Strategis dan Mencerahkan!
No Result
View All Result
  • TINJAUAN.ID
  • Global
  • Politik
    • News
    • Nasional
    • Regional
    • Daerah
  • Ekonomi
  • Opini
  • Sejarah
  • Liputan Khusus
  • Editorial
  • Pojok Ekraf
  • TINJAUAN.ID
  • Global
  • Politik
    • News
    • Nasional
    • Regional
    • Daerah
  • Ekonomi
  • Opini
  • Sejarah
  • Liputan Khusus
  • Editorial
  • Pojok Ekraf
No Result
View All Result
Strategis dan Mencerahkan!
No Result
View All Result
Home Kolom Sejarah

Kisah Mar’ie Muhammad: Menteri Keuangan Jujur yang Dijuluki “Mr. Clean”

TINJAUAN ID by TINJAUAN ID
August 22, 2026
Reading Time: 3 mins read
0
Kisah Mar’ie Muhammad: Menteri Keuangan Jujur yang Dijuluki “Mr. Clean”

TINJAUAN.ID | Mar’ie Muhammad adalah Menteri Keuangan Indonesia periode 1993–1998 yang dikenal sebagai simbol antikorupsi di era Orde Baru. Julukan “Mr. Clean” ia dapatkan karena berkali-kali menolak suap, gratifikasi, dan bahkan hak resmi yang seharusnya boleh ia terima. Mulai dari cek ratusan juta rupiah hingga keistimewaan pajak untuk sahabat dekatnya sendiri.

Siapa Mar’ie Muhammad?

Mar’ie Muhammad lahir di Surabaya, 3 April 1939. Kariernya di Departemen Keuangan dimulai sejak 1969, merangkak dari Direktorat Jenderal Pengawasan Keuangan Negara, lalu Direktorat Jenderal Pembinaan BUMN, sebelum menjabat Direktur Jenderal Pajak pada 1988–1993.

Puncak kariernya terjadi saat ia dipercaya menjadi Menteri Keuangan Kabinet Pembangunan VI pada era Orde Baru (1993–1998). Julukan “Mr. Clean” disematkan kalangan pers bukan tanpa alasan. Sepanjang jabatannya, ia dikenal tak mau disogok dalam bentuk apa pun.

Kisah Kejujuran Mar’ie Muhammad yang Melegenda

1. Menolak Cek Rp400 Juta dari BUMN Kehutanan

Suatu malam, dalam kunjungan kerja ke sebuah BUMN kehutanan di Sumatra, seorang staf perusahaan mengantarkan cek senilai Rp400 juta ke kamar hotel tempat Mar’ie menginap. Alasannya perusahaan mengaku meraih laba besar, dan uang itu disebut bonus untuknya sebagai komisaris yang mewakili pemerintah.

Mar’ie tidak langsung menolak maupun menerima. Ia hanya meminta cek itu diletakkan di meja.

Keesokan harinya, dalam rapat dengan direksi, ia mencecar laporan keuangan perusahaan dengan pertanyaan demi pertanyaan; soal pendapatan, biaya, hingga sumber angka laba. Pertanyaan itu membongkar kenyataan sebenarnya, perusahaan ternyata merugi.

Ia lalu menunjuk cek yang masih tergeletak di meja sejak malam sebelumnya.

“Kalau perusahaan rugi, kenapa saya diberi uang Rp400 juta?”

Tak ada yang bisa menjawab. Cek itu dikembalikan, utuh, tanpa pernah dicairkan.

2. Membatalkan Keistimewaan Pajak untuk Sahabat Sendiri

Ketika masih menjabat Direktur Jenderal Pajak, seorang pengusaha besar asal Indonesia Timur — sahabatnya sejak sama-sama aktif di HMI — datang berterima kasih kepada Mar’ie. Ia merasa pajak perusahaannya telah dipangkas hingga separuh berkat bantuan sang sahabat.

Mar’ie justru terkejut. “Saya tidak pernah ikut campur,” jawabnya.

Ia lantas menyelidiki sendiri persoalan itu. Setelah mendapati adanya pengurangan kewajiban pajak yang tidak semestinya, ia langsung menghubungi pejabat yang menangani berkas perusahaan tersebut dengan instruksi tegas: pajak harus dibayar sesuai aturan, tanpa pengistimewaan, termasuk untuk sahabatnya sendiri.

Sang sahabat pulang dengan kecewa, menyadari bahwa orang yang ingin ia ucapkan terima kasih justru yang membatalkan keistimewaan yang selama ini ia nikmati.

3. Menolak Hak yang Sah Sekalipun

Bukan cuma suap yang ia tolak. Bahkan gaji resmi sebagai komisaris BUMN — hak yang sebetulnya sah secara hukum — kerap ia tolak juga. Baginya, jabatan publik tak boleh dicampuradukkan dengan keuntungan pribadi, sekalipun keuntungan itu terlihat sah di atas kertas.

4. Kebijakan Tegas Menyehatkan Perbankan Nasional

Sebagai Menteri Keuangan, Mar’ie juga dikenal menolak dana taktis dan anggaran perjalanan dinas yang dinilainya berlebihan. Di tengah krisis kredit macet, ia merumuskan empat langkah penyehatan perbankan: memperbaiki kolektibilitas kredit, memastikan penyaluran kredit sesuai kaidah perbankan sehat, mengawasi penggunaan kredit tanpa mencampuri urusan internal penerima, serta menekan biaya overhead.

