JAKARTA – Australia kembali memperkuat posisinya sebagai salah satu destinasi favorit pendidikan tinggi dunia, dan pelajar Indonesia menjadi salah satu kelompok yang paling diuntungkan dari kebijakan terbaru pemerintah Negeri Kanguru untuk tahun 2026. Peluang kuliah di Australia bagi pelajar Indonesia makin terbuka lebar.
Kedutaan Besar Australia di Indonesia mengumumkan bahwa kuota mahasiswa internasional akan meningkat sebesar 9 persen menjadi 295.000 pada 2026, dari sebelumnya 270.000 pada 2025.
Sekitar dua pertiga dari kuota tersebut dialokasikan untuk universitas, sementara sepertiganya untuk sektor vokasi dan pelatihan. Sebagai bagian dari kebijakan ini, kampus-kampus juga diwajibkan menambah akomodasi mahasiswa agar penyediaan tempat tinggal bagi mahasiswa domestik maupun internasional tetap terjamin.
Australia memang sudah lama menjadi magnet bagi pelajar Tanah Air. Menurut catatan kedutaan, tercatat rekor sebanyak 24.000 mahasiswa Indonesia belajar di negara ini pada 2025.
Situs resmi IDP Indonesia menyebut peningkatan kuota ini sebagai momentum penting. Menurut mereka, peningkatan kuota penerimaan pelajar Indonesia oleh pemerintah Australia pada 2026 semakin memperbesar kesempatan belajar di universitas ternama yang menawarkan peluang pengembangan akademik sekaligus personal.
Universitas Top Australia Jadi Incaran
Sejumlah kampus ternama seperti University of Melbourne, Australian National University (ANU), University of Sydney, University of New South Wales (UNSW), hingga Monash University tetap menjadi tujuan utama mahasiswa Indonesia.
Menurut laporan Education Republic, keunggulan kampus-kampus ini tak lepas dari kualitas ridetnya — fasilitas modern, dosen-dosen yang berpengalaman dan terkemuka di bidangnya, serta kurikulum yang relevan dengan kebutuhan industri global menjadi nilai tambah yang signifikan bagi mahasiswa.
Komunitas pelajar Indonesia di kampus-kampus ini pun terbilang besar. Di University of Melbourne misalnya, tercatat lebih dari 1.200 mahasiswa Indonesia aktif, sementara University of Sydney memiliki lebih dari 1.000 mahasiswa Indonesia yang tergabung dalam organisasi ISAUS (Indonesian Students Association of University of Sydney).
Peluang Kerja di Australia Setelah Lulus Diperluas
Salah satu daya tarik utama kuliah di Australia adalah kebijakan Post-Study Work Visa (PSW) yang kian diperluas.
Menurut Edupac Indonesia, pemerintah Australia memperbarui kebijakan ini agar lebih relevan dengan kebutuhan pasar kerja, termasuk perpanjangan durasi kerja pasca-studi untuk jurusan prioritas seperti teknologi, kesehatan, dan pendidikan. Selama masa kuliah pun, mahasiswa internasional diperbolehkan bekerja paruh waktu hingga 48 jam setiap dua minggu.
Biaya Kuliah dan Hidup
Soal biaya, angka yang perlu disiapkan memang tidak kecil. Berdasarkan estimasi Education Republic, biaya kuliah jenjang sarjana berkisar AUD 30.000–50.000 per tahun, sementara jenjang pascasarjana AUD 35.000–60.000 per tahun. Ditambah biaya hidup di kota besar seperti Sydney atau Melbourne yang bisa mencapai AUD 20.000–25.000 per tahun untuk akomodasi, makanan, transportasi, dan kebutuhan pribadi lainnya.
Untungnya, jalur beasiswa cukup beragam. Selain LPDP dari pemerintah Indonesia, ada juga Australia Awards Scholarship (AAS) yang bersifat fully funded, serta Research Training Program (RTP) untuk jenjang magister dan doktor riset dengan nilai tunjangan sekitar AUD 35.000–40.000 per tahun.
Dengan persaingan yang diperkirakan makin ketat seiring bertambahnya kuota, calon mahasiswa disarankan mulai mempersiapkan diri jauh-jauh hari. Menurut panduan beasiswa IDP Hotcourses Indonesia, calon pelamar sebaiknya memulai persiapan setidaknya 6-12 bulan sebelum tenggat waktu pendaftaran, mengingat aturan visa 2026 juga dinilai lebih spesifik dibanding tahun-tahun sebelumnya.[]











Discussion about this post