Trump menampilkan mazhab realisme dalam kebijakannya. Realisme yang sangat pragmatis. Baginya yang penting adalah apa yang menguntungkan kami, cerminan dari kebijakan luar negerinya yang tertuang dalam slogan: America First.
Jika AS membuat geopolitik dunia bergejolak dan menginisiasi perang dan pergantian rezim di seantero dunia–sebagaimana yang ia lakukan di Venezuela dan apa yang sedang terjadi di Iran–itu sudah biasa.
Yang luar biasa justru terjadi dengan Trump di dalam negeri. Ia seakan menggugat filsafat liberalisme yang menjadi ciri khas AS dengan kebijakannya. Trump ibarat sedang merobohkan Patung Liberty.
Jika dulu AS cawe-cawe politik dunia atas nama demokrasi, liberalisme (kebebasan) dan HAM, Trump justru tampil jujur bahwa aksinya atas nama keuntungan, uang.
Trump menampilkan mazhab realisme dalam kebijakannya. Realisme yang sangat pragmatis. Baginya yang penting adalah apa yang menguntungkan kami, cerminan dari kebijakan luar negerinya yang tertuang dalam slogan: America First.
Bicara keuntungan tidak mungkin tidak bicara uang. Bahkan bagi Trump, keuntungan finansial lebih penting ketimbang pengaruh di pentas politik dunia. Ia rela memangkas dana USAID yang jadi simbol pengaruh global AS. Trump juga keluar dari keanggotaan sejumlah lembaga PBB, lembaga yang dulunya menerima donasi jutaan dollar dari AS.
Trump bahkan tidak mau diatur oleh settingan aliansi dunia warisan pendahulunya hasil Perang Dunia ke II. Baru kali ini negara Eropa dan anggota NATO yang ibarat sekutu abadi AS, seperti Denmark, merasa terancam dengan kebijakan luar negerinya.
Di periode pertama kepresidennya, ia bahkan pernah dengan sangat kasar berbicara dengan Kanselir Jerman Angela Merkel soal pembelian gas Jerman kepada Rusia. Trump bilang, “anda memaksa kami membiayai keamanan anda, sedangkan anda memberi uang kepada musuh melalui pembelian gas.” Merkel diam dan mukanya memerah di hadapan Trump.
Entah sombong atau menyadari kekuatannya yang tak dapat diimbangi, Trump seolah bicara bahwa AS tidak butuh siapa-siapa. AS melindungi NATO dan bukan sebaliknya, NATO melindungi AS.
Jika perang besar meletus di sisa masa kepresidenan Trump, bukan tak mungkin konfigurasi aliansi sekutu warisan PD II akan berubah. Jika kita melihat ke karakternya yang narsistik–bahkan bagi sebagian menganggapnya psikotik–sangat terbuka peluang baginya untuk menginisiasi perang besar sebagai warisan atau legacy pribadinya masuk dalam jajaran Presiden AS yang menoreh sejarah.

Power Shifting, Momen Peralihan Sejarah
Jika kita melihat geopolitik dan perkembangan ekonomi dunia dari skema teori Ray Dalio soal pola pergeseran kepemimpinan dunia, dengan menguatnya ekonomi dan teknologi China, serta potensi krisis keuangan AS (akibat utang swasta yang besar), potensi power shifting dalam sejarah dunia sangat mungkin terjadi. Masih dari Ray Dalio, puncak dari power shifting itu adalah perang besar.
Trump mungkin menyadari bahwa ada potensi power shifting yang menggeser hegemoni dan dominasi AS di dunia. Untuk mencegah itu pula, dia berpikir bahwa ia harus bersiap untuk skenario terburuk. Jalan terakhir untuk memastikan AS tetap dominan adalah dengan lebih dulu memerangi sebelum diperangi.
Di periode beberapa tahun yang tersisa adalah pertaruhan bagi Trump, apakah ia akan dikenal sejarah sebagai penakluk seperti Napoleon Bonaparte, atau seperti Tsar Nikolai II yang menjadi akhir bagi riwayat sejarah panjang negaranya.













Discussion about this post