BANDA ACEH — Pergerakan usaha ritel bahan bangunan di toko bangunan di Banda Aceh saat ini tengah berada dalam tekanan berat. Gelombang penurunan daya beli masyarakat yang dikombinasikan dengan kenaikan harga bahan material bangunan dan keterlambatan pencairan dana proyek infrastruktur membuat aktivitas transaksi di tingkat toko bangunan merosot signifikan jika dibandingkan dengan kondisi dua tahun lalu.
Pengusaha toko bangunan di Banda Aceh, Safrizal, mengungkapkan bahwa dinamika pasar sebenarnya sempat mencatatkan kinerja yang sangat stabil sepanjang tahun 2024.
Kala itu, tingkat permintaan konsumen dan pasokan barang dari distributor berada dalam keseimbangan yang ideal. Namun, memasuki tahun 2025, sinyal lesunya pasar mulai terlihat seiring menyusutnya pasokan distributor dan menurunnya kemampuan belanja konsumen. Kondisi tersebut berlanjut hingga tahun 2026, di mana angka penjualan di tingkat toko ritel bangunan diperkirakan telah anjlok mencapai 20 hingga 30 persen.
“2024 stabilnya banyak keluar, banyak masuk barang. 2025 suplai berkurang, daya beli juga mulai menurun. 2026 makin parah lagi. Turunnya sekitar seperempat, 20 sampai 30 persenlah,” kata Safrizal.
Rentetan Gangguan Rantai Pasok dan Lonjakan Harga
Anjloknya transaksi di tingkat eceran tidak lepas dari serangkaian faktor eksternal yang memicu lonjakan harga material utama.
Gejolak geopolitik global di kawasan Selat Hormuz berdampak langsung pada kenaikan harga bahan-bahan kimia industri sebagai bahan baku dasar material.
Tekanan tersebut kian diperparah oleh musibah cuaca ekstrem dan bencana banjir yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera Utara dan Aceh, sehingga melumpuhkan jalur distribusi darat.
Kemacetan parah pada infrastruktur transportasi, seperti yang terjadi di jembatan penghubung lintas Medan–Aceh, membuat arus pengiriman barang terhambat dalam waktu yang lama.
Kondisi kelangkaan pasokan ini kemudian diduga dimanfaatkan oleh oknum penimbun barang untuk memainkan harga di pasaran. Dampaknya, harga komoditas vital seperti semen sempat melonjak tajam dari harga normal sekitar Rp60.000 menjadi Rp90.000 hingga Rp100.000 per sak, sebelum akhirnya berangsur turun.
Sementara itu, komoditas besi beton terus mengalami kenaikan dan pasokan material pasir sangat bergantung pada kondisi cuaca serta debit air di lokasi tambang galian pasir.
Efek Domino Macetnya Pembayaran Proyek
Tantangan bagi pelaku usaha toko bangunan ritel makin kompleks akibat terhambatnya arus kas pencairan proyek, baik proyek infrastruktur pemerintah maupun swasta. Banyak pekerjaan konstruksi di lapangan yang telah mencapai progres 50 hingga 60 persen, namun terkendala dalam pencairan termin pembayaran.
Safrizal menjelaskan bahwa kondisi ini menciptakan efek domino yang merugikan rantai usaha konstruksi lokal di daerah.
“Pemerintah enggak mutarin uang, proyek orang udah jalan 50-60 persen barang udah ambil, macet pembayaran. Distributor macet, kita macet juga. Kalau toko yang bermitra gitu, macet pembayaran. Toko harus bayar ke distributor, macet juga,” tutur Safrizal.
Di sisi lain, keberadaan toko bangunan skala kecil atau UMKM semakin terimpit oleh pola pengadaan barang dari pengembang properti (developer) skala besar.
Menurut Safrizal, para pengembang kini lebih memilih memotong rantai distribusi dengan membeli material secara langsung dan memborong dari distributor besar di kota-kota pusat seperti Medan. Pola ini praktis menutup peluang toko bangunan eceran lokal untuk mendapatkan porsi dari proyek-proyek pembangunan hunian.
Perilaku Konsumen dan Prospek Pasar
Menghadapi tingginya harga material dan ketidakpastian kondisi ekonomi hingga penghujung tahun, perilaku konsumen ritel turut mengalami pergeseran. Masyarakat dan pemilik hunian secara umum memilih untuk memegang uang tunai (safety cash) guna mengantisipasi kebutuhan pokok yang lebih mendesak.
“Orang ini safety uang untuk bertahan hidup, bukan untuk uang bulan 12 ini, tapi untuk 2027. Jadi orang tahan uang, tahan belanja,” tambah Safrizal.
Akibatnya, rencana renovasi hunian ringan maupun pembangunan rumah mandiri sebagian besar ditunda sampai batas waktu yang belum ditentukan.
Tanpa adanya intervensi stabilisasi harga material dan kelancaran serapan anggaran proyek di sektor konstruksi, para pelaku usaha memprediksi pasar bahan bangunan masih akan berada dalam fase stagnasi hingga tahun depan.[]










Discussion about this post