Banda Aceh – Senin pagi, 2 Maret 2026. Halaman Kantor Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Aceh tampak lebih ramai dari biasanya. Upacara rutin mingguan hari itu bukan sekadar rutinitas — ini pertama kalinya Asnawi, S.T., M.S.M., hadir dan langsung bertindak sebagai pembina upacara setelah resmi dilantik oleh Gubernur Aceh empat hari sebelumnya, pada 28 Februari 2026, di Anjong Mon Mata.
Upacara dimulai tepat pukul 08.00 WIB. Hadir di barisan peserta: sekretaris dinas, para kepala bidang, pejabat eselon IV, sampai staf pelaksana. Semuanya berdiri rapi di halaman kantor. Khidmat, tapi juga penuh rasa penasaran — ingin tahu seperti apa gaya bicara pimpinan baru mereka.
Mereka tidak perlu menunggu lama untuk mengetahuinya.
Dalam amanatnya, Asnawi langsung menyentuh sejumlah persoalan yang rupanya sudah lama jadi catatan. Salah satu yang ia singgung terang-terangan adalah kebiasaan pegawai yang gemar menghabiskan jam kerja di warung kopi.
“Saya meminta kepada seluruh pegawai untuk meningkatkan disiplin jam kerja. Jangan menghabiskan waktu di warung kopi pada saat jam kerja. Setelah Lebaran nanti, pengawasan akan kita perketat. Jangan sampai ada staf Dinas ESDM Aceh yang terjaring razia pada saat jam kerja,” tegasnya.
Peringatan itu bukan ancaman kosong. Ia memberikan tenggang waktu hingga usai Lebaran, tapi sudah memberi sinyal jelas bahwa setelah itu pengawasan akan berbeda.
Selain soal disiplin, Asnawi juga mengangkat soal sinergi antarunit kerja. Menurutnya, tidak ada satu pun program dinas yang bisa berjalan baik kalau tiap bidang hanya mau jalan sendiri-sendiri. Kolaborasi bukan pilihan — itu keharusan.
“Kita harus saling bekerja sama dan bersinergi untuk mewujudkan serta menjalankan visi dan misi Bapak Gubernur Aceh. Tidak ada keberhasilan yang diraih secara individual. Semua harus bergerak bersama dalam satu tujuan,” ujarnya.
Asnawi juga menyampaikan kabar yang ia harap jadi pemacu semangat kerja: Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA) sudah resmi disahkan. Artinya, tidak ada lagi alasan untuk menunda program-program prioritas yang sudah direncanakan sejak awal tahun.
Ia menutup amanat pertamanya dengan ajakan membangun budaya kerja yang bersih dan saling percaya. Kata-katanya sederhana, tapi nadanya serius.
“Mari kita saling percaya dan bekerja sama untuk mewujudkan tata kelola energi dan sumber daya mineral di Aceh menjadi semakin baik, transparan, dan efisien. Semua ini kita lakukan demi satu tujuan besar: kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat Aceh,” tutupnya.
Para pegawai yang hadir pagi itu kini punya gambaran lebih jelas soal gaya kepemimpinan pimpinan baru mereka. Tidak banyak basa-basi, langsung ke pokok masalah.













Discussion about this post