Pascabencana banjir, Gayo Lues masih berjuang dalam keterbatasan. Di tengah akses yang belum pulih dan bantuan yang belum sepenuhnya menjangkau wilayah terisolir, warga bertahan dengan sumber daya seadanya, menunggu akses jalan kembali terbuka.
Gayo Lues — Sungai kini menjadi jalan. Jembatan runtuh, akses terputus, dan listrik padam berpekan-pekan. Begitulah kondisi Kecamatan Pining, Kabupaten Gayo Lues, Aceh, hingga awal Januari 2026. Di tengah keterisolasian itu, relawan berupaya masuk, menembus jalur yang nyaris tak bisa dilalui.
“Kalau sekarang mau ke Pining, harus lewat sungai. Jembatan sudah putus,” kata Ayi Meugit, Relawan yang tergabung dalam Posko Seutui, kepada tinjauan.id, Sabtu (3/1/2026).
Perjalanan menuju Pining bukan perkara mudah. Jarak Blangkejeren, ibu kota Kabupaten Gayo Lues, ke Pining sekitar 42 kilometer. Dalam kondisi normal, rute ini dapat ditempuh sekitar dua jam, namun pascabencana waktu tempuh meningkat hingga empat jam.
Kendaraan roda empat yang dapat melintas pun terbatas, hanya mobil berpenggerak 4×4 dan tidak berani berjalan sendiri. Perjalanan harus dilakukan beriringan agar saling membantu jika kendaraan tersangkut. Di beberapa titik, bahkan mobil 4×4 tidak mampu melintas ketika debit air sungai meningkat.
Di wilayah Pining terdapat sejumlah desa terdampak, seperti Desa Pining, Perti, Ekan, Pasir Putih, hingga Lesten. Desa Lesten menjadi salah satu wilayah yang hingga kini masih terisolir. Akses ke sana hanya bisa ditempuh dengan sepeda motor melalui jalur sempit dan berlumpur.
“Kalau motor jatuh atau macet, harus diangkat ramai-ramai,” ujar Ayi.

Banjir besar mengubah wajah permukiman warga. Sejumlah rumah hanyut tanpa sisa. Di beberapa lokasi, bekas rumah kini telah menjadi alur sungai. Warga yang tinggal di bantaran sungai memang terbiasa dengan banjir musiman, namun kali ini dampaknya jauh lebih parah.
Sebagian warga mengungsi, tetapi tidak meninggalkan wilayah desanya. Di Desa Pepela, warga membangun tempat tinggal darurat secara mandiri dari batang kayu dan papan.
Gubuk-gubuk kecil berdiri di lokasi yang lebih tinggi. Di desa itu, hanya satu tenda BNPB yang terlihat.
Ironisnya, bencana datang di tengah musim panen durian. Jalan yang rusak membuat hasil panen sulit dibawa keluar. Harga durian anjlok.
Warga tetap mencoba menjual hasil kebun dengan menyeberangi sungai menggunakan sepeda motor, meski risikonya besar.
“Banyak motor mogok setelah menyeberang. Nggak ada perahu atau alat bantu, warga terobos saja,” kata Ayi.
Kekhawatiran warga kata Ayi kini meluas pada persoalan pangan. Selama ini, pasokan beras sebagian besar didatangkan dari Aceh Timur. Dengan akses jalan yang belum pulih, warga mulai cemas memikirkan ketersediaan bahan pokok ke depan.
Selain durian, sumber penghidupan warga berasal dari kemiri, kakao, nilam, dan kopi yang kini sulit dipasarkan.
Kondisi semakin berat karena listrik belum pulih. Bahkan wilayah Gayo Lues yang tidak terdampak langsung banjir baru kembali menikmati aliran listrik setelah lebih dari sebulan.
Komunikasi nyaris terputus. Selain menyalurkan bantuan, Ayi bersama timnya datang dengan misi lain: membuka kembali akses komunikasi. Jaringan seluler di Pining nyaris tidak berfungsi. Informasi dari dan ke wilayah ini terputus. Kondisi itu menyulitkan warga, relawan, hingga aparat setempat untuk berkoordinasi.
“Kami pasang Starlink karena di sana benar-benar blank. Komunikasi susah, mau lapor kondisi juga nggak bisa,” kata Ayi.
Tak hanya di Pining, dampak banjir juga terasa di Kecamatan Tripe Jaya. Sekitar 200 rumah dilaporkan hilang. Masjid dan musala di Desa Pasir terseret arus.
Menjelang Ramadhan, warga berinisiatif membangun tempat ibadah darurat secara swadaya.
Di tengah akses yang belum pulih dan bantuan yang belum sepenuhnya menjangkau wilayah terisolir, relawan terus datang menjadi penghubung di tengah sunyi, sekaligus saksi ketabahan warga yang bertahan.
Gayo Lues masih berjuang dalam keterbatasan. Di tengah akses yang belum pulih dan bantuan yang belum sepenuhnya menjangkau wilayah terisolir, warga bertahan dengan sumber daya seadanya, menunggu jalan kembali terbuka dan kehidupan perlahan berjalan kembali.(*)













Discussion about this post