Strategis dan Mencerahkan!
No Result
View All Result
  • TINJAUAN.ID
  • Global
  • Politik
    • News
    • Nasional
    • Regional
    • Daerah
  • Ekonomi
  • Opini
  • Sejarah
  • Liputan Khusus
  • Editorial
  • Pojok Ekraf
  • TINJAUAN.ID
  • Global
  • Politik
    • News
    • Nasional
    • Regional
    • Daerah
  • Ekonomi
  • Opini
  • Sejarah
  • Liputan Khusus
  • Editorial
  • Pojok Ekraf
No Result
View All Result
Strategis dan Mencerahkan!
No Result
View All Result
Home Kolom Sejarah

PKI dan Gestapu dalam Kesaksian Salim Said: Catatan Sejarah Indonesia

TINJAUAN ID by TINJAUAN ID
October 1, 2026
Reading Time: 5 mins read
0
PKI dan Gestapu dalam Kesaksian Salim Said: Catatan Sejarah Indonesia

Ilmuwan politik Salim Said mencatat peristiwa sejarah kelam Indonesia lewat buku yang ia tulis, Dari Gestapu ke Reformasi: Serangkaian Kesaksian karya Salim Said.

TINJAUAN.ID | Apa sebenarnya yang terjadi pada malam 30 September hingga 1 Oktober 1965? Siapa yang berada di balik Gerakan 30 September (Gestapu)? Apakah sejak awal para jenderal memang hendak dibunuh, atau pembantaian itu merupakan perkembangan yang tidak direncanakan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi salah satu bagian paling penting dalam buku Dari Gestapu ke Reformasi: Serangkaian Kesaksian karya Salim Said.

Namun, ada satu hal yang perlu ditegaskan sejak awal. Salim Said sendiri menyebut bukunya belum bisa disebut sebuah memoar. Ia menjelaskan bahwa buku tersebut merupakan kumpulan kesaksian yang bersumber dari pengalaman dan pengamatannya, kemudian dilengkapi dengan wawancara, memoar, dokumen, serta bahan bacaan lain. Ia juga mengakui bahwa kesaksiannya tetap mungkin mengandung kekeliruan.

Karena itu, tulisan Salim tentang Gestapu lebih tepat dibaca sebagai rekonstruksi dan interpretasi seorang saksi sekaligus peneliti politik-militer, bukan sebagai satu-satunya versi final sejarah 1965.

Pagi 1 Oktober yang Mengubah Sejarah Indonesia

Salim berusia 22 tahun ketika peristiwa itu terjadi. Pada malam 30 September 1965, ia masih menjalankan tugas sebagai reporter. Ia meliput pengajian di kediaman resmi Panglima Angkatan Laut R.E. Martadinata. Setelah pekerjaan selesai, ia pulang lewat tengah malam.

Pagi 1 Oktober, Salim berangkat dengan sepeda tua menuju Fakultas Psikologi Universitas Indonesia di Jalan Diponegoro. Ia tidak mengetahui perkembangan politik terakhir karena tidak memiliki radio di pondokannya. Baru ketika tiba di kampus, seorang teman memberitahunya bahwa putri Jenderal Ahmad Yani mengatakan ayahnya telah diculik.

Informasi tersebut segera menghubungkan pikirannya dengan isu “Dewan Jenderal”, yang sebelumnya menjadi bagian dari propaganda politik PKI mengenai rencana kudeta terhadap Presiden Sukarno.

Salim kemudian menuju rumah Wiratmo Sukito, tempat para seniman, budayawan, cendekiawan, dan aktivis sering berkumpul membicarakan politik. Dari sana ia mendengar kesimpulan awal bahwa peristiwa tersebut merupakan pekerjaan PKI.

Tidak lama kemudian, Salim menuju rumah Brigjen Soegandhi, Direktur Penerangan Staf Angkatan Bersenjata sekaligus pemimpin umum koran Angkatan Bersenjata, tempatnya bekerja.

Soegandhi baru saja mendatangi sejumlah rumah jenderal yang menjadi korban. Darah, menurut cerita Soegandhi, masih terlihat di rumah-rumah mereka.

Dalam suasana hubungan PKI dan Angkatan Darat yang memang sedang sangat tegang, kesimpulan bahwa PKI berada di balik peristiwa tersebut dengan cepat muncul di antara mereka.

