Strategis dan Mencerahkan!
No Result
View All Result
  • TINJAUAN.ID
  • Global
  • Politik
    • News
    • Nasional
    • Regional
    • Daerah
  • Ekonomi
  • Opini
  • Sejarah
  • Liputan Khusus
  • Editorial
  • Pojok Ekraf
  • TINJAUAN.ID
  • Global
  • Politik
    • News
    • Nasional
    • Regional
    • Daerah
  • Ekonomi
  • Opini
  • Sejarah
  • Liputan Khusus
  • Editorial
  • Pojok Ekraf
No Result
View All Result
Strategis dan Mencerahkan!
No Result
View All Result
Home Kolom Oase

Pesan Al Habib Umar bin Hafidz tentang Marwah Ilmu dan Menyikapi Politik Praktis

TINJAUAN ID by TINJAUAN ID
October 22, 2026
Reading Time: 3 mins read
0
Pesan Al Habib Umar bin Hafidz tentang Marwah Ilmu dan Menyikapi Politik Praktis

Jakarta — Dalam seminar nasional bertema “Bijaksana Dalam Menyikapi Situasi, Peristiwa & Berinteraksi Dengan Umara”, ulama ternama asal Hadramaut, Yaman, Al Habib Umar bin Hafidz, memberikan pandangan komprehensif mengenai garis dakwah Ahlussunnah wal Jama’ah dan tradisi Sadah Ba’alawi dalam menyikapi kekuasaan.

Bahasan tema ini disampaikan Habib Umar bin Hafidz di tengah semakin kompleksnya dinamika sosial-politik global dan regional, pertanyaan mengenai peran ideal ulama serta umat Islam dalam berinteraksi dengan penguasa (umara) dan politik praktis kembali menjadi sorotan utama.

Sesi diskusi interaktif ini menjadi ajang dialog kritis ketika para akademisi, kiai, hingga aktivis politik dari Indonesia menguji relevansi ajaran klasik—seperti prinsip “mematahkan pedang” Al-Faqih Al-Muqaddam—di tengah tatanan demokrasi modern dan sistem kepartaian saat ini.

Meneladani Jalur Katenangan Para Nabi: Memperbaiki Jiwa, Bukan Berburu Tahta

Dalam paparan utamanya, Habib Umar bin Hafidz menegaskan bahwa misi utama para nabi dan rasul sejak dahulu adalah mengajak manusia—baik rakyat biasa maupun penguasa—kepada ketakwaan dan penyucian jiwa, bukan untuk merebut tampuk kekuasaan politik.

Beliau mencontohkan bagaimana Rasulullah SAW diawal dakwahnya di Mekkah secara tegas menolak tawaran kepemimpinan dari kaum Quraisy yang disertai syarat-syarat kompromistis terhadap akidah. Nabi memilih membina hati masyarakat melalui wahyu hingga fondasi keimanan mengakar kuat.

“Kekuasaan yang berdiri di Madinah Munawwarah merupakan hadiah dan anugerah dari Allah bagi orang-orang yang jujur dan ikhlas, bukan hasil dari pertempuran politik atau perebutan jabatan dari penguasa yang ada saat itu,” ujar Habib Umar.

Begitu pula dengan keteladanan Nabi Nuh AS yang berdakwah selama 950 tahun. Meski menghadapi penolakan keras dan intimidasi fisik, Nabi Nuh tidak pernah membentuk kekuatan politik tempur untuk menjatuhkan rezim yang berkuasa, melainkan fokus pada ketabahan dakwah.

Meluruskan Sejarah Habib Thahir bin Husein: Bukan Kudeta Politik

Salah satu poin krusial yang dibahas dalam seminar ini adalah klarifikasi terhadap narasi sejarah yang sering disalahgunakan oleh sebagian kelompok radikal atau gerakan revolusioner.

Menjawab pertanyaan mengenai Al-Imam Habib Thahir bin Husein bin Thahir—tokoh sejarah Hadramaut yang sempat mengangkat senjata dan bergelar Amirul Mukminin—Habib Umar meluruskan bahwa langkah tersebut sama sekali bukan bentuk pemberontakan (inqilab).

“Sama sekali tidak ada dalam perjalanan hidup Habib Thahir tindakan mengobarkan pemberontakan terhadap penguasa atau menyulut revolusi. Beliau hanya memperluas komunikasi dengan suku-suku untuk menghentikan kezaliman dan menegakkan syariat tanpa pertumpahan darah,” tegas Habib Umar.

Habib Umar menambahkan bahwa ketika Habib Thahir menyadari bahwa pendekatan bersenjata tersebut berisiko memicu sentimen antarsuku dan tidak mencapai tujuan ideal syariat, beliau secara mandiri merevisi metodenya dan kembali ke jalur utama para imammah pendahulu, yaitu pendidikan dan penyucian jiwa (tazkiyatun nufus).

Partai Politik, Ambisi Kekuasaan, dan Marwah Ulama

Sesi tanya jawab berlangsung alot saat seorang penanya aktivis politik dari Indonesia mengajukan pertanyaan reflektif. Apakah partai politik saat ini bisa dikiaskan dengan “pedang” yang dipatahkan oleh Al-Faqih Al-Muqaddam? Dan bagaimana posisi kiai atau para gawagis yang kini masuk ke dalam politik praktis?

Menjawab hal ini, Habib Umar mengingatkan bahaya laten dari ambisi kekuasaan (harsh ‘ala al-imarah) yang kerap dibungkus dengan slogan-slogan bernada agama atau penegakan keadilan.

