Strategis dan Mencerahkan!
No Result
View All Result
  • TINJAUAN.ID
  • Global
  • Politik
    • News
    • Nasional
    • Regional
    • Daerah
  • Ekonomi
  • Opini
  • Sejarah
  • Liputan Khusus
  • Editorial
  • Pojok Ekraf
  • TINJAUAN.ID
  • Global
  • Politik
    • News
    • Nasional
    • Regional
    • Daerah
  • Ekonomi
  • Opini
  • Sejarah
  • Liputan Khusus
  • Editorial
  • Pojok Ekraf
No Result
View All Result
Strategis dan Mencerahkan!
No Result
View All Result
Home News Daerah

Kemiskinan dan Pengangguran di Aceh Tinggi, Pengamat Ekonomi Bisnis Desak Pemda Optimalkan HGU dan Hilirisasi Sawit

TINJAUAN ID by TINJAUAN ID
September 17, 2026
Reading Time: 3 mins read
0
Kemiskinan dan Pengangguran di Aceh Tinggi, Pengamat Ekonomi Bisnis Desak Pemda Optimalkan HGU dan Hilirisasi Sawit

BANDA ACEH — Pertumbuhan ekonomi Aceh yang masih bergerak di bawah 4 persen dalam beberapa tahun terakhir dinilai membutuhkan terobosan kebijakan yang tidak sekadar bertumpu pada peningkatan produksi bahan mentah.

Pakar Ekonomi Universitas Syiah Kuala (USK), Dr. Amri, M.Si, mendorong Pemerintah Aceh segera melakukan langkah konkret mempercepat hilirisasi, terutama terhadap komoditas kelapa sawit yang memiliki potensi besar untuk menciptakan nilai tambah, investasi dan lapangan kerja.

Hal tersebut disampaikan Dr. Amri dalam wawancara di Aula Kantor Dinas Pertanian Aceh, Kamis (17/9/2026).

Menurut Dr. Amri, Aceh sebenarnya memiliki sumber daya alam yang melimpah, mulai dari perkebunan, pertanian hingga perikanan. Namun, besarnya potensi tersebut belum otomatis menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi apabila komoditas yang dihasilkan hanya dijual dalam bentuk bahan baku.

“Jangan menghasilkan CPO saja dan dibawa keluar. Jalan rusak, tenaga kerja tidak terserap. Harus ada proses nilai tambah,” kata Dr. Amri.

Ia menjelaskan, pertumbuhan ekonomi tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak komoditas diproduksi, tetapi juga seberapa besar nilai tambah yang tercipta dari proses produksi tersebut di dalam daerah.

Karena itu, menurutnya, sawit Aceh seharusnya tidak berhenti pada produksi Crude Palm Oil (CPO). Pemerintah perlu mendorong hadirnya industri pengolahan yang mampu menghasilkan berbagai produk turunan.

“Bukan saja minyak goreng. Masih banyak pabrik dan produk lainnya yang bisa dikembangkan dari sawit sehingga kegiatan ekonomi dan bisnis hidup,” ujarnya.

HGU Idle Jangan Dibiarkan

Salah satu momentum yang dinilai penting adalah penataan Hak Guna Usaha (HGU) perkebunan.

Dr. Amri meminta pemerintah memberikan perhatian terhadap HGU yang tidak produktif atau idle. Lahan yang telah memiliki legalitas namun tidak dimanfaatkan secara optimal, menurutnya, perlu ditata sesuai ketentuan agar kembali memberikan manfaat ekonomi.

“HGU-HGU yang tidak produktif, yang idle, harus dihidupkan. Jangan dibiarkan orang lain tidak bisa masuk, sementara dia sendiri tidak mengolah. Ini merusak ekonomi,” tegasnya.

Namun, ia mengingatkan optimalisasi perkebunan tidak boleh dimaknai sebagai pembukaan lahan baru secara besar-besaran.

“Yang sudah ada saja dioptimalkan, bukan diperluas. Karena kalau diperluas bisa merusak alam dan akhirnya menimbulkan persoalan hidrometeorologi,” katanya.

