Strategis dan Mencerahkan!
No Result
View All Result
  • TINJAUAN.ID
  • News
  • Global
  • Politik
    • Nasional
    • Regional
    • Daerah
  • Ekonomi
  • Opini
  • Sejarah
  • Liputan Khusus
  • Editorial
  • Pojok Ekraf
  • TINJAUAN.ID
  • News
  • Global
  • Politik
    • Nasional
    • Regional
    • Daerah
  • Ekonomi
  • Opini
  • Sejarah
  • Liputan Khusus
  • Editorial
  • Pojok Ekraf
No Result
View All Result
Strategis dan Mencerahkan!
No Result
View All Result
Home Dunia

Memaknai Kehadiran Presiden Prabowo di Beijing

TINJAUAN ID by TINJAUAN ID
September 3, 2025
Reading Time: 2 mins read
0
Memaknai Kehadiran Presiden Prabowo di Beijing

Presiden Prabowo hadir di peringatan 80 tahun Kemenangan Perang Rakyat Tiongkok dalam Melawan Agresi Jepang. Foto: Setpres.

Presiden Prabowo tentu sadar betul soal membangun kedaulatan ekonomi Indonesia, mempertahankan kemandirian ekonomi Indonesia dari intervensi dan tekanan negara lain.

Oleh: Jabal Ali Husin Sab*

Indonesia berpolitik bebas-aktif, tidak tergabung dalam blok manapun. Itu falsafah politik luar negeri kita. Namun di tengah arah kebijakan ekonomi Amerika Serikat yang agresif melalui tarif resiprokal, juga upaya mengintervensi ekonomi dalam negeri Indonesia dengan mempermasalahkan QRIS yang merugikan Visa-Mastercard milik Amerika Serikat, salah satunya. Posisi Indonesia kian dilematis.

Belum lagi upaya menekan Indonesia untuk berunding perihal tarif resiprokal, ujung-ujungnya meminta berbagai konsesi hasil tambang Indonesia, salah satunya tembaga.

Pemerintahan AS di bawah Trump benar-benar memainkan imperialisme ekonomi gaya baru. Trump mengkhianati free-trade dan deregulasi ekonomi yang jadi prinsip neoliberalisme, falsafah dan teori ekonomi yang jadi pegangan khas Amerika Serikat.

Kebijakan tarif resiprokal AS adalah bentuk tekanan agresif AS atas negara-negara di dunia. AS tak rela negara-negara tersebut mendapatkan untung dari surplus perdagangan dengan AS, termasuk Indonesia.

Amerika Serikat telah mengkhianati prinsip kebebasan dan kesetaraan antar negara di panggung global. Ini adalah kemunduran. Trump menggiring dunia ke arah imperialisme ekonomi gaya baru dan ekonomi hegemonik yang hanya menguntungkan AS, dan menekan negara-negara lain, khususnya global south.

Keadaan ini tentu merugikan banyak negara, termasuk Indonesia.Presiden Prabowo tentu sadar betul soal membangun kedaulatan ekonomi Indonesia, mempertahankan kemandirian ekonomi Indonesia dari intervensi dan tekanan negara lain.

Oleh karena alasan yang tak bisa ditolerir itu, juga kepiawaiannya membaca perkembangan geopolitik dan geoekonomi global yang makin multipolar, Prabowo mengambil kebijakan bergabung dengan BRICS.

Pun demikian, sama sekali tak ada narasi anti-AS dan anti-Barat yang digaungkan Prabowo. Setiap negara di dunia adalah mitra bagi Indonesia, selama negara tersebut bisa membangun kerjasama dalam bingkai persahabatan yang adil dan setara.

Mengenai Amerika Serikat dan China, saya teringat dengan kata-kata Mahathir Muhammad, mantan Perdana Menteri Malaysia yang merupakan teman baik Presiden Indonesia Soeharto dan Perdana Menteri Singapura Lee Kuan Yew, mereka bersama pernah membawa ketiga negara ini menjadi kekuatan ASEAN yang disegani.

Mahathir berkata bahwa; negara-negara di Nusantara telah bekerjasama dan membangun kemitraan politik, ekonomi dan perdagangan dengan China sejak ribuan tahun lalu. Namun China tak pernah punya keinginan untuk menginvasi dan menjajah negara-negara di Nusantara. Sementara negara-negara Barat bermental ekspansif dan berwatak kolonial, mereka menjajah negara-negara di Nusantara.

Bagi Mahathir tak ada yang perlu dikhawatirkan dari China. Mereka tak berwatak menjajah negara lain, tidak seperti negara-negara Barat. Setidaknya sejarah bicara demikian.

Dengan hadirnya Presiden Prabowo bersama Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden China Xi Jinping, dan sejumlah negara lain pada peringatan 80 tahun Kemenangan Perang Rakyat China dalam Melawan Agresi Jepang, kita mengharapkan Indonesia punya mitra strategis yang dapat bekerja bersama-sama mewujudkan stabilitas politik dan ekonomi global.