“Seseorang mungkin membungkus ambisinya dengan dalih ingin menghapus kezaliman atau menerapkan syariat, tetapi Rasulullah SAW lebih mengetahui hakikatnya ketika bersabda: ‘Kalian akan sangat berambisi pada kekuasaan, dan ia akan menjadi penyesalan di hari kiamat.’ Setiap orang yang berambisi pada kekuasaan akan berhadapan dengan penyesalan tersebut,” tutur Habib Umar.

Beliau menyoroti fenomena ketika ulama terseret ke dalam pusaran politik praktis dan terpecah di berbagai partai politik. Akibatnya, hubungan antar-ulama yang seharusnya saling menghormati berubah menjadi saling mencela demi perebutan elektoral.

“Dahulu kezaliman terjadi antara sebagian penguasa dan rakyat. Kini kezaliman berpindah ke antara sesama ulama. Jika ulama sudah saling menzalimi dan mencela satu sama lain, ini adalah musibah yang sangat besar,” ungkapnya prihatin.

Habib Umar menekankan martabat luhur ilmu agama (syaraf al-‘ilm). Menurutnya, kedudukan ideal ulama adalah menjadi pengayom dan penasihat spiritual bagi seluruh elemen bangsa, bukan pengekor kepentingan partai.

“Sungguh sebuah hinaan bagi ilmu dan kehinaan bagi penerus Nabi jika seorang politisi memimpin dan mengendalikan seorang ulama dengan politiknya. Jika ada partai yang ingin menerapkan syariat dan kebaikan, hendaklah politisi yang datang berguru dan mendengar nasihat dari para ulama, bukan menjadikan ulama sekadar alat penarik suara,” tegas beliau.

Pelajaran dari Bencana “Revolusi” di Dunia Islam

Sebagai penutup, Habib Umar bin Hafidz mengajak peserta untuk melihat realitas pahit yang menimpa beberapa negara Muslim akibat gerakan revolusi politik atau gelombang konflik kekuasaan, seperti yang terjadi di Irak, Suriah, dan Yaman.

Beliau mengingatkan bahwa janji-janji perubahan politik sering kali justru membawa kehancuran tatanan ekonomi, kebudayaan, dan pusat-pusat keilmuan Islam yang telah dibangun berabad-abad.

Beliau menyimpulkan bahwa benteng pertahanan utama umat Islam—khususnya di Indonesia—adalah menjaga independensi ulama, memperkuat persatuan, serta mengedepankan nasihat yang penuh keikhlasan dan hikmah kepada para penguasa demi terciptanya kedamaian dan kemaslahatan bersama.[]

Tags: dakwahHabib Umar bin HafidzIslamUlama
ShareTweetSendShare

Related Posts

Habib Jindan Ke Aceh Akhir September Dalam Rangka Rihlah Dakwah Aceh 2026, Berikut Profilnya
Daerah

Habib Jindan Ke Aceh Akhir September Dalam Rangka Rihlah Dakwah Aceh 2026, Berikut Profilnya

September 5, 2026
Nabi Wajib Dicintai, Namun Cinta Butuh Bukti
Oase

Nabi Wajib Dicintai, Namun Cinta Butuh Bukti

September 4, 2026
Perihal Kepemimpinan: Kita Tidak kekurangan Tokoh Teladan
Oase

Perihal Kepemimpinan: Kita Tidak kekurangan Tokoh Teladan

August 31, 2026
Kasus HIV/AIDS di Pidie Capai 132 Orang, Ustadz Amri Fatmi Ajak Jamaah Waspada
Daerah

Kasus HIV/AIDS di Pidie Capai 132 Orang, Ustadz Amri Fatmi Ajak Jamaah Waspada

August 1, 2026
Mengurangi Gesekan Antara Kaum Tradisionalis dan Kaum Akademis dengan Tiga Tradisi Keilmuan Islam ala Prof. Amin Abdullah
Oase

Mengurangi Gesekan Antara Kaum Tradisionalis dan Kaum Akademis dengan Tiga Tradisi Keilmuan Islam ala Prof. Amin Abdullah

April 17, 2026
Ngaji di Jejak Ulama: Mahasiswa KIP STISNU Aceh Kaji Tafsir Baidhawi Melayu
Daerah

Ngaji di Jejak Ulama: Mahasiswa KIP STISNU Aceh Kaji Tafsir Baidhawi Melayu

January 31, 2026
Next Post
Lesunya Daya Beli Sektor Ritel Bangunan di Banda Aceh, Toko Bangunan Terbeban Kenaikan Harga Material

Lesunya Daya Beli Sektor Ritel Bangunan di Banda Aceh, Toko Bangunan Terbeban Kenaikan Harga Material

Discussion about this post

Recommended Stories

GEMURA Aceh Dorong Optimalisasi Serapan Anggaran dan Transparansi Tata Kelola Pemerintahan

GEMURA Aceh Dorong Optimalisasi Serapan Anggaran dan Transparansi Tata Kelola Pemerintahan

August 26, 2026
7 Jurus BK Hebat: Langkah Strategis Layanan Bimbingan Konseling di Sekolah

7 Jurus BK Hebat: Langkah Strategis Layanan Bimbingan Konseling di Sekolah

July 31, 2026
Mualem Diseret, Imbas Pemecatan Almer oleh Mawardi Nur Sebagai Direksi PT. PEMA

Mualem Diseret, Imbas Pemecatan Almer oleh Mawardi Nur Sebagai Direksi PT. PEMA

April 14, 2026
  • Dataset
  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • TINJAUAN.ID
  • Pedoman Media Siber
Email: redaksi@tinjauan.id

© 2025 Tinjauan.ID - Strategis dan Mencerahkan!

No Result
View All Result
  • TINJAUAN.ID
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Dunia
  • Ekonomi
  • Politik
  • Opini
  • Sejarah
  • Editorial
  • Pojok Ekraf

© 2025 Tinjauan.ID - Strategis dan Mencerahkan!