Strategis dan Mencerahkan!
No Result
View All Result
  • TINJAUAN.ID
  • Global
  • Politik
    • News
    • Nasional
    • Regional
    • Daerah
  • Ekonomi
  • Opini
  • Sejarah
  • Liputan Khusus
  • Editorial
  • Pojok Ekraf
  • TINJAUAN.ID
  • Global
  • Politik
    • News
    • Nasional
    • Regional
    • Daerah
  • Ekonomi
  • Opini
  • Sejarah
  • Liputan Khusus
  • Editorial
  • Pojok Ekraf
No Result
View All Result
Strategis dan Mencerahkan!
No Result
View All Result
Home Kolom Oase

Syekh Ali Jum’ah Membahas Realitas Umat dan Tantangan Generasi Muda Muslim di Era Digital

TINJAUAN ID by TINJAUAN ID
October 30, 2026
Reading Time: 6 mins read
0
Syekh Ali Jum’ah Membahas Realitas Umat dan Tantangan Generasi Muda Muslim di Era Digital

TINJAUAN.ID | Dalam sebuah kuliah yang disampaikan oleh Syekh Ali Jum’ah di Malaysia dengan tema “Realitas Umat dan Tantangan Generasi Muda di Era Digital”, beliau membahas empat pokok utama, yaitu realitas dan masa depan umat Islam, generasi muda Muslim dan tantangan era digital, sirah Nabi Muhammad ﷺ sebagai metode membangun manusia, serta penyucian jiwa di tengah era media sosial dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

Realitas Umat Islam dan Masa Depannya

Diskusi dibuka dengan pertanyaan mengenai kondisi umat Islam yang menghadapi perpecahan, lemahnya kesadaran, serta munculnya ekstremisme dan sikap berlebihan dalam memahami agama. Pertanyaan utamanya adalah bagaimana umat Islam dapat memulihkan persatuan dan peran peradabannya tanpa kehilangan keragaman budaya dan mazhab.

Syekh Ali Jum’ah menjadikan kembali kepada Rasulullah ﷺ dan meneladani beliau sebagai titik awal. Menurutnya, menghadapi realitas dan berbagai krisis tidak seharusnya bertolak dari gagasan abstrak atau reaksi spontan semata, melainkan dari pertanyaan: Apa yang telah diajarkan dan diarahkan oleh Rasulullah ﷺ kepada kita ketika menghadapi situasi seperti ini?

Ia mengutip sejumlah ayat Al-Qur’an yang memerintahkan umat Islam untuk mengikuti Rasulullah ﷺ, menjadikan beliau sebagai rujukan, serta menerima ajaran yang dibawanya.

Selanjutnya, ia memaparkan tinjauan sejarah mengenai persatuan umat dan institusi kekhalifahan. Ia menjelaskan bagaimana umat Islam pada awalnya berada dalam satu kepemimpinan, sebelum kemudian muncul lebih dari satu kekhalifahan di wilayah Timur dan Barat. Para ulama fikih, menurut paparannya, kemudian menghadapi dan merespons realitas politik tersebut.

Ia juga membahas jatuhnya Baghdad pada 656 Hijriah, perpindahan kekhalifahan Abbasiyah ke Kairo, serta perlawanan terhadap bangsa Mongol atau Tatar. Ia menyinggung pula bagaimana sebagian kelompok dari bangsa tersebut kemudian memeluk Islam.

Pembahasan berlanjut pada perpindahan pusat kekhalifahan ke Istanbul, hingga penghapusan institusi kekhalifahan pada 1924. Setelah itu, sejumlah ulama Muslim berupaya menyelenggarakan konferensi di Kairo dan India untuk membahas persoalan kekhalifahan dan persatuan umat Islam.

Dari tinjauan sejarah tersebut, ia beralih pada pertanyaan praktis: apa yang seharusnya dilakukan umat Islam dalam kondisi saat ini?

