Fenomena ini terjadi secara global. Di India (sebelum dilarang tahun 2020), Indonesia, hingga Filipina, TikTok telah menjadi platform utama kampanye politik.
TINJAUAN.ID – Hanya dalam waktu tiga minggu setelah mengunduh TikTok, algoritma aplikasi ini mampu mengetahui kecenderungan politik pengguna lebih baik daripada keluarga sendiri.
Hal ini terjadi bukan karena kita mengikuti akun politik atau menyukai konten kampanye, melainkan karena cara kita menonton video berdurasi 15 detik, kecepatan saat melewati video tarian, serta kecocokan pola waktu tonton dengan pengguna lain yang berbagi pandangan politik serupa.
Berbeda dengan Facebook, YouTube, atau Instagram yang masih mencampur konten dari orang yang kita ikuti dengan peringkat algoritma, TikTok membalikkan logika tersebut sepenuhnya.
Laman For You (FYP) adalah murni hasil olahan algoritma. Kita melihat konten dari orang yang tidak kita kenal, berdasarkan apa yang menurut sistem akan kita sukai.
Berdasarkan dokumen internal yang bocor pada tahun 2021, sistem rekomendasi TikTok melacak lebih dari 1.000 fitur unik per pengguna. Data yang diambil mencakup durasi menonton setiap video hingga satuan milidetik, kapan kita menjeda, menonton ulang, atau menggulir pergi, video yang ditonton hingga selesai atau video yang dilewati, jenis perangkat, lokasi, dan zona waktu, apa yang diketik di kolom komentar. ByteDance juga memiliki kemampuan untuk menganalisis ekspresi wajah pengguna jika izin kamera diberikan.
Mesin Profiling Politik Otomatis
TikTok tidak perlu menanyakan pandangan politik kita karena ia menyimpulkannya dari pola perilaku. Peneliti di UC Berkeley pada tahun 2023 melakukan studi dengan membuat akun-akun baru yang menonton berbagai jenis konten. Dalam dua minggu, algoritma telah menyortir akun-akun tersebut ke dalam profil politik yang berbeda, meskipun mereka tidak pernah berinteraksi secara eksplisit dengan konten politik.
Penyortiran konten ini dilakukan melalui pola interaksi. Konservatif cenderung menonton jenis konten tertentu lebih lama, sementara liberal menggulir lebih cepat pada jenis konten yang berbeda. Minat pada nilai keluarga tradisional, musik country, atau berburu akan membuat pengguna dikodekan sebagai konservatif.
Sebaliknya, konten aktivisme, budaya urban, atau isu lingkungan akan membuat pengguna dikodekan sebagai liberal. Jika kita berinteraksi dengan kreator yang audiensnya didominasi kelompok tertentu, algoritma akan mengasumsikan kita bagian dari kelompok tersebut.
Jika Facebook menciptakan filter bubble (gelembung informasi), TikTok menciptakan filter universe (semesta informasi). Di Facebook, kita mungkin masih melihat sedikit konten dari sisi lainnya Di TikTok, sekali algoritma memahami kita, maka kita bisa menghabiskan berminggu-minggu tanpa melihat satu pun video dari perspektif yang berbeda.
Pesan politik yang disampaikan seringkali sangat halus dan tidak terlihat seperti propaganda, melainkan melalui konten gaya hidup dari kreator yang berbagi pandangan politik serupa, konten terkait yang menormalisasi perspektif tertentu, pembingkaian emosional yang mengaktifkan identitas politik tanpa menyebutkan politik secara langsung.
Studi Kasus Pemilu
Selama Pemilu AS 2020, penelitian dari NYU Stern Center for Business and Human Rights menunjukkan bahwa TikTok memainkan peran besar dalam mobilisasi politik, terutama di kalangan pemilih muda.
Analisis menunjukkan bahwa algoritma melakukan pilihan rekomendasi yang tidak setara. Video registrasi pemilih mencapai jutaan orang, sementara konten yang mempertanyakan integritas pemilu dibatasi jangkauannya.
Kekhawatiran utama tertuju pada ByteDance, induk perusahaan Cina di Beijing, yang tunduk pada hukum negara asal. Meskipun belum ada bukti publik yang kuat mengenai manipulasi oleh pemerintah Cina, kemampuan algoritma untuk memperdalam polarisasi atau menekan gerakan politik tertentu tetap menjadi ancaman nyata.
Prediksi Perilaku
Dokumen internal menunjukkan algoritma TikTok mencoba memprediksi isu politik apa yang paling kita pedulikan dan siapa yang akan kita pilih. Studi dari Cambridge University tahun 2022 menemukan bahwa analisis perilaku media sosial dapat memprediksi afiliasi politik dengan akurasi 85 persen.
Karena algoritma mengutamakan keterlibatan (engagement), ia secara alami memihak pada konten yang memicu emosi kuat seperti amarah dan ketakutan.
Selama Pemilu Paruh Waktu 2022, NewsGuard mengidentifikasi lebih dari 1.000 video misinformasi yang ditonton lebih dari 100 juta kali. Algoritma memberikan kebohongan yang dipersonalisasi.
Pendukung konservatif melihat konspirasi tentang kecurangan pemilu, sementara pendukung liberal melihat hoaks tentang penindasan pemilih.
Fenomena ini terjadi secara global. Di India (sebelum dilarang tahun 2020), Indonesia, hingga Filipina, TikTok telah menjadi platform utama kampanye politik.
Kandidat politik melakukan micro-targeting tanpa melalui promosi klan konvensional, hanya dengan menciptakan konten yang sesuai dengan pola perilaku audiens target mereka. Ini adalah bentuk pengaruh politik yang sangat efektif karena ia bekerja di bawah radar kesadaran kita.[]













Discussion about this post