Jakarta — Di sebuah kafe di kawasan Selatan Jakarta, diramaikan oleh muda yang memesan kopi susu gula aren dan matcha latte, bukan bir atau koktail. Pemandangan ini menerminkan pergeseran gaya hidup yang menunjukkan konsumsi alkohol atau miras di kalangan generasi muda Indonesia, milenial dan Gen Z, berdasarkan data dan hasil riset, tercatat menurun dalam beberapa tahun terakhir.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat konsumsi alkohol per kapita penduduk Indonesia usia 15 tahun ke atas menurun dari 0,36 liter menjadi 0,33 liter dalam setahun, dan data terbaru BPS pada 2025 bahkan mencatat angka itu turun lagi menjadi 0,30 liter per kapita, dengan tren penurunan yang berlangsung konsisten sejak 2023.
Data ini sejalan dengan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang dirilis setiap Maret, yang menunjukkan konsumsi alkohol penduduk usia 15 tahun ke atas menurun secara konsisten sepanjang periode 2023–2025.
Pola penurunan ini tidak seragam antarwilayah. Rumah tangga berpengeluaran tinggi justru tercatat mengonsumsi alkohol lebih banyak dibanding kelompok berpengeluaran rendah, dan konsumsi di pedesaan masih lebih tinggi dibanding perkotaan. Namun laju penurunannya berbanding terbalik. Dari tahun 2024 ke 2025, konsumsi alkohol di pedesaan turun 0,08 liter per kapita, sementara di perkotaan hanya turun 0,01 liter per kapita.
Untuk kelompok usia muda secara spesifik, merujuk data yang dihimpun CNBC Indonesia menunjukkan konsumsi alkohol pada rentang umur 15–24 tahun turun dari 0,18 liter per kapita pada 2024 menjadi 0,13 liter per kapita pada 2025, terjadi penurunan sekitar 28 persen hanya dalam satu tahun untuk kelompok usia yang didominasi Gen Z kelahiran 1997–2012.
Terkait data global, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam Global Status Report on Alcohol and Health mencatat konsumsi alkohol Indonesia secara keseluruhan hanya sekitar 0,8 liter per kapita per tahun, jauh di bawah rata-rata dunia yang mencapai sekitar 5,8 liter. Ini menegaskan bahwa Indonesia memang bukan negara dengan budaya konsumsi alkohol yang dominan, namun tren penurunannya tetap sejalan dengan pola global.
Gen Z Lebih Menjauhi Alkohol Dibanding Milenial
Sejumlah survei menunjukkan jarak yang cukup jelas antara pola konsumsi alkohol Gen Z dan generasi sebelumnya. Secara global, Gen Z tercatat mengonsumsi alkohol sekitar 20 persen lebih sedikit dibanding milenial, dan sekitar 45 persen Gen Z tergolong sama sekali tidak minum alkohol.
Survei State of Beverages turut mencatat bahwa lebih dari 60 persen Gen Z memilih minuman non alkohol saat bersosialisasi, proporsi rentang usia tertinggi dibanding generasi lain yang menghindari minuman beralkohol.
Forbes melaporkan data yang hampir sama, sekitar 21 persen Gen Z memilih tidak minum alkohol sama sekali, sementara 39 persen lainnya hanya minum sesekali, jauh lebih tinggi dibanding proporsi milenial atau Gen X pada rentang usia yang sama.
Analisis NCSolutions bahkan mencatat persentase Gen Z yang berencana mengurangi konsumsi alkohol pada 2024 melonjak 53 persen dibanding tahun sebelumnya, dengan 61 persen responden menyatakan niat mengurangi minum.
Riset yang lebih komprehensif dilakukan oleh Survei Nasional Penggunaan Narkoba dan Kesehatan (NSDUH) di Amerika Serikat. Pada tahun 2012, sekitar 30,5 persen pemuda usia 18–20 tahun—kelompok yang saat itu tergolong milenial—merupakan peminum berat. Pada 2021, angka itu turun menjadi 29,2 persen di kelompok usia yang sama, kini diisi Gen Z. Penurunan paling tajam justru terlihat pada remaja 12–17 tahun, dari 5,4–15 persen peminum berat pada 2012 menjadi hanya 3,8 persen pada 2021.
Meski demikian, riset tersebut mencatat satu catatan penting. Sekalipun konsumsi menurun, tingkat kecanduan alkohol relatif stabil. Ini menandakan penurunan konsumsi alkohol lebih mencerminkan perubahan pada pola sosial atau gaya hidup ketimbang hilangnya masalah kecanduan itu sendiri.
Di level global, lembaga survei Gallup mencatat proporsi orang dewasa di bawah 35 tahun yang mengaku mengonsumsi alkohol turun menjadi 62 persen pada periode 2021–2023, dari 72 persen pada dua dekade sebelumnya. Penurunan ini oleh Gallup disebut sebagai pergeseran tren generasional jangka panjang, bukan fluktuasi sesaat.
