Menyongsong perayaan Indonesia Emas 2045, bangsa ini dihadapkan pada pergeseran medan tempur yang mendasar. Jika pada era 1945 musuh utama adalah penjajahan fisik dan militer, maka musuh kita hari ini hadir dalam bentuk yang jauh lebih halus: rendahnya tingkat literasi, ketimpangan kualitas pendidikan, krisis karakter, disrupsi teknologi, hingga dominasi budaya asing.
Oleh: Dr. Hatta Sabri, M.Pd.*
TINJAUAN.ID | Kemerdekaan adalah nikmat besar dari Allah SWT yang harus disyukuri, namun bisa berubah menjadi istidraj jika tidak diisi dengan ketaatan, kepemimpinan yang amanah, dan pembangunan yang berkeadilan.
Negeri muqaddasah, negeri yang disucikan Palestina, carut marut dan penderitaan saudara-saudara kita di sana hari ini terjadi, salah satunya karena nikmat kemerdekaan belum berpihak kepada mereka. Sungguh, kemerdekaan Indonesia tidak lahir dari ruang-ruang yang nyaman. Ia diraih melalui genangan darah, penderitaan, dan keberanian para pejuang yang mempertaruhkan jiwa raga demi cita-cita mulia, “Indonesia Merdeka”.
Setiap kali momen Kemerdekaan Republik Indonesia dirayakan, ingatan kolektif kita kerap melayang pada narasi perjuangan fisik. Di Kota Langsa, keberadaan Monumen Taman Bambu Runcing berdiri kokoh sebagai simbol ingatan itu. Nilai historisnya bukan sekadar pada keindahan taman di pusat kota, melainkan pada keabadian semangat pejuang yang telah mengorbankan darah dan air mata demi lahirnya sebuah bangsa merdeka.
Nikmat kemerdekaan hari ini adalah warisan dari para pendahulu yang bahkan tak sempat menikmatinya. Kita mengenang mereka melalui makam pahlawan sebagai pengingat bahwa warisan baik ini kelak harus kita teruskan kepada anak-cucu kita. Sungguh sebuah pengkhianatan sejarah jika negeri yang kita terima dalam kondisi utuh dan baik dari nenek moyang ini justru kita wariskan dalam kondisi hancur lebur akibat ketidakmampuan kita mengelolanya.
Fenomena krisis moral, korupsi yang dianggap lumrah, dan penyempitan ruang kebebasan adalah sinyal bahaya bahwa bangsa ini sedang tidak baik-baik saja. Yang perlu kita khawatirkan ialah jangan-jangan kemerdekaan kita ini adalah sebagai sebuah istidraj. Apalagi jika kelalaian ini dibiarkan, perayaan kemerdekaan hanya akan terjebak dalam romantisme semu.
Sekali lagi, kita perlu khawatir apakah kemerdekaan ini sebagai sebuah istidraj. Sehingga kita layak melakukan reorientasi perjuangan, dari Indonesia 1945 menuju Indonesia 2045.
Pergeseran Medan Juang “1945-2045”
Angka 45 menjadi angka cantik bila disandingkan dengan hari kemerdekaan dan impian Bangsa. Indonesia Emas 2045 adalah sebuah cita-cita tentang bagaimana gambaran perwujudan Pancasila secara nyata. Masyarakat yang tinggi nilai religiusitas dan berkeadilan, Bangsa yang kuat dalam persatuan di bawah naungan kepemimpinan yang amanah, serta penuh keadilan.
Maka untuk menuju angka 2045 sebagai simbol mimpi bernial Emas bagi bangsa Indonesia, sejenak perlu kita maknai kembali, bagaimana melanjutkan perjuangan kemerdekaan ini.
Menyongsong perayaan Indonesia Emas 2045, bangsa ini dihadapkan pada pergeseran medan tempur yang mendasar. Jika pada era 1945 musuh utama adalah penjajahan fisik dan militer, maka musuh kita hari ini hadir dalam bentuk yang jauh lebih halus: rendahnya tingkat literasi, ketimpangan kualitas pendidikan, krisis karakter, disrupsi teknologi, hingga dominasi budaya asing.
Makna perjuangan tidak boleh berhenti pada romantisme sejarah. Generasi abad ke-21 tidak lagi bertempur dengan bambu runcing, melainkan dengan ilmu pengetahuan, kekuatan karakter, inovasi, dan penguasaan bahasa.
Dalam konstelasi baru ini, ruang-ruang kelas di sekolah, dayah, pesantren, hingga perguruan tinggi adalah medan pertempuran modern. Buku menggantikan senjata, pena menggantikan peluru, dan diskusi ilmiah menggantikan kecamuk perang. Di sinilah bahasa memegang peran vital sebagai alat yang menghubungkan manusia dengan ilmu pengetahuan dan masa depan peradaban.
Peran Bahasa dalam Perjuangan: Belajar dari Rekam Jejak 1945
Mencetak generasi masa depan yang tangguh membutuhkan penguasaan bahasa yang berimbang. Tiga bahasa utama “Bahasa Indonesia, Bahasa Arab, dan Bahasa Inggris” harus diposisikan sebagai “Trilogi Bahasa” yang saling menguatkan, bukan untuk dipertentangkan.
Pertama, Bahasa Indonesia berfungsi sebagai benteng identitas nasional dan alat pemersatu bangsa. Kemampuan berbahasa Indonesia secara bernalar bukan sekadar urusan tata bahasa, melainkan fondasi berpikir logis, budaya literasi, dan dialog berkeadaban.