Konflik yang Sudah Lama Menumpuk

Salim tidak menggambarkan Gestapu sebagai peristiwa yang muncul tiba-tiba dari ruang kosong. Menurut kesaksiannya, menjelang 1965 konflik politik antara PKI dan kekuatan anti-Komunis telah semakin tajam.

Ia mencatat konflik agraria yang melibatkan Barisan Tani Indonesia (BTI), bentrokan antara kelompok Komunis dan kalangan pesantren, serangan terhadap Himpunan Mahasiswa Islam, tekanan terhadap para pendukung Manifesto Kebudayaan, serta kampanye politik terhadap pimpinan Angkatan Darat.

Di bidang kebudayaan dan media, Salim juga menggambarkan meningkatnya serangan terhadap kelompok yang dianggap kontra-revolusioner. Ia menyebut Bintang Timur dan rubrik Lentera yang diasuh Pramoedya Ananta Toer sebagai salah satu bagian dari suasana politik tersebut.

Bagi Salim dan teman-temannya, benturan antara PKI dan Angkatan Darat akhirnya tampak sebagai sesuatu yang hampir tidak terhindarkan. Kondisi saat itu telah memanas dan seolah hanya menunggu waktu kapan akan meletus.

Interpretasi Salim Said menjadi sangat berbeda dari narasi sederhana bahwa sejak awal Gestapu dirancang sebagai operasi pembunuhan.

Setelah mempelajari proses Mahmillub, analisis sejumlah pakar, serta catatan pengalaman para pelaku, Salim menyatakan bahwa ia hampir yakin bahwa Sukarno, Soeharto, Kolonel Latif, Brigjen Supardjo, Letkol Untung, D.N. Aidit, dan Omar Dani memiliki pengertian yang kurang lebih sama mengenai penculikan.

Menurut Salim, yang direncanakan bukan pembantaian, melainkan penculikan untuk “pendaulatan”. Dalam konstruksi Salim, pendaulatan berarti menyingkirkan sementara orang-orang yang dianggap menghambat sebuah agenda politik.

Sasaran utamanya adalah pimpinan Angkatan Darat, terutama Jenderal Ahmad Yani. Salim menduga Sukarno ingin mengganti Yani dengan seorang jenderal yang lebih loyal kepada Presiden sebagai Panglima Tertinggi.

Persoalannya berkaitan dengan sejumlah konflik politik saat itu, termasuk Konfrontasi Malaysia, Nasakom, dan penolakan sebagian pimpinan Angkatan Darat terhadap gagasan pembentukan Angkatan Kelima.

Dalam skenario tersebut, Yani dan beberapa pimpinan Angkatan Darat akan dibawa menghadap Sukarno. Bukan untuk dibunuh, melainkan untuk didaulat.

Ketika Aidit Masuk ke Dalam Skenario

Salim tidak membebaskan PKI dari keterlibatan. Menurut rekonstruksinya, ketika informasi mengenai rencana tersebut sampai kepada Syam Kamaruzzaman, Kepala Biro Khusus PKI, D.N. Aidit kemudian memanfaatkan situasi.

Salim berpendapat Aidit memahami Gestapu sebagai persoalan internal Angkatan Darat. PKI berharap pergantian pimpinan Angkatan Darat akan menghasilkan kepemimpinan yang lebih bersahabat terhadap Sukarno dan Nasakom, sekaligus lebih mudah didekati PKI.

Dengan demikian, menurut Salim, terdapat perbedaan antara gagasan awal pergantian pimpinan Angkatan Darat dan keterlibatan PKI dalam operasi Gestapu.

Aidit, dalam konstruksi tersebut, bukan pencipta awal gagasan itu. Namun ia memilih memanfaatkannya dan melibatkan Biro Khusus PKI.

Misteri Syam Kamaruzzaman

Peran Syam menjadi salah satu bagian paling rumit dalam rekonstruksi Salim. Mengutip kesaksian Letkol Penerbang Heru Atmodjo, Salim menulis bahwa Syam justru terlihat memimpin langsung operasi militer Gestapu di Senko, meskipun di sana terdapat perwira-perwira seperti Brigjen Supardjo, Kolonel Latif, dan Letkol Untung.

Dalam persidangan, Untung menyebut Syam dan Pono sebagai bagian inti Gestapu yang mewakili Aidit. Sementara saksi Mayor Udara Suyono menyebut Syam sebagai orang yang menentukan dalam rapat-rapat perencanaan operasi.

