BIREUEN — Naskah kuno tidak hanya berbicara tentang masa lalu. Di dalam lembarannya tersimpan pengetahuan, pengalaman, dan cara hidup masyarakat yang masih dapat dipelajari hingga hari ini. Hal inilah yang diperkenalkan kepada lebih dari 40 generasi muda Aceh dalam kegiatan di Akbid Munawwarah Bireuen, Sabtu (22/8/2026).
Kegiatan yang difasilitasi Balai Pelestarian Kebudayaan Aceh dan dilaksanakan Komunitas Baca Bireuen tersebut menghadirkan kolektor naskah Aceh, Rizki Wahyudi, sebagai pemateri.
Rizki tidak hanya memperkenalkan isi naskah, tetapi juga mengajak peserta memahami naskah dari sisi fisiknya.
Menurutnya, sebelum sebuah naskah ditangani atau dirawat, kondisi bahan, struktur, tinta, kerapuhan dan kerusakannya harus diketahui terlebih dahulu.
Pengetahuan dasar tersebut penting agar proses penyelamatan tidak justru menimbulkan kerusakan baru dan dapat dilakukan sesuai kondisi masing-masing naskah.
Ketua Komunitas Baca Bireuen, Ema Yuliana, menyebut kegiatan tersebut penting untuk mendekatkan generasi muda dengan warisan pengetahuan Aceh. Ia berharap, “naskah tidak berhenti sebagai benda koleksi, tetapi dapat terus dipelajari dan dimanfaatkan secara berkelanjutan.”
Dari pihak Akbid Munawwarah, Syarifah Faridah turut memberikan apresiasi atas kegiatan tersebut. “Naskah kuno memiliki potensi pengetahuan yang berkaitan langsung dengan bidang kebidanan,” ujar Syarifah.
Menurutnya, penelusuran terhadap kandungan naskah dapat menemukan berbagai pengetahuan pengobatan dan persalinan tradisional. Salah satunya praktik persalinan yang dahulu dilakukan oleh bidan desa atau ma blien dalam tradisi Aceh.
Pengenalan seperti ini menjadi salah satu cara mempertemukan generasi muda dengan pengetahuan yang tersimpan dalam naskah, sekaligus menumbuhkan kesadaran untuk menjaga keberadaannya.










Discussion about this post