Strategis dan Mencerahkan!
No Result
View All Result
  • TINJAUAN.ID
  • Global
  • Politik
    • News
    • Nasional
    • Regional
    • Daerah
  • Ekonomi
  • Opini
  • Sejarah
  • Liputan Khusus
  • Editorial
  • Pojok Ekraf
  • TINJAUAN.ID
  • Global
  • Politik
    • News
    • Nasional
    • Regional
    • Daerah
  • Ekonomi
  • Opini
  • Sejarah
  • Liputan Khusus
  • Editorial
  • Pojok Ekraf
No Result
View All Result
Strategis dan Mencerahkan!
No Result
View All Result
Home Kolom Sejarah

23 Nama Samaran, Satu Buron: Kisah Tan Malaka Jadi Orang Paling Dicari di Asia

TINJAUAN ID by TINJAUAN ID
July 16, 2026
Reading Time: 3 mins read
0
23 Nama Samaran, Satu Buron: Kisah Tan Malaka Jadi Orang Paling Dicari di Asia

Setelah dua dekade lolos dari kejaran hampir semua aparat kolonial di Asia, Tan Malaka justru tewas ditembak — bukan oleh Belanda, bukan oleh Inggris — melainkan oleh negara yang ia perjuangkan kemerdekaannya sendiri. Namun Tan Malaka tetap dikenang dalam sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia.

TINJAUAN.ID | Tahun 1927, aparat kolonial di lima negara menyebarkan foto seorang pria yang sama sekali tidak terlihat berbahaya: wajahnya kalem, berkacamata, bicaranya lembut. Tapi pria ini pernah dianggap ancaman nomor satu oleh pemerintah kolonial Belanda, diburu polisi rahasia Inggris di Singapura, diawasi dinas intelijen Amerika di Filipina, dan bahkan sempat masuk daftar pantauan otoritas Tiongkok.

Namanya berubah lebih dari 20 kali. Ia pernah menjadi “Ossorio”, “Elias Fuentes”, hingga “Tan Ho Seng”. Padahal nama aslinya sederhana: Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka, seorang guru muda asal Suliki, Sumatra Barat.

Ironisnya, setelah dua dekade lolos dari kejaran hampir semua aparat kolonial di Asia, Tan Malaka justru tewas ditembak — bukan oleh Belanda, bukan oleh Inggris — melainkan oleh negara yang ia perjuangkan kemerdekaannya sendiri.

Guru Desa yang Jadi Incaran Dunia Intelijen

Cerita ini tidak dimulai dari revolusi, tapi dari ruang kelas. Tan Malaka sempat menjadi guru di perkebunan Deli, Sumatra Utara, tempat ia menyaksikan buruh diperlakukan nyaris seperti budak — dipukuli, diperas, dan diperlakukan sebagai aset perusahaan, bukan manusia.

Kemarahan itulah yang mengantarnya masuk ke Sarekat Islam, lalu ke Partai Komunis Indonesia (PKI), hingga akhirnya ia dipercaya Komintern (jaringan komunis internasional) sebagai wakil resmi mereka untuk seluruh Asia Tenggara. Dalam hitungan tahun, seorang guru desa berubah menjadi salah satu figur paling diawasi oleh dinas intelijen kolonial di kawasan ini.

Ketika Ia Justru Melawan Rencana Pemberontakan yang Ia Sendiri Dianggap Pemimpinnya

Bagian paling jarang diceritakan dari kisah Tan Malaka: pada 1926, saat PKI merencanakan pemberontakan bersenjata besar-besaran melawan Belanda, justru Tan Malaka-lah yang menentangnya paling keras. Ia menilai gerakan itu terlalu dini, kurang persiapan, dan akan berujung pembantaian.

Ia benar. Pemberontakan itu gagal total dan ribuan pendukungnya ditangkap atau dibuang ke kamp konsentrasi Boven Digoel di Papua. Namun karena posisinya sebagai tokoh senior PKI, Belanda tetap memburunya sebagai dalang utama, meski ia justru orang yang berusaha mencegahnya.

Sejak itulah pelariannya dimulai, dan tidak berhenti selama lebih dari 20 tahun.

Dua Dekade Menyamar: Filipina, Tiongkok, Singapura, Thailand

Bayangkan hidup dua puluh tahun tanpa punya rumah tetap, tanpa nama asli, selalu waspada setiap kali ada orang asing bertanya soal masa lalu Anda. Itulah keseharian Tan Malaka.

Ia sempat menyamar sebagai jurnalis di Filipina, guru bahasa di Tiongkok, hingga pedagang di Singapura — semua demi menghindari jaringan mata-mata kolonial yang terus memburunya.

Di tengah pelarian penuh tekanan itu, alih-alih menyerah, ia justru menulis salah satu karya pemikiran paling berpengaruh dalam sejarah intelektual Indonesia: Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika) — ditulis nyaris tanpa akses perpustakaan memadai, hanya bermodal ingatan dan catatan yang ia bawa berpindah-pindah.

Pulang Diam-diam, Tepat Saat Indonesia Merdeka

Setelah lebih dari 20 tahun bersembunyi, Tan Malaka kembali ke Indonesia secara rahasia tak lama setelah Proklamasi 17 Agustus 1945 — momen paling berbahaya sekaligus paling menentukan untuk muncul kembali ke permukaan.

