Strategis dan Mencerahkan!
No Result
View All Result
  • TINJAUAN.ID
  • News
  • Global
  • Politik
    • Nasional
    • Regional
    • Daerah
  • Ekonomi
  • Opini
  • Sejarah
  • Liputan Khusus
  • Editorial
  • Pojok Ekraf
  • TINJAUAN.ID
  • News
  • Global
  • Politik
    • Nasional
    • Regional
    • Daerah
  • Ekonomi
  • Opini
  • Sejarah
  • Liputan Khusus
  • Editorial
  • Pojok Ekraf
No Result
View All Result
Strategis dan Mencerahkan!
No Result
View All Result
Home Dunia

Riset Oxford, Indonesia Masuk Daftar Negara Paling Terdampak Panas Ekstrem Dunia pada Tahun 2050

TINJAUAN ID by TINJAUAN ID
January 27, 2026
Reading Time: 2 mins read
0
Riset Oxford, Indonesia Masuk Daftar Negara Paling Terdampak Panas Ekstrem Dunia pada Tahun 2050

Citra satelit musim kemarau di Indonesia tahun 2024. Kredit: BMKG, 2024.

Masuknya Indonesia dalam daftar negara dengan risiko terdampak cuaca panas ekstrim pada tahun 2050 menjadikan ratusan juta rakyat Indonesia terancam mengalami penurunan kualitas hidup, risiko kesehatan serius, hingga gangguan ekonomi akibat suhu yang menyengat.

OXFORD – Sebuah studi terbaru dari Universitas Oxford memberikan peringatan keras bagi penduduk bumi, khususnya mereka yang tinggal di wilayah tropis seperti Indonesia. Penelitian tersebut memprediksi bahwa jumlah populasi global yang terpapar panas ekstrem akan melonjak dua kali lipat pada tahun 2050 jika pemanasan global mencapai ambang batas 2,0°C.

Indonesia disebut sebagai salah satu negara yang akan menanggung beban populasi terbesar akibat fenomena ini, bersama dengan negara-negara padat penduduk lainnya seperti India, Nigeria, Bangladesh, Pakistan, dan Filipina.

Lonjakan Drastis Populasi Terancam

Studi yang diterbitkan dalam jurnal Nature Sustainability ini mengungkapkan bahwa pada tahun 2010, sekitar 23% populasi dunia hidup di bawah ancaman panas ekstrem. Namun, angka ini diproyeksikan akan membengkak hingga 41% dalam beberapa dekade mendatang. Secara total, hampir 3,8 miliar orang akan hidup dalam kondisi suhu yang membahayakan kesehatan pada tahun 2050.

“Temuan kami menunjukkan bahwa sebagian besar perubahan kebutuhan pendinginan dan pemanasan terjadi bahkan sebelum kita mencapai ambang batas 1,5°C,” ujar Dr. Jesus Lizana, Profesor Rekayasa Sains di Oxford. Ia menekankan perlunya langkah adaptasi yang signifikan sejak dini.

Suasana cuaca panas ekstrim di Mumbai, India. Kredit: Balaji Srinivasan, Getty Images.

Mengapa Indonesia Sangat Rentan?

Sebagai negara kepulauan di khatulistiwa, Indonesia secara geografis berada di garis depan krisis iklim. Masuknya Indonesia dalam daftar negara dengan dampak populasi terbesar menunjukkan bahwa ratusan juta rakyat Indonesia terancam mengalami penurunan kualitas hidup, risiko kesehatan serius, hingga gangguan ekonomi akibat suhu yang menyengat.

Para peneliti memperingatkan bahwa jika suhu bumi melampaui target Perjanjian Paris (1,5°C), dampaknya akan merembet ke berbagai sektor vital di Indonesia, mulai dari pendidikan, kesehatan, hingga pertanian dan pola migrasi penduduk.

Seruan untuk Adaptasi dan Net Zero

Dr. Radhika Khosla, pemimpin program Oxford Martin Future of Cooling, menyatakan bahwa temuan ini harus menjadi alarm peringatan bagi para pengambil kebijakan di seluruh dunia.

“Pembangunan berkelanjutan dengan target emisi nol bersih (net zero) tetap menjadi satu-satunya jalur yang ada untuk membalikkan tren panas ekstrem ini. Sangat mendesak bagi para politisi untuk mengambil inisiatif,” tegasnya.

Bagi negara seperti Indonesia, studi ini menggarisbawahi pentingnya strategi adaptasi yang tangguh, termasuk dekarbonisasi sektor bangunan dengan mengembangkan desain rumah dan gedung yang lebih dingin secara alami.

Negara berpotensi terdampak seperti Indonesia perlu melakukan efisiensi energi, mengingat permintaan listrik untuk alat pendingin (AC) diprediksi akan melonjak tajam seiring kenaikan suhu.

Ketahanan pangan termasuk isu yang perlu diperhatiman. Perlu ada upaya preventif dalam melindungi sektor pertanian dari risiko gagal panen akibat cuaca panas yang berkepanjangan.