Menurutnya, peningkatan produktivitas lahan yang telah tersedia harus berjalan beriringan dengan pembangunan industri pengolahan.

Dengan demikian, rantai ekonominya tidak berhenti ketika TBS diolah menjadi CPO, tetapi berlanjut menjadi berbagai produk bernilai tambah di Aceh.

Aceh Jangan Hanya Jadi Pemasok Bahan Baku

Dr. Amri mencontohkan bagaimana negara atau kawasan yang tidak memiliki perkebunan sawit sekalipun dapat memperoleh manfaat ekonomi besar dari industri pengolahannya.

“Misalnya Singapura tidak punya sawit, tetapi mereka mengolah. Jadi minyak goreng, jadi produk ini dan itu, jadi pabrik,” ujarnya.

Sebaliknya, Aceh yang memiliki sumber bahan baku justru menghadapi persoalan ketika hasil perkebunannya dikirim keluar daerah untuk diproses lebih lanjut.

Menurut dia, kondisi tersebut menyebabkan sebagian besar nilai tambah, aktivitas industri dan kesempatan kerja ikut berada di luar Aceh. “Di kita apa? Bahan baku dibawa keluar,” katanya.

Karena itu, ia menilai momentum penataan HGU harus sekaligus dimanfaatkan Pemerintah Aceh untuk membangun ekosistem investasi dan industri hilir.

Pemerintah Tidak Bisa Bekerja Sendiri

Dr. Amri menekankan bahwa pembangunan industri hilir membutuhkan investasi dan tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada pemerintah.

Kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta dan perguruan tinggi diperlukan untuk membangun ekosistem hilirisasi.

“Kalau bicara bisnis bukan pemerintah saja. Ada swasta, ada pemerintah, kemudian ada akademisi. Jadi kita sinergi,” katanya.

Menurutnya, pemerintah seharusnya fokus menciptakan iklim usaha yang kondusif, kepastian regulasi, kemudahan investasi serta dukungan infrastruktur. Sementara investasi dan pengelolaan industri dapat dilakukan oleh pihak swasta maupun badan usaha milik daerah yang memiliki orientasi bisnis.

“Untuk mengolah ini kan butuh investor. Kalau dikerjakan pemerintah tidak bisa. Pemerintah bukan pebisnis. Karena itu swasta. Atau BUMD yang semi-swasta sehingga bisa dikerjakan dan menghasilkan profit,” jelasnya.

Bagi Dr. Amri, hilirisasi bukan semata-mata persoalan membangun pabrik. Lebih jauh, hilirisasi harus mampu menciptakan efek berantai terhadap perekonomian masyarakat.

Ketika industri tumbuh, kebutuhan terhadap tenaga kerja meningkat. Tidak hanya pekerja lapangan, tetapi juga tenaga profesional dan lulusan perguruan tinggi.

“Dengan adanya pabrik, dengan adanya lapangan usaha, orang bisa bekerja. Sarjana pengangguran bisa bekerja di situ atau masyarakat umum,” ujarnya.

Pendapatan masyarakat yang meningkat kemudian akan mendorong konsumsi dan aktivitas perdagangan serta jasa di daerah.

“Penyerapan lapangan kerja itulah yang kita maksud dengan pengentasan kemiskinan. Kalau orang sudah bekerja, ada duit, aktivitas ekonomi hidup,” katanya.

Lima Agenda Action Pemerintah Aceh

Untuk menjadikan sektor perkebunan sebagai salah satu mesin pertumbuhan ekonomi Aceh, Dr. Amri menekankan lima agenda yang perlu segera dilakukan.

Pertama, melakukan penataan dan optimalisasi HGU yang idle atau tidak produktif sesuai ketentuan.

Kedua, meningkatkan produktivitas perkebunan yang telah ada tanpa melakukan ekspansi yang berpotensi menimbulkan kerusakan lingkungan.

Ketiga, mempercepat hilirisasi sawit dengan membangun industri pengolahan berbagai produk turunan sehingga nilai tambah tidak keluar dari Aceh.

Keempat, membuka ruang investasi dan membangun kolaborasi pemerintah, swasta, BUMD serta perguruan tinggi.

