BANDA ACEH – Pimpinan Dayah Babul Maghfirah, Cot Keueng, Kecamatan Kuta Baro, Aceh Besar, Ustadz Masrul Aidi, mengapresiasi kebijakan pemerintah yang memberikan kelonggaran kepada Aparatur Sipil Negara (ASN) untuk mengantar anak pada hari pertama masuk sekolah.
Namun, menurutnya, semangat kebijakan tersebut seharusnya tidak berhenti hanya pada hari pertama sekolah. Ia mengusulkan agar Pemerintah Aceh mempertimbangkan penyesuaian jam masuk kerja ASN secara permanen, misalnya dari pukul 07.30 WIB menjadi 08.30 WIB.
Menurut Ustadz Masrul, tambahan waktu satu jam pada pagi hari dapat dimanfaatkan orang tua untuk membangun kebersamaan dengan keluarga, mulai dari salat berjamaah, sarapan bersama, mengantar anak ke sekolah, hingga memberikan perhatian terhadap perkembangan pendidikan dan karakter anak.
“Bila gagasan ini memang penting, kenapa pemerintah tidak memberi durasi yang layak dan manusiawi agar setiap ortu menikmati pagi bersama sambil mengantar anak ke sekolah,” ujar Ustadz Masrul melalui akun Instagram pribadinya, Senin (13/7/2026).
Ia menilai kebijakan jam kerja juga perlu mempertimbangkan kondisi geografis Aceh. Sebagai provinsi paling barat Indonesia yang memiliki karakter wilayah berbeda dengan Pulau Jawa, menurutnya Aceh memiliki ruang untuk merumuskan pola jam kerja yang lebih sesuai dengan kebutuhan daerah.
“Apa urgensinya ASN masuk kantor jam 07:30 Wib, Bukankah sepatutnya dengan status daerah Istimewa, Pemerintah Aceh bisa menyusun jadwal kerja yang lebih sesuai dengan kondisi geografis dan topogfari,” katanya.
Selain mengusulkan penyesuaian jam masuk kantor, Ustadz Masrul juga mengemukakan wacana agar pola kerja ASN kembali menjadi enam hari dalam sepekan dengan durasi kerja harian yang lebih singkat. Senin sampai Sabtu dari Jam 08:30-14:00 Wib,
Menurutnya konsep lima hari kerja pada awalnya banyak diterapkan untuk menjawab persoalan kemacetan di kota-kota besar, sementara kondisi Aceh memiliki karakteristik yang berbeda.
Ia meyakini kebijakan yang lebih ramah keluarga akan memberikan dampak jangka panjang terhadap kualitas sumber daya manusia. Kehadiran orang tua pada pagi hari dinilai menjadi momentum penting untuk menanamkan nilai-nilai agama, membangun kedisiplinan, memantau perkembangan belajar, serta memperkuat komunikasi antara orang tua dan anak.
“Andai saran ini bisa di eksekusi, bayangkan manfaatnya yang multi dimensi,” ujarnya.
Ustadz Masrul menilai, peradaban yang kuat lahir dari keluarga yang kuat. Waktu yang berkualitas bersama anak merupakan investasi besar.
Dalam kesempatan itu, Ustadz Masrul juga menyinggung peran lembaga keulamaan di Aceh. “Lembaga-lembaga ulama lebih aktif memberikan pandangan, fatwa, dan gagasan terhadap berbagai persoalan sosial yang berkembang di tengah masyarakat,” usulnya.
Menurutnya, sebagai daerah yang menerapkan syariat Islam, Aceh membutuhkan kontribusi pemikiran yang lebih intens dari lembaga-lembaga keagamaan agar mampu menjadi rujukan dalam pembinaan moral dan karakter masyarakat.
Usulan tersebut mendapat beragam tanggapan dari masyarakat di media sosial.
Sebagian warganet menilai penyesuaian jam kerja ASN dapat menjadi salah satu alternatif kebijakan yang mendukung ketahanan keluarga tanpa mengurangi kualitas pelayanan publik, sepanjang diikuti dengan pengaturan disiplin kerja dan target kinerja yang jelas.[RSM]












Discussion about this post