Syekh Ali Jum’ah menekankan pentingnya berpegang pada tuntunan Nabi ketika menghadapi masa penuh fitnah. Ia memperingatkan bahaya membentuk kelompok atau organisasi bersenjata di luar tatanan yang berlaku, serta terlibat dalam konflik dan pembunuhan demi merebut kekuasaan.

Menurutnya, keinginan untuk melakukan perbaikan tidak membenarkan seseorang menciptakan jalannya sendiri yang tidak diperintahkan oleh Rasulullah ﷺ.

Ia mencontohkan fase Makkah dalam sejarah dakwah Nabi. Selama bertahun-tahun, kaum Muslimin hidup sebagai kelompok minoritas dan menghadapi berbagai penderitaan. Namun, mereka tidak mengubah dakwah menjadi konfrontasi bersenjata. Mereka bersabar, mengikuti tuntunan Nabi, dan menyerahkan hasilnya kepada Allah hingga datang pertolongan pada waktunya.

Pelajaran tersebut dikaitkan dengan pentingnya menjaga keamanan dan stabilitas, serta tidak menjadikan agama sebagai pintu masuk menuju kekacauan dan bentrokan.

Syekh Ali Jum’ah juga menjelaskan makna ungkapan “Alaika bi khassati nafsik” atau “Perhatikan dan perbaikilah dirimu sendiri.” Menurutnya, ungkapan ini tidak berarti mengasingkan diri atau bersikap pasif terhadap keadaan.

Sebaliknya, seseorang harus memulai dengan membangun kualitas dirinya sendiri: menghafal Al-Qur’an, memperbanyak zikir, mempelajari ilmu-ilmu syariat, sekaligus mendalami kedokteran, teknik, bahasa, dan berbagai bidang ilmu pengetahuan. Ia juga harus bekerja dan berkontribusi dalam memakmurkan bumi.

Ia turut membedakan persatuan umat Islam secara keseluruhan dengan kewenangan pemerintahan dalam masing-masing negara. Meskipun tidak terdapat satu kekhalifahan yang menaungi seluruh umat Islam, aturan dan ketertiban umum di setiap negara tetap berkaitan dengan otoritas yang berlaku di negara tersebut. Sementara itu, persatuan umat merupakan tujuan yang lebih luas.

Baginya, memperbaiki diri tidak bertentangan dengan membangun kekuatan. Ia menggabungkan prinsip memperbaiki diri dengan perintah untuk mempersiapkan dan mengerahkan kemampuan. Karena itu, umat Islam perlu mengembangkan ilmu pengetahuan, keahlian profesional, riset, penguasaan bahasa, dan kapasitas lainnya, tetapi tanpa terjerumus ke dalam kekacauan dan konflik yang tidak terkendali.

Ia juga memperingatkan bahaya tampil sebagai otoritas keagamaan tanpa dasar ilmu yang memadai. Pengalaman politik, pernah dipenjara, atau terlibat dalam konflik tidak serta-merta menjadikan seseorang ahli agama. Ia menyerukan agar umat kembali kepada sunnah, ilmu pengetahuan, metodologi yang benar, dan sikap adil dalam membaca realitas.

Menurut Syekh Ali Jum’ah, jalan menghadapi ketidakstabilan umat bukanlah kekacauan atau pembentukan kekuatan tandingan, melainkan mengikuti tuntunan Nabi, membangun kualitas manusia, mengembangkan ilmu, memperbanyak zikir, bekerja, memakmurkan bumi, dan memperkuat kemampuan. Perubahan harus diupayakan melalui cara yang benar dan dengan kesabaran hingga tiba waktunya.

Generasi Muda Muslim dan Tantangan Era Digital

Pembahasan selanjutnya berfokus pada generasi muda Muslim yang hidup di antara nilai-nilai agama yang mereka peroleh dari keluarga, masyarakat, dan lembaga pendidikan, dengan dunia digital yang bergerak cepat serta terus menghadirkan gagasan dan gaya hidup baru.

