CATL di tahun 2023, berdasarkan pemberitaan South China Morning Post, The Economist dan Bloomberg, berencana untuk investasi sebesar 500 triliun dalam proyek hilirisasi nikel di Indonesia. Sejauh mana perkembangan investasi raksasa ini di tahun 2026?
Dulu di sekitaran tahun 2023, saya pernah menulis tentang gurita bisnis konglomerat Cina Robin Zeng dan perusahaannya CATL yang menguasai pangsa pasar baterai lithium dunia untuk kendaraan listrik (EV), CATL adalah pemain utama dalam baterai EV dunia, melampaui LG dan BWD.
CATL adalah perusahaan milik Zeng Yuqun atau Robin Zeng. Orang terkaya ketiga di Cina dan terkaya ke 29 di dunia versi majalah Forbes tahun 2023. Iya waktu itu telah membuat pabrik produksi baterai mobil listrik di Jerman dan menyuplai baterai untuk mobil listrik bagi BMW, Daimler Chrysler, Tesla, Ford, dan lainnya.
CATL di tahun 2023, berdasarkan pemberitaan South China Morning Post, The Economist dan Bloomberg, berencana untuk investasi sebesar 500 triliun dalam proyek hilirisasi nikel di Indonesia. Kala itu, Menteri Luhut disebut menjadi aktor utama dalam proses investasi ini. Setelah beberapa proses pertemuan antara Luhut dan Robin Zeng, kabarnya telah mencapai kesepakatan.
Sementara itu The Economist dalam edisi yang mengangkat tentang prospek ekonomi Indonesia yang menjanjikan di masa depan dengan potensi sumber daya nikel, menyebut dua aktor utama dalam bisnis hilirisasi nikel di Indonesia.
Pertama, Pandu Sjahrir, keponakan Luhut Panjaitan, Mantan Menteri Investasi dan Maritim yang terbilang getol dalam mewujudkan kebijakan hilirisasi nikel ini. Kedua, Garibaldi Thohir, saudara kandung Erick Thohir.
Lalu Bagaimana Kelanjutannya Sekarang?
CATL masih memegang posisi puncak sebagai produsen baterai kendaraan listrik (EV) nomor satu di dunia selama beberapa tahun berturut-turut.
Jika dulu 35%, data terbaru per akhir 2025 menunjukkan CATL menguasai sekitar 38% hingga 43% pangsa pasar global, terutama karena dominasi kuat di Eropa.
Rencana investasi 500 triliun (sekitar 35 miliar USD atau sering dirujuk sebagai proyek 6 miliar USD untuk tahap awal terintegrasi) kini sudah masuk tahap konstruksi.
Pada 29 Juni 2025, Presiden Prabowo Subianto secara resmi melakukan groundbreaking untuk ekosistem industri baterai terintegrasi di Karawang, Jawa Barat.
Pabrik baterai CATL di Karawang berdiri di atas lahan yang dikelola oleh kawasan industri besar. Rumor mengarah pada kedekatan pemilik kawasan industri tersebut dengan tokoh-tokoh seperti Boy Thohir (melalui grup Adaro/Saratoga yang memiliki minat di infrastruktur hijau) dan Pandu Sjahrir.
Pabrik di Karawang ini (di bawah PT CATIB) ditargetkan mulai beroperasi pada pertengahan 2026.
Proyek ini melibatkan konsorsium CBL (CATL, Brunp, dan Lygend) yang bekerja sama dengan BUMN Indonesia melalui Antam dan Indonesia Battery Corporation (IBC). Investasi ini mencakup dari tambang nikel di Halmahera Timur hingga pabrik baterai di Karawang.
Jika dulu Menteri Luhut Pandjaitan adalah motor penggeraknya, di era pemerintahan baru Presiden Prabowo, proyek ini tetap menjadi Proyek Strategis Nasional (PSN) yang diprioritaskan untuk mempercepat swasembada energi hijau.
Beberapa pengusaha besar Indonesia terafiliasi melalui kepemilikan saham di perusahaan yang menjadi mitra lokal atau penyedia infrastruktur tambang bagi CATL/CBL.
Boy Thohir dan Pandu Sjahrir sering disebut dalam riset media internasional (seperti The Economist) sebagai tokoh yang memiliki jejaring bisnis kuat di sektor energi dan nikel yang bersinggungan dengan ekosistem baterai EV.
Lim Hariyanto Wijaya Sarwono (Harita Group) melalui lini bisnisnya (Lygend/HPAL) merupakan mitra strategis utama dari konsorsium CBL (huruf ‘L’ pada CBL adalah Lygend). Mereka memiliki fasilitas pengolahan nikel besar di Pulau Obi, Maluku Utara, yang menyuplai bahan baku untuk CATL.
Setiawan Ichlas melalui jejaring bisnisnya, mengelola kawasan industri atau logistik nikel di Sulawesi dan Maluku yang menjadi titik operasi mitra CATL.
Sebagian besar pebisnis lokal terafiliasi melalui skema Mitra Lokal. Karena regulasi Indonesia mewajibkan adanya kepemilikan lokal (BUMN atau swasta nasional) dalam proyek tambang, maka para pebisnis di atas muncul sebagai pemilik konsesi lahan atau pengelola kebijakan yang membuka pintu bagi Robin Zeng di Indonesia.
Operasi smelter nikel CATL membutuhkan energi listrik yang masif dan stabil. Di sini, tokoh-tokoh Indonesia masuk melalui perusahaan penyedia listrik swasta (Independent Power Producer atau IPP) yaitu Adaro Energy milik Boy Thohir.
Melalui lini bisnis energinya, Grup Adaro terlibat dalam pengembangan infrastruktur energi untuk kawasan industri hijau. Mereka menyediakan pasokan listrik yang diperlukan oleh fasilitas pengolahan nikel yang berafiliasi dengan rantai pasok CATL.
Sementara itu, TBS Energi Utama yang terafiliasi dengan Pandu Sjahrir (keponakan Luhut), mereka memiliki kepentingan dalam memastikan ketersediaan energi untuk operasional pabrik-pabrik baterai dan pengolahan nikel di wilayah investasi tersebut.
Jabal Sab










Discussion about this post