Banda Aceh – Anggota Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) dari Partai Aceh, Hasballah, S.Ag., meminta Pemerintah Aceh melalui Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Aceh memperluas program beasiswa yang berorientasi pada pengembangan sumber daya manusia (SDM) sektor minyak dan gas bumi (migas).
Menurut Hasballah, Aceh membutuhkan strategi jangka panjang agar mampu melahirkan tenaga profesional yang siap mengelola potensi energi daerah secara mandiri di masa depan.
Pernyataan tersebut disampaikan Hasballah pada Minggu (12/7/2026). Ia menilai momentum ditemukannya potensi cadangan migas di wilayah Andaman harus direspons dengan kebijakan pengembangan SDM yang lebih progresif.
“BPSDM harus memperbanyak kuota beasiswa, memperluas pilihan jurusan, serta memberikan waktu pendaftaran yang lebih memadai agar lebih banyak generasi muda Aceh memperoleh kesempatan mempersiapkan diri menghadapi industri migas dalam 20 tahun ke depan,” ujarnya.
Hasballah mengatakan pengalaman masa lalu harus menjadi pelajaran penting. Ketika industri migas berkembang di Aceh, manfaat ekonomi belum sepenuhnya dapat dinikmati masyarakat karena keterbatasan tenaga kerja lokal yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan industri. Oleh karena itu, menurutnya, pembangunan SDM harus menjadi prioritas utama bersamaan dengan pengembangan sektor energi.
Ia juga menyinggung aspirasi Pemerintah Aceh yang sebelumnya mengusulkan agar pengembangan migas Andaman dapat terintegrasi dengan kawasan eks PT Arun. Meskipun usulan tersebut belum dapat direalisasikan karena berbagai pertimbangan teknis dan investasi infrastruktur, Hasballah menilai Aceh tetap harus menyiapkan SDM unggul agar memiliki posisi strategis dalam rantai industri migas nasional maupun global.
Menurutnya, program beasiswa tidak seharusnya hanya berfokus pada beberapa disiplin ilmu. Pemerintah Aceh perlu membuka lebih banyak bidang studi yang relevan dengan industri energi modern, antara lain: Teknik Perminyakan, Teknik Geologi, Geofisika, Teknik Pertambangan, Teknik Kimia, Teknik Mesin, Teknik Elektro, Teknik Sipil, Ilmu Komputer, Data Science, Artificial Intelligence, Cyber Security, Hukum Energi dan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3).
Ia menilai seluruh disiplin tersebut merupakan fondasi utama dalam membangun industri eksplorasi dan produksi migas yang berdaya saing tinggi.
Hasballah juga mengusulkan agar Pemerintah Aceh memperluas kerja sama beasiswa dengan berbagai perguruan tinggi kelas dunia yang memiliki reputasi kuat di bidang energi dan teknologi, seperti Colorado School of Mines, Stanford University, Texas A&M University, The University of Texas at Austin, Imperial College London, Universiti Teknologi PETRONAS, Universiti Malaya, serta Institut Teknologi Bandung sebagai salah satu perguruan tinggi unggulan nasional di bidang teknik.
Menurutnya, perusahaan energi global seperti ExxonMobil, Shell, Chevron, BP, dan PETRONAS membutuhkan tenaga profesional lintas disiplin. Karena itu, Aceh harus mulai menyiapkan SDM dengan standar internasional apabila ingin mengambil manfaat maksimal dari pengembangan sektor migas di masa mendatang.
Hasballah juga berharap tata kelola program beasiswa BPSDM terus diperkuat. Ia menilai perbaikan sistem pengelolaan menjadi penting agar program beasiswa benar-benar menghasilkan SDM berkualitas serta memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat Aceh. Ia menegaskan bahwa setiap pembelajaran dari persoalan hukum yang pernah terjadi harus menjadi momentum memperbaiki transparansi, akuntabilitas, dan efektivitas pengelolaan beasiswa ke depan.
Aceh sendiri memiliki sejumlah wilayah kerja migas yang dinilai prospektif, antara lain Blok Andaman, Blok A, B Arun, Pase, North Sumatra Offshore (NSO), East Seruway, Krueng Mane, Lhokseumawe, Perlak, NAD-1, dan Blok Singkil. Dengan potensi tersebut, Hasballah menilai investasi terbesar yang harus dilakukan sejak sekarang adalah investasi pada manusia.
“Potensi migas tidak akan memberikan nilai tambah yang optimal apabila Aceh tidak memiliki SDM yang mampu mengelola, mengembangkan, dan memimpin industri tersebut. Karena itu, pembangunan manusia harus berjalan seiring dengan pembangunan sektor energi,” tutupnya.[]












Discussion about this post