Kedua, Bahasa Arab memiliki posisi yang sangat strategis, khususnya dalam tradisi pendidikan Islam di Aceh. Selain sebagai kunci mengakses Al-Qur’an, Hadis, dan khazanah turats (kitab klasik), Bahasa Arab adalah bahasa peradaban yang pernah melahirkan kejayaan ilmu pengetahuan dunia—mulai dari sains, kedokteran, hingga filsafat. Menguasai Bahasa Arab berarti memperkokoh akar moral-spiritual sekaligus membuka pintu sejarah intelektual yang agung.
Ketiga, Bahasa Inggris hadir sebagai jembatan menuju kancah global. Penguasaan Bahasa Inggris membuka akses terhadap riset internasional, literatur teknologi modern, serta forum-forum diplomasi dunia. Bangsa yang menguasai bahasa internasional akan lebih mudah memimpin peradaban, sementara yang tertinggal akan sekadar menjadi penonton.
Sejarah membuktikan bahwa penguasaan bahasa asing bukanlah bentuk kebarat-baratan atau kearab-araban, bukan juga pengikisan identitas kebangsaan, melainkan alat perjuangan diplomasi yang sangat krusial di era 1945.
Hal ini dibuktikan oleh H. Agus Salim (The Grand Old Man), diplomat ulung penguasai sembilan bahasa asing (Arab, Inggris, Belanda, Prancis, Jerman, Turki, dan Jepang) yang memimpin delegasi RI ke Mesir pada 1947 dan berpidato tanpa teks dalam bahasa Arab serta Inggris secara fasih dan jenaka, hingga Mesir menjadi negara pertama yang mengakui kemerdekaan RI secara de jure, sekaligus mematahkan argumentasi diplomat Belanda di forum ILO dan PBB secara elegan.
Jejak ini diperkuat oleh A.R. Baswedan, diplomat dan Pahlawan Nasional penguasai bahasa Arab, Inggris, dan Belanda yang melobi pemimpin Liga Arab di Mesir bersama Agus Salim dan HM. Rasjidi, bahkan mempertaruhkan nyawanya menembus blokade militer Belanda demi membawa pulang dokumen pengakuan resmi kemerdekaan RI.
Sementara itu, Mohammad Natsir, tokoh pergerakan Islam dan mantan Perdana Menteri penguasai bahasa Arab, Inggris, Belanda, dan Prancis, memanfaatkan kepiawaian berbahasanya untuk membangun jejaring internasional di Liga Dunia Islam (Rabithah Alam Islami) serta mencetuskan Mosi Integral Natsir (1950) yang menyelamatkan Indonesia dari pemecahan RIS kembali ke NKRI; disempurnakan oleh K.H. Abdul Wahid Hasyim, tokoh pembaru pendidikan pesantren penguasai bahasa Arab, Inggris, dan Belanda, yang mengolaborasikan Bahasa Arab (turats) dan Bahasa Inggris/Belanda (sains modern) untuk merumuskan fondasi negara, integrasi Pancasila, serta kurikulum pendidikan nasional yang menyatukan ilmu agama dan ilmu umum.
Transformasi Pembelajaran dan Peran AI
Sayangnya, realitas pembelajaran bahasa di banyak lembaga pendidikan kita masih kerap terjebak dalam pendekatan hafalan kaidah ketimbang keterampilan komunikasi. Pembelajar mampu menghafal rumus tata bahasa, tetapi kerap canggung ketika diminta mengemukakan gagasan dalam forum ilmiah.
Kehadiran teknologi, khususnya Artificial Intelligence (AI) dan media digital modern, seharusnya tidak dipandang sebagai ancaman, melainkan peluang besar.
Pemanfaatan tutor virtual, penerjemah berbasis AI, hingga platform pembelajaran interaktif dapat merombak suasana belajar menjadi lebih hidup dan personal. Di sinilah peran pendidik—baik guru, teungku, maupun dosen—menjadi sangat krusial.
Pendidik tidak lagi sekadar menjadi penceramah di depan kelas, tetapi bertindak sebagai fasilitator yang memantik daya kritis, kemandirian belajar, dan integritas moral peserta didik.
Menjaga Nyala Perjuangan
Peringatan Hari Kemerdekaan RI Tahun 2026 ini hendaknya tidak hanya menjadi seremoni tahunan yang diisi dengan perlombaan fisik semata. Ia harus menjadi refleksi mendalam bagi seluruh sivitas akademika. Dari lembaga-lembaga pendidikan, seperti Sekolah, Madrasah, Pesantren, pondok-pondok Dayah, lembaga kursusan dan privat, sampai perguruan Tinggi, kita menaruh harapan besar.
Dari ruang-ruang kelas, dari ruang kuliah inilah akan lahir pendidik dan pemimpin masa depan yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga literat, adaptif terhadap teknologi, dan tetap teguh berpijak pada nilai-nilai keislaman serta keindonesiaan.
Jika dahulu bambu runcing berhasil mengantarkan bangsa ini ke gerbang kemerdekaan, maka di abad ke-21 ini, penguasaan ilmu dan bahasa-lah yang akan mengantarkan Indonesia menuju puncak kejayaan peradaban. Dari bambu runcing kita belajar keteguhan berjuang; dari penguasaan bahasa kita merancang masa depan bangsa.
*Penulis adalah Dosen PBA IAIN Langsa & Ketua Yayasan Dayah Nurul Hikam Al-Waliyah (NUHA) Langsa.












Discussion about this post