Pertanyaan yang diajukan adalah bagaimana generasi muda dapat membuka diri terhadap perkembangan dunia tanpa kehilangan identitas dan prinsip keagamaannya.

Syekh Ali Jum’ah menekankan pentingnya mengajarkan metode berpikir dan metodologi kepada generasi muda. Akidah tidak boleh sekadar menjadi informasi yang dihafalkan, tetapi harus membentuk kerangka berpikir yang hidup dalam kesadaran mereka.

Kerangka tersebut mencakup keyakinan bahwa alam semesta memiliki Pencipta, manusia tidak diciptakan tanpa tujuan, terdapat wahyu dan tanggung jawab keagamaan, serta adanya kehidupan akhirat dengan perhitungan, pahala, dan hukuman.

Jika prinsip-prinsip dasar ini tertanam kuat, generasi muda akan mampu memasuki berbagai lingkungan dan memahami perkembangan zaman, sekaligus membedakan hal-hal yang bermanfaat dari yang merugikan.

Ia mencontohkan kaum muda Muslim yang tinggal di Inggris, Amerika Serikat, dan negara-negara lain. Mereka dapat belajar di universitas, menjalani kehidupan modern, menggunakan media sosial dan kecerdasan buatan, bahkan berinovasi dalam bidang tersebut, tanpa harus kehilangan keyakinan mereka.

Syekh Ali Jum’ah merangkum kebutuhan utama generasi muda ke dalam dua hal:

  • Akidah yang jelas.
  • Kesadaran yang terus-menerus terhadap akidah tersebut.

Tujuannya bukan menjauhkan generasi muda dari perkembangan zaman. Mereka tetap dapat terlibat dalam dunia gim, teknologi, dan berbagai sarana modern, tetapi harus tetap menyadari keberadaan Tuhan dan tanggung jawab mereka sebagai manusia.

Ia juga menekankan pentingnya zikir kepada Allah untuk menjaga kesadaran tersebut. Zikir tidak selalu membutuhkan waktu khusus atau biaya. Zikir dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, menerangi hati, dan membantu menjaga kehadiran nilai-nilai keimanan di tengah kesibukan modern.

Masalahnya bukan terletak pada keterlibatan generasi muda dalam dunia digital, melainkan pada keterlibatan tanpa metodologi berpikir dan landasan nilai yang jelas. Solusinya adalah membangun generasi muda yang memiliki akidah kuat, senantiasa mengingatnya, mampu hidup di zamannya, serta menguasai teknologi tanpa kehilangan identitas.

Sirah Nabi sebagai Metode Membangun Manusia

Pembahasan berikutnya menyoroti bagaimana sirah atau perjalanan hidup Nabi Muhammad ﷺ dapat diperkenalkan kepada generasi muda dan masyarakat secara umum, sehingga tidak berhenti sebagai rangkaian peristiwa sejarah, tetapi menjadi pedoman dalam menghadapi persoalan identitas, hubungan antarmanusia, kesehatan mental, dan tanggung jawab sosial.

Syekh Ali Jum’ah menegaskan bahwa Rasulullah ﷺ merupakan teladan dan rahmat bagi seluruh alam. Menurutnya, manfaat sirah Nabi dalam aspek kemanusiaan dan peradaban tidak terbatas pada umat Islam.

Dalam konteks ini, ia menjelaskan konsep Umat Dakwah (Ummat al-Da’wah) dan Umat Ijabah (Ummat al-Ijabah). Konsep tersebut digunakan untuk menegaskan universalitas risalah Nabi serta luasnya cakupan manusia yang telah menerima atau mendengar seruan dakwah beliau.

Ia menyinggung ketertarikan sejumlah kalangan non-Muslim terhadap sosok Nabi Muhammad ﷺ dan pengaruh historis beliau. Di antaranya, penempatan Nabi Muhammad pada posisi teratas dalam buku The 100 karya Michael H. Hart. Ia juga menyinggung representasi Nabi dalam pembahasan mengenai tokoh-tokoh besar pembentuk hukum yang ditampilkan di gedung Mahkamah Agung Amerika Serikat.