5. Prinsip Hidup: Amanah dengan Uang

Satu kalimat dari Mar’ie sering dikutip sebagai representasi prinsip hidupnya: “Apabila kita tidak amanah dengan uang, maka dalam hal lainnya pun kita tidak akan amanah.”

Jejak Pengabdian Setelah Jadi Menteri

Setelah masa jabatannya sebagai Menteri Keuangan berakhir, Mar’ie tetap aktif di ruang publik. Ia menjadi Ketua Oversight Committee Badan Penyehatan Perbankan Nasional (2001–2004), Ketua Palang Merah Indonesia (1999–2009), serta menggagas Masyarakat Transparansi Indonesia dan Komite Kemanusiaan Indonesia, organisasi yang sejalan dengan reputasinya sebagai penjaga integritas.

Mengapa Nama Mar’ie Muhammad Tetap Dikenang

Mar’ie Muhammad meninggal dunia pada 11 Desember 2016 di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional, Jakarta, dalam usia 77 tahun. Setelah kepergiannya, kisah-kisah kejujurannya justru semakin sering diceritakan ulang, dari mulut ke mulut wartawan senior hingga menjadi bahan pembelajaran integritas di lingkungan Kementerian Keuangan.

Sebagai bentuk penghormatan, pada 2017 gedung utama Direktorat Jenderal Pajak di Jalan Gatot Subroto, Jakarta, resmi dinamai Gedung Mar’ie Muhammad, pengingat permanen bahwa integritas bukan sekadar slogan, melainkan bisa dijalani secara nyata bahkan di puncak kekuasaan.

***

Cek Rp400 juta itu sudah dikembalikan. Pajak sahabatnya sudah dibayar sesuai aturan. Dua kisah ini merangkum bagaimana Mar’ie Muhammad bekerja saat berhadapan dengan uang dan kekuasaan: tidak tergoda, tidak berkompromi, dan tidak membedakan siapa pun, termasuk sahabat dekatnya sendiri.

Tags: EKonomiSejarahtokoh
ShareTweetSendShare

Related Posts

Mengenalkan Kembali Pengetahuan Lama Melalui Naskah Kuno kepada Generasi Muda Aceh
Daerah

Mengenalkan Kembali Pengetahuan Lama Melalui Naskah Kuno kepada Generasi Muda Aceh

August 22, 2026
Sejarah Perayaan Maulid Nabi (Molod) di Aceh
Sejarah

Sejarah Perayaan Maulid Nabi (Molod) di Aceh

August 19, 2026
Generasi Muda Diperkenalkan dengan Naskah Aceh Kuno Koleksi Rizki Wahyudi
Daerah

Generasi Muda Diperkenalkan dengan Naskah Aceh Kuno Koleksi Rizki Wahyudi

August 16, 2026
Sejarah Buram Krisis Ekonomi 1998 dan Bagaimana Akhirnya Indonesia Pulih
Ekonomi

Sejarah Buram Krisis Ekonomi 1998 dan Bagaimana Akhirnya Indonesia Pulih

August 9, 2026
Komunitas Baca Bireuen Gelar Diskusi Sejarah, Menghidupkan Kembali Semangat Habib Bugak Al-Asyi
Daerah

Komunitas Baca Bireuen Gelar Diskusi Sejarah, Menghidupkan Kembali Semangat Habib Bugak Al-Asyi

July 27, 2026
“Sejarah Hidup” di Mukim Seulimeum
Sejarah

“Sejarah Hidup” di Mukim Seulimeum

July 26, 2026
Next Post
Jubir Pemerintah Aceh, Nurlis: Kepemimpinan Berjalan Baik

Jubir Pemerintah Aceh, Nurlis: Kepemimpinan Berjalan Baik

Mengenalkan Kembali Pengetahuan Lama Melalui Naskah Kuno kepada Generasi Muda Aceh

Mengenalkan Kembali Pengetahuan Lama Melalui Naskah Kuno kepada Generasi Muda Aceh

Discussion about this post

Recommended Stories

Pidato Wiranto Setelah Soeharto Mundur: “ABRI Mendukung Proses Pengalihan Kekuasaan Secara Konstitusional”

Pidato Wiranto Setelah Soeharto Mundur: “ABRI Mendukung Proses Pengalihan Kekuasaan Secara Konstitusional”

January 18, 2026
Musda Demokrat Aceh: Langkah Strategis Memilih Figur Berdaya Ungkit

Sayuti Abubakar Dikaitkan dengan Perkara SAP Law Firm, Ini Penjelasan Hukum yang Jarang Dibahas

July 25, 2026
Humam dan Politik di Balik JKA

Humam dan Politik di Balik JKA

April 17, 2026
  • Dataset
  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • TINJAUAN.ID
  • Pedoman Media Siber
Email: redaksi@tinjauan.id

© 2025 Tinjauan.ID - Strategis dan Mencerahkan!

No Result
View All Result
  • TINJAUAN.ID
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Dunia
  • Ekonomi
  • Politik
  • Opini
  • Sejarah
  • Editorial
  • Pojok Ekraf

© 2025 Tinjauan.ID - Strategis dan Mencerahkan!