Salim melihat persoalan besar di sini. Mengapa sebuah operasi militer yang rumit justru dipimpin seorang sipil? Mengapa para perwira yang memiliki pengalaman militer membiarkan Syam memimpin operasi tersebut?

Menurut Salim, kemungkinan jawabannya adalah posisi Syam sebagai semacam “komisaris politik” bagi para “perwira berpikiran maju” yang telah lama dibina jaringan PKI.

Menurut Salim, justruada semacam misteri terbesar  peristiwa Gestapu. Operasinya kacau. Pasukan yang ditempatkan di Monas tidak dipersiapkan dengan logistik memadai. Mereka kelaparan. Di rumah Jenderal Nasution, para penculik gagal menangkap Nasution dan malah membawa ajudannya, Pierre Tendean.

Kesalahan tersebut, bagi Salim, menunjukkan bahwa operasi penculikan tidak dipersiapkan dengan rapi. Salim menawarkan beberapa kemungkinan mengenai pembantaian.

Kemungkinan pertama, pembunuhan terjadi setelah Syam mengetahui bahwa operasi telah gagal. Kemungkinan kedua, yang disebut Salim jauh lebih kecil, pembunuhan berkaitan dengan provokasi agen asing. Namun Salim sendiri menegaskan bahwa kemungkinan tersebut tidak memiliki dukungan data dan fakta yang memadai.

Kemungkinan ketiga, yang menurutnya lebih masuk akal, adalah kepanikan di lapangan. Pasukan diperintahkan mengambil para jenderal dalam keadaan hidup atau mati. Ketika terjadi perlawanan, operasi penculikan berubah menjadi kekerasan dan pembunuhan. Kekacauan itu diperparah oleh kurangnya persiapan dan pengalaman operasional.

Lalu Bagaimana dengan Soeharto

Soeharto juga menjadi bagian penting dalam rekonstruksi Salim. Salim berpendapat Soeharto kemungkinan mengetahui bahwa sesuatu akan terjadi terhadap pimpinan Angkatan Darat. Kolonel Latif bahkan mendatanginya di Rumah Sakit Gatot Subroto beberapa jam sebelum operasi.

Namun, menurut Salim, informasi yang diterima Soeharto bukanlah bahwa para jenderal akan dibunuh, melainkan bahwa akan ada tindakan untuk menggagalkan apa yang disebut sebagai rencana kudeta Dewan Jenderal.

Karena itu, Salim menyimpulkan bahwa Soeharto mengetahui adanya rencana “pendaulatan”, tetapi tidak mengetahui bahwa operasi tersebut akan berakhir dengan pembantaian.

Ketika para jenderal akhirnya terbunuh, situasinya berubah total. Soeharto kemudian mengambil kendali Angkatan Darat dan bergerak menghancurkan Gestapu serta kekuatan PKI.

Pada bagian akhir bab tersebut, Salim menyampaikan kesimpulan yang menjadi inti interpretasinya. Menurutnya, pembantaian para jenderal bukan berdasarkan perintah Presiden Sukarno, D.N. Aidit, maupun Soeharto.

Dalam konstruksi Salim, Sukarno menghendaki pergantian pimpinan Angkatan Darat. Aidit memanfaatkan rencana tersebut dengan melibatkan Biro Khusus PKI. Sedangkan pembantaian berkembang kemudian akibat kekacauan dan kegagalan operasi di lapangan.

Namun, kesimpulan itu tidak berarti Salim menganggap PKI tidak terlibat. Justru sebaliknya. Menurut Salim, keputusan Aidit untuk ikut memainkan skenario tersebut dan melibatkan Biro Khusus membuat PKI tetap memiliki keterlibatan dalam Gestapu.

Ppembacaan Salim Said menjadi penting. Ia tidak menawarkan sejarah 1965 sebagai cerita sederhana tentang satu pihak yang merancang seluruh peristiwa dari awal sampai akhir.

Ia melihatnya sebagai rangkaian keputusan, kepentingan, informasi yang bocor, operasi yang kacau, serta tindakan para aktor yang kemudian menghasilkan konsekuensi jauh lebih besar daripada yang mungkin mereka bayangkan.

Gestapu, dalam kesaksian Salim Said, bermula sebagai upaya “pendaulatan” terhadap pimpinan Angkatan Darat, tetapi berubah menjadi pembantaian, dan dari pembantaian itulah lahir perubahan besar dalam arah politik Indonesia yang mengubah sejarah Indonesia kontemporer.

