ACEH BESAR — Dari sebuah kawasan yang berada di kaki Gunung Seulawah, Kemukiman Lamteuba, Aceh Besar, sebuah tradisi seni lokal kini menempuh perjalanan jauh melintasi batas negara. Meusifeut, seni tradisi masyarakat Lamteuba, dibawa mahasiswa Universitas Iskandar Muda (UNIDA) Kampus Lamteuba ke luar negeri dalam rangkaian kegiatan Kuliah Kerja Masyarakat (KKM) Internasional.
Di bawah kepemimpinan Rektor UNIDA, Prof. Dr. Syafei Ibrahim, M.Si., UNIDA terus mengembangkan berbagai program pembelajaran dan pengabdian masyarakat. Salah satunya melalui keberadaan Kampus UNIDA-Lamteuba yang hadir di tengah lingkungan pedalaman dengan karakter alam yang khas, sekaligus membuka akses pendidikan tinggi bagi generasi muda Lamteuba dan kawasan sekitarnya.
Tahun ini, sejumlah mahasiswa UNIDA-Lamteuba mengikuti program KKM Internasional yang dilaksanakan di Malaysia dan Thailand. Selain menjalankan agenda pengabdian masyarakat, keberangkatan tersebut menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk mengenal lingkungan sosial, budaya, dan kehidupan masyarakat di luar negeri.
Namun, mereka tidak datang hanya membawa program akademik. Mereka juga membawa Lamteuba. Salah satunya melalui pertunjukan Meusifeut.
Sebelum melanjutkan perjalanan ke Thailand, rombongan mahasiswa UNIDA-Lamteuba terlebih dahulu singgah di Gedung Dewan Utama Kampung Aceh Management Centre (KEM KAMC) di Lot 2505, Kampong Acheh, 06900 Yan, Kedah, Malaysia.
Di tempat tersebut, mahasiswa menampilkan Meusifeut, seni tradisi yang tumbuh dan berkembang dalam kehidupan masyarakat Kemukiman Lamteuba.
Pertunjukan itu mendapat perhatian dan sambutan dari peserta yang hadir. Tradisi yang selama ini hidup dalam ruang sosial masyarakat Lamteuba tersebut hadir di tengah komunitas Aceh di Malaysia sebagai sebuah ekspresi budaya yang memperlihatkan kekayaan tradisi masyarakat Aceh.
Bagi mahasiswa, pentas tersebut bukan sekadar pertunjukan seni.
Meusifeut menjadi cara sederhana untuk memperkenalkan dari mana mereka berasal.
Koordinator Kampus UNIDA-Lamteuba, Drs. Hamdani, yang turut mendampingi mahasiswa selama kegiatan di Malaysia dan Thailand, mengatakan program KKM Internasional tidak hanya bertujuan memberikan pengalaman akademik dan sosial kepada mahasiswa, tetapi juga membuka ruang bagi mereka untuk memperkenalkan kebudayaan daerah kepada masyarakat internasional.
“Program ini menjadi pengalaman bagi mahasiswa Lamteuba untuk melihat dan mengenal kehidupan di luar negeri. Tetapi pada saat yang sama, mereka juga membawa budaya Lamteuba untuk diperkenalkan kepada masyarakat di luar negeri, salah satunya melalui Meusifeut,” ujar Hamdani.
Menurutnya, antusiasme penonton ketika menyaksikan pertunjukan tersebut menjadi pengalaman tersendiri bagi mahasiswa.
Ia mengatakan, mahasiswa sebelumnya telah mendapatkan pembekalan, baik terkait program kerja selama berada di Malaysia dan Thailand maupun penguatan keterampilan seni dan budaya lokal yang akan mereka tampilkan.
“Awalnya kita tidak menyangka respons masyarakat begitu baik. Mereka terlihat kagum ketika menyaksikan tradisi seni dari Kemukiman Lamteuba dipentaskan di luar negeri,” katanya.
Dari Kampung ke Panggung Internasional
Perjalanan Meusifeut ke Malaysia dan Thailand memperlihatkan satu hal penting: tradisi lokal tidak selalu harus tinggal di kampungnya sendiri.
Ketika generasi muda diberi ruang untuk mengenal, mempraktikkan, dan memperkenalkannya, tradisi tersebut dapat menemukan ruang baru di luar komunitas asalnya.
Bagi mahasiswa UNIDA-Lamteuba, perjalanan ke Malaysia dan Thailand akhirnya bukan hanya perjalanan akademik. Ia menjadi perjalanan membawa identitas.
Dari Lamteuba, mereka membawa pengalaman. Dari kampus, mereka membawa pengetahuan.Dan dari kampung, mereka membawa Meusifeut.
Sebuah seni tradisi yang tumbuh di kawasan pedalaman Aceh itu kini tampil di hadapan masyarakat lintas negara—menunjukkan bahwa kebudayaan lokal dapat menjadi jembatan yang mempertemukan generasi muda Aceh dengan dunia yang lebih luas.[]










Discussion about this post