Contoh-contoh tersebut disampaikan untuk menunjukkan bahwa pengaruh sirah dan ajaran Nabi telah melampaui komunitas yang secara langsung mengimani beliau.

Selanjutnya, Syekh Ali Jum’ah membahas cara praktis mengambil pelajaran dari sirah Nabi. Ia menempatkan kemuliaan akhlak sebagai inti risalah dan mengutip hadis: “Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada. Iringilah keburukan dengan kebaikan yang akan menghapusnya, dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.”

Dari hadis tersebut, ia menyusun tiga prinsip utama untuk membangun manusia.

  •  Hubungan manusia dengan Allah: berlandaskan ketakwaan.
  • Hubungan manusia dengan dirinya sendiri: berlandaskan kesediaan memperbaiki kesalahan dan menggantinya dengan kebaikan.
  • Hubungan manusia dengan sesama: berlandaskan akhlak yang mulia.

Ketiga hubungan tersebut pada akhirnya mengarah pada upaya memperbaiki hubungan manusia dengan Allah, dirinya sendiri, dan alam semesta di sekitarnya.

Ia menghubungkan kerangka tersebut dengan tiga tujuan besar yang berulang dalam pemikiran dan pendidikan yang dikembangkannya, yaitu beribadah kepada Allah, memakmurkan bumi, dan menyucikan jiwa. Menurutnya, prinsip-prinsip ini dapat diterapkan dalam berbagai bidang kehidupan.

Bagi Syekh Ali Jum’ah, sirah Nabi bukan sekadar kisah masa lalu, melainkan metode membangun manusia. Seseorang harus memperbaiki hubungannya dengan Allah melalui ketakwaan, memperbaiki dirinya melalui evaluasi dan pembenahan kesalahan, serta membangun hubungan dengan sesama melalui akhlak mulia. Dengan demikian, ia dapat menjadi hamba Allah, memakmurkan bumi, dan menyucikan jiwanya.

Penyucian Jiwa di Era Media Sosial dan Kecerdasan Buatan

Pembahasan keempat dimulai dengan persoalan yang semakin menonjol di era digital, seperti keinginan untuk tampil dan terkenal, kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain, pencarian penerimaan sosial, serta obsesi terhadap jumlah tanda suka, pembagian konten, dan kebiasaan mempertontonkan kehidupan pribadi kepada publik secara terus-menerus.

Syekh Ali Jum’ah kembali mengangkat prinsip dari hadist “Alaika bi khassati nafsik”, yakni memperhatikan dan memperbaiki diri sendiri. Ia menghubungkannya dengan pertanggungjawaban manusia atas usia dan waktu yang telah dihabiskan.

Waktu dan umur, menurutnya, tidak seharusnya dihabiskan hanya untuk mengikuti dan mengamati apa yang diunggah orang lain.

Ia menyampaikan kritik keras terhadap kondisi media sosial yang dipenuhi kebohongan, fitnah, pemutarbalikan fakta, gibah, adu domba, dan kesaksian palsu, serta semakin sulitnya memverifikasi kebenaran informasi.

Ia mengaitkan persoalan tersebut dengan hadis: “Cukuplah seseorang dianggap berdusta apabila ia menceritakan setiap hal yang didengarnya.”

Menurutnya, persoalan ini semakin serius pada masa sekarang karena manusia tidak dapat begitu saja mempercayai semua yang dilihatnya. Foto dan video dapat dimanipulasi, sementara pernyataan dapat direkayasa atau dinisbatkan kepada orang yang tidak pernah mengucapkannya.

Namun, sikapnya bukanlah penolakan terhadap teknologi. Ia justru menyerukan agar generasi muda beralih dari sekadar menjadi konsumen menjadi produsen, serta mengubah kebiasaan membuang waktu menjadi kegiatan riset dan pelayanan kepada masyarakat.