Secara semiotik, hadirnya Prabowo di acara tersebut bersama sejumlah pemimpin dunia melambangkan posisi penting Indonesia sebagai aktor global yang tak bisa dipandang sebelah mata.

Kemitraan strategis Indonesia dengan sejumlah negara, khususnya mereka yang hadir di Beijing, adalah kemenangan diplomatis Prabowo di panggung global, yang tak lain tujuannya adalah untuk memperkuat kedaulatan Indonesia sebagai negara besar.

Jika Indonesia mampu tampil berdaulat, maka upaya mendorong pertumbuhan ekonomi dan mewujudkan kesejahteraan masyarakat di dalam negeri akan semakin mudah dilakukan, dengan memanfaatkan bantuan kemitraan global dengan sejumlah negara.

Concordia res parvae crescunt: “melalui persatuan, hal-hal kecil akan tumbuh”. Upaya kolektif dan membangun aliansi yang kuat akan dapat membantu untuk mencapai tujuan besar. Hal ini merupakan aspek inti dari aliansi strategis.

*pimpinan redaksi tinjauan.id

ShareTweetSendShare

Related Posts

Transisi Kekuasaan di Indonesia: Proyeksi Pewaris Trah Politik Menuju Pilpres 2029 dan 2034
Laporan dan Analisis

Transisi Kekuasaan di Indonesia: Proyeksi Pewaris Trah Politik Menuju Pilpres 2029 dan 2034

March 24, 2026
Donald Trump Pernah Dianggap Mengalami Gangguan Jiwa oleh Sejumlah Psikiater
Dunia

Donald Trump Pernah Dianggap Mengalami Gangguan Jiwa oleh Sejumlah Psikiater

March 24, 2026
Konflik Timur Tengah Picu Ancaman Krisis Pangan Dunia, 45 Juta Jiwa Terancam Kelaparan Akut
Dunia

Konflik Timur Tengah Picu Ancaman Krisis Pangan Dunia, 45 Juta Jiwa Terancam Kelaparan Akut

March 23, 2026
Kapabilitas Militer Iran Pasca Serangan 2025–2026: Tinjauan Strategis
Dunia

Kapabilitas Militer Iran Pasca Serangan 2025–2026: Tinjauan Strategis

March 6, 2026
Halal Bukan Warisan dan Asumsi, Tapi Tanggung Jawab yang Harus Dipastikan
Opini

Halal Bukan Warisan dan Asumsi, Tapi Tanggung Jawab yang Harus Dipastikan

March 3, 2026
Corvée
Opini

Corvée

February 10, 2026
Next Post
Aceh dalam Geopolitik Global

Aceh dalam Geopolitik Global

Prabowo Perkuat Hubungan Diplomatik Dalam Kunjungan ke China

Presiden Prabowo Perkuat Hubungan Diplomatik Lewat Kunjungan ke China, Pasca Aksi Massa di Indonesia

Discussion about this post

Recommended Stories

Sekda Aceh Terima Forum LSM, Pemerintah Aceh Susun Quick Win Pemulihan Pascabencana

Sekda Aceh Terima Forum LSM, Pemerintah Aceh Susun Quick Win Pemulihan Pascabencana

January 9, 2026
Gubernur Lantik M. Nasir Sebagai Sekda Aceh, Minta Sekda Selesaikan Persoalan Strategis

Gubernur Lantik M. Nasir Sebagai Sekda Aceh, Minta Sekda Selesaikan Persoalan Strategis

August 15, 2025
Korban Tragedi KKA: Aceh Damai Sudah Sekian Lama, Tapi Kami Masih Luka

Korban Tragedi KKA: Aceh Damai Sudah Sekian Lama, Tapi Kami Masih Luka

August 8, 2025

Popular Stories

  • Tingkat Pengangguran Usia Muda Tinggi, Indonesia Berjuang Ciptakan Lapangan Kerja

    Prabowo Segera Bentuk Tim Reformasi Polri, Bentuk Juga Komisi Investigasi Insiden Agustus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gaji PPPK Aceh Macet Hampir 4 Bulan, Ribuan ASN Hidup dengan Utang Karena APBA-P Tak Kunjung Jelas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kritik Kosong tentang Ulama Dayah Adalah Opini yang Tak Perlu Ditulis

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tak Kunjung Dapat Kerja di Aceh, Hendra Nekat Merantau ke Australia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Review Laporan Keuangan Bank Aceh Syariah (I) ; Triliunan Dana Diinvestasikan ke Luar Aceh

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • TINJAUAN.ID
  • Pedoman Media Siber
Email: redaksi@tinjauan.id

© 2025 Tinjauan.ID - Strategis dan Mencerahkan!

No Result
View All Result
  • TINJAUAN.ID
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Dunia
  • Ekonomi
  • Politik
  • Opini
  • Sejarah
  • Editorial
  • Pojok Ekraf
  • Contact Us

© 2025 Tinjauan.ID - Strategis dan Mencerahkan!

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?