Jakarta — Sejumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mencatatkan kinerja positif pada semester I 2026. Pertumbuhan laba terjadi di berbagai sektor, mulai dari pertambangan, pupuk, semen, perbankan, jasa keuangan hingga logistik.
Berdasarkan kompilasi laporan keuangan semester I 2026, PT Timah Tbk mencatat pertumbuhan laba bersih paling tinggi. Laba bersih perusahaan tambang timah tersebut mencapai Rp2,71 triliun, melonjak 804,7 persen dibandingkan Rp300 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Kinerja Timah ditopang kombinasi kenaikan harga timah dunia, peningkatan produksi dan penjualan, serta perbaikan produktivitas operasional. Pendapatan perseroan mencapai sekitar Rp10,42 triliun, naik 247 persen secara tahunan. Produksi bijih timah juga meningkat 75 persen menjadi 12.232 ton Sn, sementara penjualan logam timah naik 85 persen menjadi 10.984 metrik ton.
Pupuk Indonesia dan Semen Indonesia Juga Tumbuh Tinggi
Pertumbuhan signifikan juga dicatat PT Pupuk Indonesia. Laba bersih perseroan mencapai Rp8,51 triliun, meningkat 253 persen dibandingkan Rp2,41 triliun pada semester I 2025.
Di sektor semen, PT Semen Indonesia (Persero) Tbk membukukan laba sekitar Rp193,46 miliar, naik 196,5 persen dari Rp65,24 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, PT Agrinas Palma Nusantara mencatat pertumbuhan laba 150 persen menjadi sekitar Rp890 miliar.
Pada sektor jasa keuangan dan logistik, PT Pegadaian membukukan laba Rp6,59 triliun atau tumbuh 84,6 persen. PT Pelindo mencatat laba Rp2,57 triliun, meningkat 60,4 persen, sedangkan PTPN IV PalmCo mencatat pertumbuhan laba 54 persen menjadi Rp3,23 triliun.
Bank Mandiri Tetap Menjadi Salah Satu Mesin Laba Terbesar
Di sektor perbankan, Bank Mandiri mencatat laba bersih konsolidasi sekitar Rp30,4 triliun pada semester I 2026.
Laba tersebut tumbuh sekitar 24,4 persen secara tahunan. Pertumbuhan ditopang penyaluran kredit yang mencapai Rp1.592 triliun secara bank only, naik 19,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kualitas kredit juga relatif terjaga, dengan NPL gross bank only sebesar 0,98 persen.
Bank Mandiri juga mencatat pertumbuhan kredit yang lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kredit industri perbankan nasional. Data perseroan menyebut kredit industri tumbuh 12,7 persen hingga Juni 2026, sementara kredit Bank Mandiri tumbuh 19,9 persen.
BNI juga mencatat kinerja positif. Laba bersih semester I 2026 mencapai sekitar Rp10,76 triliun, tumbuh 6,56 persen secara tahunan. Kredit BNI meningkat 24,4 persen menjadi Rp968,5 triliun.
Telkom Tumbuh Positif
Di sektor telekomunikasi, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk membukukan pendapatan konsolidasi Rp75,9 triliun pada semester I 2026, tumbuh 3,9 persen.
EBITDA meningkat 3,8 persen menjadi Rp37,5 triliun, sedangkan laba bersih tercatat Rp10,6 triliun atau naik 1,4 persen. Jika menggunakan laba bersih yang dinormalisasi, pertumbuhannya mencapai 6,2 persen menjadi Rp11,3 triliun.
Telkom menyebut pemulihan bisnis mobile, efisiensi operasional serta pertumbuhan bisnis digital menjadi sejumlah faktor yang menopang kinerja tersebut. Pendapatan segmen B2B Infrastructure bahkan tumbuh 19 persen menjadi Rp33,1 triliun.
BUMN yang Berbalik dari Rugi Menjadi Laba
Perbaikan tidak hanya terlihat pada perusahaan yang sejak awal sudah mencetak keuntungan.
PT Krakatau Steel dilaporkan berhasil membalikkan kinerja dari rugi sekitar Rp1,74 triliun pada semester I 2025 menjadi laba sekitar Rp150–185 miliar pada semester I 2026.
PT Kimia Farma juga berbalik dari rugi Rp135,61 miliar menjadi laba Rp54,07 miliar.

Upaya Transformasi Danantara
Pertumbuhan laba BUMN semester I 2026 muncul pada periode ketika konsolidasi dan transformasi BUMN melalui Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) mulai berjalan.
Managing Partner BUMN Research Group LM FEB UI Toto Pranoto menilai kinerja solid terutama masih ditopang BUMN besar atau blue chips, termasuk Himbara, sektor mineral dan pertambangan, telekomunikasi serta Pertamina. Ia juga menilai proses streamlining, penataan dan konsolidasi BUMN masih berpotensi meningkatkan efisiensi ke depan.
Dengan demikian, kinerja semester I 2026 lebih tepat dibaca sebagai kombinasi antara perbaikan fundamental perusahaan, kondisi sektor dan komoditas, efisiensi operasional, ekspansi bisnis, serta mulai berlangsungnya transformasi BUMN.
Bagi pemerintah, tantangannya bukan sekadar meningkatkan laba dalam jangka pendek. Yang lebih penting adalah memastikan pertumbuhan tersebut berkelanjutan, meningkatkan produktivitas aset negara, memperkuat tata kelola, dan menghasilkan value creation yang nyata bagi negara.[]










Discussion about this post