Banda Aceh — Langkah Kapolda Aceh, Irjen Pol. Ruddi Setiawan, yang turun langsung ke tengah massa untuk meredakan ketegangan di kawasan Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, mendapat apresiasi dari berbagai kalangan. Insiden tersebut terjadi pada Sabtu (15/8/2026) saat peringatan 21 tahun Hari Damai Aceh, yang diwarnai kericuhan usai kegiatan zikir dan doa bersama.
Kerusuhan pecah setelah sebagian massa mengibarkan Bendera Bulan Bintang di kompleks masjid. Situasi memanas, gas air mata sempat digunakan aparat sehingga massa berhamburan, dan sejumlah kendaraan di sekitar lokasi dilaporkan terkena lemparan batu.
Kapolda Aceh Turun Langsung ke Tengah Massa
Di tengah situasi yang masih tegang, Kapolda Aceh memilih mendekat ke kerumunan alih-alih membiarkan aparat bertindak represif. Ia melintasi barisan pasukannya sendiri untuk berdialog langsung dengan massa, mengajak semua pihak untuk sama-sama menjaga keamanan dan perdamaian Aceh.
Selang beberapa waktu, sekitar pukul 15.13 WIB, Kapolda bersama Pangdam Iskandar Muda Mayjen TNI Joko Hadi Susilo kembali mendatangi halaman Masjid Raya Baiturrahman untuk memantau langsung kondisi di lapangan, termasuk keberadaan bendera yang dipasang massa di area masjid.
Kapolda Aceh memastikan situasi keamanan telah berangsur kondusif sejak Sabtu sore, setelah personel gabungan Polri dan TNI bergerak menenangkan massa. Sejumlah warga yang sempat diamankan pun kemudian dibebaskan.
Dalam keterangannya kepada wartawan usai mengikuti Upacara Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Lapangan Blang Padang, Senin (17/8/2026), Kapolda menyampaikan terima kasih kepada masyarakat Aceh yang turut menjaga situasi tetap aman selama peringatan Hari Damai berlangsung. Ia juga mengapresiasi dukungan seluruh unsur forkopimda, termasuk TNI, dalam menjaga stabilitas keamanan di Aceh.
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo turut menanggapi perkembangan di Aceh, menyatakan bahwa situasi saat ini sudah sepenuhnya terkendali.
Pendekatan humanis Kapolda Aceh Irjen Pol. Ruddi Setiawan yang menemui langsung massa di lokasi kerusuhan mendapat apresiasi sejumlah pihak. Pendiri Moving for Future (MFF) Syndicate M. Fauzan Febriansyah berpendapat bahwa pendekatan persuasif ini dinilai berhasil mencegah eskalasi kerusuhan yang lebih besar di peringatan momen bersejarah tersebut.
“Kami mengapresiasi pendekatan Kapolda yang menemui massa dan bertindak persuasif. Langkah tersebut mempu menenangkan massa dan mencegah eskalasi kerusuhan yang lebih besar. Langkah yang diambil Kapolda dalam momen-momen krusial di kerusuhan tersebut sudah sangat tepat,” ujar Fauzan.
Hal senada disampaikan oleh peneliti ICAIOS Aceh, Rizqan Kamil. Menurutnya, keberanian Kapolda menjumpai langsung massa di Masjid Raya Baiturrahman menunjukkan kemampuan conflict de-escalation yang kuat. “Beliau mampu membaca situasi, membangun komunikasi, serta mencegah eskalasi,” jelas Rizqan.
Rizqan menilai Kapolda Aceh punya kematangan dalam menghadapu situasi konflik. Menurutnya ini adalah modal penting dalam menangani daerah bekas konflik. “Kematangan beliau dalam menghadapi situasi konflik seperti ini merupakan modal penting dalam memimpin dan membangun resolusi di daerah yang punya sejarah panjang konflik,” lanjut Rizqan.
Sementara itu, Reza Fahlevi sebagai Founder Lamuri.id, sebuah lembaga kajian strategis kebijakan publik, turut mengapresiasi langkah cepat dan pendekatan persuasif yang dilakukan Kapolda Aceh Irjen Pol. Ruddi Setiawan dalam meredakan situasi yang sempat memanas di sekitar Masjid Raya Baiturrahman.
“Kehadiran langsung Kapolda di tengah massa untuk berdialog, mendengarkan aspirasi masyarakat, serta mengambil langkah yang menenangkan merupakan bentuk kepemimpinan yang patut diapresiasi,” terang Reza.
Dalam situasi yang sensitif, menurut Reza, komunikasi dan dialog menjadi jalan terbaik agar persoalan tidak berkembang menjadi konflik yang lebih luas.
Reza berharap jajaran Polda Aceh terus mengedepankan langkah humanis dan persuasif dalam menjaga keamanan dan ketertiban di wilayah Aceh, dengan memahami konteks sosio-historis Aceh sebagai daerah bekas konflik.
“Semoga langkah cepat, tepat dan humanis yang ditunjukkan jajaran Polda Aceh dapat terus menjadi bagian dari upaya menjaga keamanan, ketertiban, serta suasana damai di Aceh,” ungkapnya.
Merespon kerusuhan di Hari Damai Aceh, Akademisi Universitas Samudera Langsa Dr. Muhammad Ihsan berharap setiap perosalan yang muncul di Aceh bisa diselesaikan secara persuasif melalui komunikasi dan musyawarah untuk tetap menjaga keamanan dan merawat perdamaian di Aceh.
“Aceh memiliki pengalaman sejarah yang panjang dalam menjaga perdamaian. Karena itu, pendekatan persuasif dan humanis seperti ini (yang dilakukan Kapolda) sudah selayaknya perlu terus diperkuat. Kita tentu berharap setiap persoalan dapat diselesaikan melalui komunikasi dan musyawarah, sehingga keamanan tetap terjaga, tanpa menghilangkan ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan pendapat dan aspirasinya,” pungkas Ihsan.











Discussion about this post