemalis yang defensif.
Buku Yavuz ini ditulis sebelum AKP benar-benar mendominasi panggung politik Turki, namun Yavuz seperti memprediksi masa depan politik Turki dengan menggambarkan peta konseptual untuk memahami bagaimana AKP berhasil menggabungkan identitas Islam dengan wacana demokrasi liberal, dan bagaimana sekularisme Turki makin memudar.
Buku Islamic Political Identity in Turkey merupakan salah satu karya terbaik yang pernah ditulis tentang politik Turki modern. Bagi siapa pun yang ingin memahami mengapa Turki menjadi seperti sekarang, buku ini adalah agaknya menjadi bacaan yang tidak boleh dilewatkan.[]
Oleh: Jabal Ali Husin Sab, kolumnis Tinjauan.id








Discussion about this post