Tetapi bahkan Salim mengakui bahwa sejumlah pertanyaan tetap menjadi misteri. Epilog Anhar Gonggong atas buku tersebut mencatat pertanyaan mengenai siapa sebenarnya dalang Gestapu, siapa saja yang mengetahui rencana sebelumnya, serta apakah pembantaian memang direncanakan sejak awal.

Kesimpulan yang ditarik dari kesaksian Salim adalah bahwa sejumlah elite kemungkinan mengetahui akan adanya peristiwa besar dan rencana penculikan, tetapi tidak memperkirakan bahwa penculikan tersebut akan berujung pada pembantaian.

Itulah sebabnya, lebih dari enam dekade kemudian, Gestapu tetap menjadi salah satu simpul paling kontroversial dalam sejarah Indonesia. Bukan hanya karena siapa yang berada di baliknya, tetapi juga karena pertanyaan tentang bagaimana sebuah rencana politik dapat berubah menjadi tragedi nasional.

Tags: GestapuindonesiaPKISalim SaidSejarah
ShareTweetSendShare

Related Posts

Hamka, Hayati dan Tonjolan Buah Dada: Kolonialisme dan Budaya yang Porak-Poranda
Prolegomena

Hamka, Hayati dan Tonjolan Buah Dada: Kolonialisme dan Budaya yang Porak-Poranda

September 13, 2026
Dokumen CIA 1984: Saat Jepang Memburu Minyak di Lepas Pantai Aceh
Sejarah

Dokumen CIA 1984: Saat Jepang Memburu Minyak di Lepas Pantai Aceh

September 10, 2026
Mengenalkan Kembali Pengetahuan Lama Melalui Naskah Kuno kepada Generasi Muda Aceh
Daerah

Mengenalkan Kembali Pengetahuan Lama Melalui Naskah Kuno kepada Generasi Muda Aceh

August 22, 2026
Kisah Mar’ie Muhammad: Menteri Keuangan Jujur yang Dijuluki “Mr. Clean”
Sejarah

Kisah Mar’ie Muhammad: Menteri Keuangan Jujur yang Dijuluki “Mr. Clean”

August 22, 2026
Sejarah Perayaan Maulid Nabi (Molod) di Aceh
Sejarah

Sejarah Perayaan Maulid Nabi (Molod) di Aceh

August 19, 2026
Generasi Muda Diperkenalkan dengan Naskah Aceh Kuno Koleksi Rizki Wahyudi
Daerah

Generasi Muda Diperkenalkan dengan Naskah Aceh Kuno Koleksi Rizki Wahyudi

August 16, 2026
Next Post
Prabowo Reshuffle Kabinet, Sejumlah Menteri dan Pejabat Negara Dilantik

Prabowo Reshuffle Kabinet, Sejumlah Menteri dan Pejabat Negara Dilantik

Pimpin PERKEMI Aceh 2026-2030, Erwin Ferdinansyah Bidik Penguatan Pembinaan Atlet

Pimpin PERKEMI Aceh 2026-2030, Erwin Ferdinansyah Bidik Penguatan Pembinaan Atlet

Discussion about this post

Recommended Stories

Gubernur Aceh Resmi Buka Acara WUBI 2025: Apresiasi Bank Indonesia Dorong Penguatan UMKM Aceh

Gubernur Aceh Resmi Buka Acara WUBI 2025: Apresiasi Bank Indonesia Dorong Penguatan UMKM Aceh

August 6, 2025
Bink-vho Grup Musik Diaspora Aceh, Banyak Mendapat Undangan Manggung di Luar Negeri

Bink-vho Grup Musik Diaspora Aceh, Banyak Mendapat Undangan Manggung di Luar Negeri

August 24, 2025

Dilema Para Kandidat: Anti Korupsi dan Politik Uang dalam Politik Elektoral Indonesia: Review Buku

October 1, 2023
  • Dataset
  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • TINJAUAN.ID
  • Pedoman Media Siber
Email: redaksi@tinjauan.id

© 2025 Tinjauan.ID - Strategis dan Mencerahkan!

No Result
View All Result
  • TINJAUAN.ID
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Dunia
  • Ekonomi
  • Politik
  • Opini
  • Sejarah
  • Editorial
  • Pojok Ekraf

© 2025 Tinjauan.ID - Strategis dan Mencerahkan!