TINJAUAN.ID | Mar’ie Muhammad adalah Menteri Keuangan Indonesia periode 1993–1998 yang dikenal sebagai simbol antikorupsi di era Orde Baru. Julukan “Mr. Clean” ia dapatkan karena berkali-kali menolak suap, gratifikasi, dan bahkan hak resmi yang seharusnya boleh ia terima. Mulai dari cek ratusan juta rupiah hingga keistimewaan pajak untuk sahabat dekatnya sendiri.
Siapa Mar’ie Muhammad?
Mar’ie Muhammad lahir di Surabaya, 3 April 1939. Kariernya di Departemen Keuangan dimulai sejak 1969, merangkak dari Direktorat Jenderal Pengawasan Keuangan Negara, lalu Direktorat Jenderal Pembinaan BUMN, sebelum menjabat Direktur Jenderal Pajak pada 1988–1993.
Puncak kariernya terjadi saat ia dipercaya menjadi Menteri Keuangan Kabinet Pembangunan VI pada era Orde Baru (1993–1998). Julukan “Mr. Clean” disematkan kalangan pers bukan tanpa alasan. Sepanjang jabatannya, ia dikenal tak mau disogok dalam bentuk apa pun.
Kisah Kejujuran Mar’ie Muhammad yang Melegenda
1. Menolak Cek Rp400 Juta dari BUMN Kehutanan
Suatu malam, dalam kunjungan kerja ke sebuah BUMN kehutanan di Sumatra, seorang staf perusahaan mengantarkan cek senilai Rp400 juta ke kamar hotel tempat Mar’ie menginap. Alasannya perusahaan mengaku meraih laba besar, dan uang itu disebut bonus untuknya sebagai komisaris yang mewakili pemerintah.
Mar’ie tidak langsung menolak maupun menerima. Ia hanya meminta cek itu diletakkan di meja.
Keesokan harinya, dalam rapat dengan direksi, ia mencecar laporan keuangan perusahaan dengan pertanyaan demi pertanyaan; soal pendapatan, biaya, hingga sumber angka laba. Pertanyaan itu membongkar kenyataan sebenarnya, perusahaan ternyata merugi.
Ia lalu menunjuk cek yang masih tergeletak di meja sejak malam sebelumnya.
“Kalau perusahaan rugi, kenapa saya diberi uang Rp400 juta?”
Tak ada yang bisa menjawab. Cek itu dikembalikan, utuh, tanpa pernah dicairkan.
2. Membatalkan Keistimewaan Pajak untuk Sahabat Sendiri
Ketika masih menjabat Direktur Jenderal Pajak, seorang pengusaha besar asal Indonesia Timur — sahabatnya sejak sama-sama aktif di HMI — datang berterima kasih kepada Mar’ie. Ia merasa pajak perusahaannya telah dipangkas hingga separuh berkat bantuan sang sahabat.
Mar’ie justru terkejut. “Saya tidak pernah ikut campur,” jawabnya.
Ia lantas menyelidiki sendiri persoalan itu. Setelah mendapati adanya pengurangan kewajiban pajak yang tidak semestinya, ia langsung menghubungi pejabat yang menangani berkas perusahaan tersebut dengan instruksi tegas: pajak harus dibayar sesuai aturan, tanpa pengistimewaan, termasuk untuk sahabatnya sendiri.
Sang sahabat pulang dengan kecewa, menyadari bahwa orang yang ingin ia ucapkan terima kasih justru yang membatalkan keistimewaan yang selama ini ia nikmati.
3. Menolak Hak yang Sah Sekalipun
Bukan cuma suap yang ia tolak. Bahkan gaji resmi sebagai komisaris BUMN — hak yang sebetulnya sah secara hukum — kerap ia tolak juga. Baginya, jabatan publik tak boleh dicampuradukkan dengan keuntungan pribadi, sekalipun keuntungan itu terlihat sah di atas kertas.
4. Kebijakan Tegas Menyehatkan Perbankan Nasional
Sebagai Menteri Keuangan, Mar’ie juga dikenal menolak dana taktis dan anggaran perjalanan dinas yang dinilainya berlebihan. Di tengah krisis kredit macet, ia merumuskan empat langkah penyehatan perbankan: memperbaiki kolektibilitas kredit, memastikan penyaluran kredit sesuai kaidah perbankan sehat, mengawasi penggunaan kredit tanpa mencampuri urusan internal penerima, serta menekan biaya overhead.
5. Prinsip Hidup: Amanah dengan Uang
Satu kalimat dari Mar’ie sering dikutip sebagai representasi prinsip hidupnya: “Apabila kita tidak amanah dengan uang, maka dalam hal lainnya pun kita tidak akan amanah.”
Jejak Pengabdian Setelah Jadi Menteri
Setelah masa jabatannya sebagai Menteri Keuangan berakhir, Mar’ie tetap aktif di ruang publik. Ia menjadi Ketua Oversight Committee Badan Penyehatan Perbankan Nasional (2001–2004), Ketua Palang Merah Indonesia (1999–2009), serta menggagas Masyarakat Transparansi Indonesia dan Komite Kemanusiaan Indonesia, organisasi yang sejalan dengan reputasinya sebagai penjaga integritas.
Mengapa Nama Mar’ie Muhammad Tetap Dikenang
Mar’ie Muhammad meninggal dunia pada 11 Desember 2016 di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional, Jakarta, dalam usia 77 tahun. Setelah kepergiannya, kisah-kisah kejujurannya justru semakin sering diceritakan ulang, dari mulut ke mulut wartawan senior hingga menjadi bahan pembelajaran integritas di lingkungan Kementerian Keuangan.
Sebagai bentuk penghormatan, pada 2017 gedung utama Direktorat Jenderal Pajak di Jalan Gatot Subroto, Jakarta, resmi dinamai Gedung Mar’ie Muhammad, pengingat permanen bahwa integritas bukan sekadar slogan, melainkan bisa dijalani secara nyata bahkan di puncak kekuasaan.
***
Cek Rp400 juta itu sudah dikembalikan. Pajak sahabatnya sudah dibayar sesuai aturan. Dua kisah ini merangkum bagaimana Mar’ie Muhammad bekerja saat berhadapan dengan uang dan kekuasaan: tidak tergoda, tidak berkompromi, dan tidak membedakan siapa pun, termasuk sahabat dekatnya sendiri.












Discussion about this post