Ia menyampaikan: “Masukkan materi Islam ke dalam AI … bekerjalah bersama perkembangan baru ini … melalui upaya melayani manusia dan melayani umat Islam.”

Dengan demikian, ia membedakan teknologi itu sendiri dari cara manusia menggunakannya.

Generasi muda dapat bekerja di bidang kecerdasan buatan, penelitian, dan pengembangan teknologi, sembari tetap memiliki kemampuan untuk switch off atau mematikan akses terhadap konten dan arus informasi yang menguras energi, merusak kehidupan beragama, atau mengganggu kehidupan mereka.

Mereka juga tidak seharusnya mengikuti sesuatu hanya karena hal tersebut sedang populer atau dilakukan oleh banyak orang.

Tujuannya bukan melarikan diri dari teknologi, melainkan menguasainya agar manusia tidak dikuasai olehnya. Hal ini mencakup verifikasi informasi, pemanfaatan waktu secara bijaksana, penghindaran konten yang merugikan, serta penggunaan kecerdasan buatan dan teknologi modern untuk mendukung ilmu pengetahuan, penelitian, dan pelayanan kepada masyarakat.

Tags: dakwahIslammuslimSyekh Ali Jum'ahUlama
ShareTweetSendShare

Related Posts

Riset: 99 Persen Mualaf di Amerika Serikat Masuk Islam Setelah Mempelajari Agama Islam
Oase

Riset: 99 Persen Mualaf di Amerika Serikat Masuk Islam Setelah Mempelajari Agama Islam

October 26, 2026
Pesan Al Habib Umar bin Hafidz tentang Marwah Ilmu dan Menyikapi Politik Praktis
Oase

Pesan Al Habib Umar bin Hafidz tentang Marwah Ilmu dan Menyikapi Politik Praktis

October 22, 2026
Habib Jindan Ke Aceh Akhir September Dalam Rangka Rihlah Dakwah Aceh 2026, Berikut Profilnya
Daerah

Habib Jindan Ke Aceh Akhir September Dalam Rangka Rihlah Dakwah Aceh 2026, Berikut Profilnya

September 5, 2026
Nabi Wajib Dicintai, Namun Cinta Butuh Bukti
Oase

Nabi Wajib Dicintai, Namun Cinta Butuh Bukti

September 4, 2026
Perihal Kepemimpinan: Kita Tidak kekurangan Tokoh Teladan
Oase

Perihal Kepemimpinan: Kita Tidak kekurangan Tokoh Teladan

August 31, 2026
Kasus HIV/AIDS di Pidie Capai 132 Orang, Ustadz Amri Fatmi Ajak Jamaah Waspada
Daerah

Kasus HIV/AIDS di Pidie Capai 132 Orang, Ustadz Amri Fatmi Ajak Jamaah Waspada

August 1, 2026

Discussion about this post

Recommended Stories

Kak Na: TP Posyandu Aceh Dukung Upaya Kemenkes Capai Target Cakupan Vaksinasi dan IDL

Penyeberangan Jakarta-Malahayati Segera Beroperasi, Pangkas Biaya Tinggi dan Dorong Pertumbuhan Ekonomi Aceh

May 23, 2026
Pimpin Upacara Hari Santri, Bupati Aceh Besar Ajak Santri Lestarikan Bahasa Aceh

Pimpin Upacara Hari Santri, Bupati Aceh Besar Ajak Santri Lestarikan Bahasa Aceh

October 24, 2026
Merdeka Community Run Berlangsung Meriah

Merdeka Community Run Berlangsung Meriah

August 24, 2025
  • Dataset
  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • TINJAUAN.ID
  • Pedoman Media Siber
Email: redaksi@tinjauan.id

© 2025 Tinjauan.ID - Strategis dan Mencerahkan!

No Result
View All Result
  • TINJAUAN.ID
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Dunia
  • Ekonomi
  • Politik
  • Opini
  • Sejarah
  • Editorial
  • Pojok Ekraf

© 2025 Tinjauan.ID - Strategis dan Mencerahkan!