Namun alih-alih disambut sebagai pahlawan yang pulang, sikapnya yang menolak kompromi dengan Belanda melalui jalur diplomasi justru membuatnya berseberangan dengan pemerintahan Soekarno-Hatta yang baru berdiri.

Ia mendirikan Persatuan Perjuangan, menuntut kemerdekaan 100 persen tanpa negosiasi — sikap yang dianggap terlalu keras oleh pemerintah yang tengah berjuang bertahan secara diplomatik di mata dunia.

Ditangkap Bukan oleh Musuh, Tapi oleh Bangsa Sendiri

Inilah ironi paling pahit dalam hidup Tan Malaka. Setelah lolos dari kejaran Belanda, Inggris, dan berbagai aparat kolonial selama dua dekade, ia justru ditangkap dan dipenjara oleh pemerintah Republik Indonesia sendiri — tanpa pernah diadili secara terbuka.

Pada 21 Februari 1949, di sebuah desa dekat Kediri, Jawa Timur, Tan Malaka dieksekusi mati oleh pasukan Republik dalam situasi yang hingga kini masih diperdebatkan sejarawan. Lokasi makamnya sendiri baru berhasil diidentifikasi puluhan tahun kemudian, setelah penelitian panjang oleh sejarawan Belanda dan Indonesia di awal tahun 2000-an.

Dihapus dari Sejarah, Lalu Dikembalikan Negara

Karena kedekatannya dengan gerakan kiri, nama Tan Malaka nyaris lenyap dari buku pelajaran sejarah Indonesia selama era Orde Baru. Padahal secara resmi, negara sudah mengakui jasanya jauh sebelum itu — pada 1963, melalui Keputusan Presiden, Tan Malaka dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia.

Butuh puluhan tahun bagi publik untuk benar-benar mengenal sosok yang pernah menjadi buron paling dicari di kawasan Asia ini — seorang pria yang menghabiskan separuh hidupnya bersembunyi demi bangsa yang, pada akhirnya, tidak sempat mengucapkan terima kasih secara langsung sebelum ia mati di tangan bangsanya sendiri.[]

Tags: indonesiaSejarahTan Malaka
ShareTweetSendShare

Related Posts

Mengenalkan Kembali Pengetahuan Lama Melalui Naskah Kuno kepada Generasi Muda Aceh
Daerah

Mengenalkan Kembali Pengetahuan Lama Melalui Naskah Kuno kepada Generasi Muda Aceh

August 22, 2026
Kisah Mar’ie Muhammad: Menteri Keuangan Jujur yang Dijuluki “Mr. Clean”
Sejarah

Kisah Mar’ie Muhammad: Menteri Keuangan Jujur yang Dijuluki “Mr. Clean”

August 22, 2026
Sejarah Perayaan Maulid Nabi (Molod) di Aceh
Sejarah

Sejarah Perayaan Maulid Nabi (Molod) di Aceh

August 19, 2026
Generasi Muda Diperkenalkan dengan Naskah Aceh Kuno Koleksi Rizki Wahyudi
Daerah

Generasi Muda Diperkenalkan dengan Naskah Aceh Kuno Koleksi Rizki Wahyudi

August 16, 2026
Sejarah Buram Krisis Ekonomi 1998 dan Bagaimana Akhirnya Indonesia Pulih
Ekonomi

Sejarah Buram Krisis Ekonomi 1998 dan Bagaimana Akhirnya Indonesia Pulih

August 9, 2026
Komunitas Baca Bireuen Gelar Diskusi Sejarah, Menghidupkan Kembali Semangat Habib Bugak Al-Asyi
Daerah

Komunitas Baca Bireuen Gelar Diskusi Sejarah, Menghidupkan Kembali Semangat Habib Bugak Al-Asyi

July 27, 2026
Next Post
Demokrat Bireuen: Dr. Sayuti Abubakar Pilihan Tepat Untuk Demokrat Aceh

Demokrat Bireuen: Dr. Sayuti Abubakar Pilihan Tepat Untuk Demokrat Aceh

Kuota Biosolar dan Pertalite Aceh Naik di 2026, Dinas ESDM Beberkan Pemicu Utama Antrean SPBU

Dinas ESDM Aceh Susun Skema Legalisasi Minyak Rakyat

Discussion about this post

Recommended Stories

Pimpin Tanam Padi Perdana Pasca Bencana, Sekda Aceh: Jaga Stabilitas Pangan Tetap Aman

Pimpin Tanam Padi Perdana Pasca Bencana, Sekda Aceh: Jaga Stabilitas Pangan Tetap Aman

July 6, 2026
Pemerintah Aceh Buka Pendaftaran Beasiswa S3 Timur Tengah Tahun 2026

Pemerintah Aceh Buka Pendaftaran Beasiswa S3 Timur Tengah Tahun 2026

May 16, 2026
Memaknai Kehadiran Presiden Prabowo di Beijing

Memaknai Kehadiran Presiden Prabowo di Beijing

September 3, 2025
  • Dataset
  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • TINJAUAN.ID
  • Pedoman Media Siber
Email: redaksi@tinjauan.id

© 2025 Tinjauan.ID - Strategis dan Mencerahkan!

No Result
View All Result
  • TINJAUAN.ID
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Dunia
  • Ekonomi
  • Politik
  • Opini
  • Sejarah
  • Editorial
  • Pojok Ekraf

© 2025 Tinjauan.ID - Strategis dan Mencerahkan!