Fenomena penurunan konsumsi alkohol berdasarkan survei Jakpat, layanan survei online Indonesia, terhadap 1.238 responden pada April 2026, dengan proporsi 42 persen Gen Z, 44 persen milenial, dan 14 persen Gen X, menyimpulkan bahwa kopi tetap menjadi minuman favorit lintas generasi. Kopi dikonsumsi oleh 67 persen Gen Z dan 74 persen milenial di tahun 2026.
Sebab Tren Penurunan Konsumsi Alkohol Anak Muda Indonesia
LPM Institut, media mahasiswa UIN Sunan Kalijaga, melakukan wawancara dengan Achmad Uzair Fauzan, dosen Sosiologi UIN Sunan Kalijaga terkait penurunan konsumsi alkohol di Indonesia. Ia menilai penurunan konsumsi alkohol Gen Z tidak bisa dibaca sebagai kesadaran gaya hidup sehat yang seragam.
“Secara statistik, konsumsi alkohol pada Gen Z memang menurun,” ujar Uzair, namun ia mengingatkan bahwa gambaran itu perlu dipilah berdasarkan kelas sosial.
Menurutnya, penurunan konsumsi lebih terlihat pada Gen Z kelas menengah ke atas yang justru mampu membeli alkohol resmi, namun memilih meninggalkannya karena pergeseran gaya hidup. Sementara itu, sebagian Gen Z kelas menengah ke bawah menghadapi tekanan ekonomi, termasuk pengangguran dan upah rendah, yang membuat mereka mengurangi konsumsi karena alasan finansial, bukan semata kesadaran kesehatan.
Uzair bahkan mencatat ada kelompok yang justru beralih ke alkohol alternatif yang lebih murah namun berisiko terhadap kesehatan yang lebih besar.
Uzair juga memetakan setidaknya empat faktor sosial di balik tren ini. Meningkatnya kesadaran kesehatan di kalangan Gen Z kelas atas, kemudahan akses informasi kesehatan dan konten keagamaan lewat media sosial, pergeseran budaya pergaulan dari bar ke kafe yang dinilai lebih inklusif dan terjangkau, serta perubahan makna kedewasaan, yang mana alkohol tak lagi otomatis menjadi simbol status dewasa seperti generasi sebelumnya.
Ia menambahkan, budaya minum alkohol di Indonesia sejak awal memang bukan budaya arus utama. Konsumsi alkohol, menurutnya, secara historis lebih bersifat subkultur yang terbatas pada kelompok sosial tertentu, bukan norma dominan masyarakat. Dengan demikian, tidak mengonsumsi alkohol sesungguhnya lebih sejalan dengan norma sosial yang sudah lama berlaku di Indonesia.
Sebagai ganti tren konsumsi alkohol, ruang sosial anak muda kini bergeser ke aktivitas lain seperti budaya ngopi di kafe, olahraga seperti lari, padel, dan gym, hingga gaming sebagai sarana bersosialisasi lewat kegiatan mabar (main bareng).
Bukan Sekadar Tren Lokal
Pergeseran tren minum alkohol juga terlihat di negara dengan budaya minum yang kuat. Survei Kesehatan dan Gizi Nasional dari Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang mencatat tingkat kebiasaan minum pria Jepang usia 20–30-an kini hanya sekitar setengah dari dua dekade lalu, sementara wanita Jepang usia 20-an yang memiliki kebiasaan minum tersisa sekitar tiga persen saja.
Survei Kantar, perusahaan riset pasar asal Inggris, turut mengaitkan preferensi non alkohol dengan keinginan Gen Z memiliki kontrol diri yang lebih baik dan menjaga citra diri di media sosial. Tren ini sejalan dengan menguatnya gerakan global sober curious dan gaya hidup low or no alcohol yang menjadi tren global baru.
Meski tren penurunan konsumsi alkohol cukup konsisten di berbagai sumber data, sejumlah peneliti mengingatkan agar angka ini tidak dibaca sebagai kabar baik yang mutlak.
Data NSDUH menunjukkan tingkat kecanduan yang relatif stabil di tengah penurunan konsumsi, sementara sosiolog UIN Sunan Kalijaga, Ahcmad Uzair Fauzan menekankan bahwa penurunan ini tidak merata antarkelas sosial. Sebagian anak muda justru berpindah ke alkohol alternatif berisiko tinggi karena alasan ekonomi, bukan karena kesehatan.
Di balik data tren konsumsi alkohol yang menurun, ada realitas yang lebih kompleks tentang bagaimana kelas sosial, ekonomi, dan akses informasi membentuk keputusan generasi muda terhadap alkohol secara berbeda-beda.[]










Discussion about this post