Tanpa langkah mitigasi dan adaptasi yang cepat, panas ekstrem bukan lagi sekadar isu lingkungan, melainkan ancaman eksistensial bagi kesejahteraan masyarakat Indonesia di masa depan.[]

Makin Tahu Indonesia

ShareTweetSendShare

Related Posts

Donald Trump Pernah Dianggap Mengalami Gangguan Jiwa oleh Sejumlah Psikiater
Dunia

Donald Trump Pernah Dianggap Mengalami Gangguan Jiwa oleh Sejumlah Psikiater

March 24, 2026
Harga BBM Diprediksi Naik, Kementerian ESDM Beri Sinyal Penyesuaian Harga BBM Nonsubsidi April 2026
Ekonomi

Harga BBM Diprediksi Naik, Kementerian ESDM Beri Sinyal Penyesuaian Harga BBM Nonsubsidi April 2026

March 23, 2026
Konflik Timur Tengah Picu Ancaman Krisis Pangan Dunia, 45 Juta Jiwa Terancam Kelaparan Akut
Dunia

Konflik Timur Tengah Picu Ancaman Krisis Pangan Dunia, 45 Juta Jiwa Terancam Kelaparan Akut

March 23, 2026
Masjid Hanyut Diterjang Banjir, Warga Cot Meurak Blang Tetap Shalat Id di Masjid Darurat
Daerah

Masjid Hanyut Diterjang Banjir, Warga Cot Meurak Blang Tetap Shalat Id di Masjid Darurat

March 23, 2026
104 Sekolah Rakyat Asrama Gratis Dibangun Lagi, Pemerintah Percepat Akses Pendidikan Anak Miskin Ekstrem
Nasional

104 Sekolah Rakyat Asrama Gratis Dibangun Lagi, Pemerintah Percepat Akses Pendidikan Anak Miskin Ekstrem

March 23, 2026
PDIP Nagan Raya Buka Posko Mudik Lebaran, Sediakan Istirahat dan Buka Puasa Gratis
Daerah

PDIP Nagan Raya Buka Posko Mudik Lebaran, Sediakan Istirahat dan Buka Puasa Gratis

March 20, 2026
Next Post
STISNU Aceh Gelar Seminar Review Kurikulum Bertema Relevansi Keilmuan Syariah di Tengah Dinamika Zaman

STISNU Aceh Gelar Seminar Review Kurikulum Bertema Relevansi Keilmuan Syariah di Tengah Dinamika Zaman

Dinas ESDM Aceh: Gerakan Tanah di Ketol dan Aceh Tengah Masih Aktif, Masyarakat Diminta Waspada

Discussion about this post

Recommended Stories

Dari Pining, Harapan Pulihnya Pendidikan Aceh Pascabencana Semakin Dekat

Dari Pining, Harapan Pulihnya Pendidikan Aceh Pascabencana Semakin Dekat

February 1, 2026
Plh. Kadis Pendidikan Dayah Aceh Terima Audiensi Yayasan Aceh Hijau dan YDSF Surabaya, Bahas Program Pemberdayaan Dayah Pascabencana

Plh. Kadis Pendidikan Dayah Aceh Terima Audiensi Yayasan Aceh Hijau dan YDSF Surabaya, Bahas Program Pemberdayaan Dayah Pascabencana

January 22, 2026
Ramadhan Penuh Berkah di Lhoksukon : Keluarga Besar Reza Khosyi Gelar Khatam Al-Qur’an, Sholawat Fatimiyah dan Santuni Anak Yatim

Ramadhan Penuh Berkah di Lhoksukon : Keluarga Besar Reza Khosyi Gelar Khatam Al-Qur’an, Sholawat Fatimiyah dan Santuni Anak Yatim

March 13, 2026

Popular Stories

  • Tingkat Pengangguran Usia Muda Tinggi, Indonesia Berjuang Ciptakan Lapangan Kerja

    Prabowo Segera Bentuk Tim Reformasi Polri, Bentuk Juga Komisi Investigasi Insiden Agustus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gaji PPPK Aceh Macet Hampir 4 Bulan, Ribuan ASN Hidup dengan Utang Karena APBA-P Tak Kunjung Jelas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kritik Kosong tentang Ulama Dayah Adalah Opini yang Tak Perlu Ditulis

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tak Kunjung Dapat Kerja di Aceh, Hendra Nekat Merantau ke Australia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Review Laporan Keuangan Bank Aceh Syariah (I) ; Triliunan Dana Diinvestasikan ke Luar Aceh

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • TINJAUAN.ID
  • Pedoman Media Siber
Email: redaksi@tinjauan.id

© 2025 Tinjauan.ID - Strategis dan Mencerahkan!

No Result
View All Result
  • TINJAUAN.ID
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Dunia
  • Ekonomi
  • Politik
  • Opini
  • Sejarah
  • Editorial
  • Pojok Ekraf
  • Contact Us

© 2025 Tinjauan.ID - Strategis dan Mencerahkan!

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?