Kelima, memastikan hilirisasi menciptakan lapangan kerja dan memberikan dampak nyata terhadap pendapatan masyarakat.

“Action saja,” tegas Dr. Amri. Ia menilai, apabila rantai produksi tersebut berjalan, sektor perkebunan dapat memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap PDRB Aceh sekaligus menggerakkan aktivitas bisnis dan membuka lapangan kerja.

“Aceh ini kaya raya sumber daya alam. Persoalannya, proses nilai tambahnya belum ada karena tidak diolah di sini,” pungkasnya.[]

(RSM)

Tags: ekonomi AcehhilirisasiKemiskinanpengangguransawit
ShareTweetSendShare

Related Posts

PB RTA Desak Investigasi Independen Kasus Penembakan Tiro dan Penyelesaian Status Quo Bendera Aceh
Daerah

PB RTA Desak Investigasi Independen Kasus Penembakan Tiro dan Penyelesaian Status Quo Bendera Aceh

November 6, 2026
Bupati Aceh Besar Ikuti Rakor Penyaluran Bantuan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana
Daerah

Bupati Aceh Besar Ikuti Rakor Penyaluran Bantuan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana

November 6, 2026
Dari Aceh ke Dunia, Al-Azhar Cairo Banda Aceh Jadi Sorotan Pendidikan Global Apple
Daerah

Dari Aceh ke Dunia, Al-Azhar Cairo Banda Aceh Jadi Sorotan Pendidikan Global Apple

November 5, 2026
Gubernur Mualem Intruksikan Percepat Penyediaan Lahan Integrasi dan Penataan HGU
Daerah

Mualem-Dek Fadh Berduka atas Meninggalnya Warga Pidie dalam Insiden Pengibaran Bendera

November 5, 2026
Wali Nanggroe Terima Menko Yusril, Bahas Kekhususan Aceh dan Penyelesaian Isu Bendera Aceh
Daerah

Wali Nanggroe Terima Menko Yusril, Bahas Kekhususan Aceh dan Penyelesaian Isu Bendera Aceh

November 5, 2026
Rahmad Mulia: Jangan Biarkan Polemik Ijazah Jokowi Merusak Marwah Kepemimpinan Bangsa
Daerah

Rahmad Mulia: Jangan Biarkan Polemik Ijazah Jokowi Merusak Marwah Kepemimpinan Bangsa

November 5, 2026
Next Post
Gubernur Mualem Intruksikan Percepat Penyediaan Lahan Integrasi dan Penataan HGU

Gubernur Mualem Minta Bupati/Walikota se-Aceh Siap siaga Potensi Bencana

Rencana Pengadaan Tanah oleh Pemko Banda Aceh Dipertanyakan

Rencana Pengadaan Tanah oleh Pemko Banda Aceh Dipertanyakan

Discussion about this post

Recommended Stories

Bupati Syech Muharram Tunjuk Ardiansyah sebagai Plt Sekwan DPRK Aceh Besar

Bupati Syech Muharram Tunjuk Ardiansyah sebagai Plt Sekwan DPRK Aceh Besar

June 3, 2026
Mualem Saksikan Langsung RDP DPR-RI Bahas Revisi UUPA, Proses Pembahasan Berlangsung

Mualem Saksikan Langsung RDP DPR-RI Bahas Revisi UUPA, Proses Pembahasan Berlangsung

May 25, 2026
Kak Na: TP Posyandu Aceh Dukung Upaya Kemenkes Capai Target Cakupan Vaksinasi dan IDL

Gubernur Aceh Mualem: Revisi UUPA untuk Hindari Potensi Konflik Masa Depan

May 26, 2026
  • Dataset
  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • TINJAUAN.ID
  • Pedoman Media Siber
Email: redaksi@tinjauan.id

© 2025 Tinjauan.ID - Strategis dan Mencerahkan!

No Result
View All Result
  • TINJAUAN.ID
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Dunia
  • Ekonomi
  • Politik
  • Opini
  • Sejarah
  • Editorial
  • Pojok Ekraf

© 2025 Tinjauan.ID - Strategis dan Mencerahkan!