Dengan pertautan hubungan yang kompleks antara Rian Syaf dan Mualem, telah memperkuat ikatan kemitraaan antara Partai Aceh dan Demokrat. Hubungan yang punya banyak faktor pengikat dan pengerat.
TINJAUAN.ID – Hubungan Partai Aceh dan Partai Demokrat sempat merenggang beberapa tahun lalu setelah satu dekade sebelumnya PA mendukung penuh Demokrat di awal masa damai, hingga partai berlambang mercy itu mendapat tujuh kursi DPR-RI dari dapil Aceh.
Partai Demokrat ketika di bawah kepemimpinan Nova Iriansyah memilih tidak berjalan bergandengan dengan Partai Aceh. Nova memilih Irwandi Yusuf sebagai calon gubernur yang diusung. Salah satu alasannya agar ia bisa menjadi wakil gubernur bersama Irwandi dan otomatis menjadi rival bagi Mualem dan Partai Aceh.
Kemudian di saat menjabat sebagai PJ Gubernur, Nova Iriansyah juga tidak memposisikan Partai Aceh sebagai mitra. Kebijakannya bahkan banyak ditentang oleh anggota dewan dari Partai Aceh.
Nova tak peduli. Ia memang tak menganggap PA sebagai mitra. Ia tetap pada pendiriannya untuk tidak mengakomodir kepentingan PA yang menguasai DPRA. Akibatnya ketegangan memuncak. Pembahasan anggaran pun kala itu sempat menemui jalan buntu.
Namun posisi hubungan Partai Aceh dan Partai Demokrat berubah sesaat setelah Nova lengser dari Ketua DPD Demokrat Aceh. Muslim selaku ketua DPD Demokrat Aceh memilih mengusung Mualem di Pilkada 2029. Mengapa ini bisa terjadi? Apa yang menjadi faktor utama.
Mungkin banyak yang belum tahu bahwa upaya mengusung Mualem menjadi Gubernur Aceh sudah direncanakan sejak lama. Hal ini sudah menjadi bagian dari rencana yang di orkestrasi di DPP Demokrat. Rencana ini memang atas keinginan SBY dan AHY.
Teuku Riefky Harsya selaku petinggi Demokrat asal Aceh di pusat juga menginginkan hal ini. Atas perintah partai, Rian Syaf yang merupakan kader muda Demokrat asal Aceh di pusat telah dipercaya melakukan operasi untuk mengorkestrasi rencana menjadikan Mualem Gubernur Aceh.
Di satu momen, Teuku Riefky dan Rian Syaf bahkan membawa Mualem di hadapan Roesan Roslani, Ketua Tim Komando Nasional (TKN) Pemenangan Prabowo-Gibran, untuk memastikan dan memperkuat dukungan pusat bagi Mualem.

Rian Syaf dan Mualem
Rian Syaf berasal dari Panton Labu, Aceh Utata. Tak jauh dari Seunuddon, kampung halaman Mualem. Ayahnya almarhum Syafruddin Budiman punya kedekatan khusus dengan Mualem dan sejumlah tokoh penting GAM. Hubungan silaturahmi keluarga ini terus terjaga hingga kini.
Di suatu momen yang dihadiri oleh Marlina Muzakir atau yang akrab disapa Kak Na, yang mana juga dihadiri Rian, Kak Na memperkenalkan Rian kepada hadirin ketika memberikan kata sambutan.
“Ini adik saya ini. Saya dulu tinggal di rumahnya Rian waktu konflik,” kata Kak Na sambil tersenyum gembira.
Di sebuah podcast Partai Aceh, Kak Na juga menceritakan duka yang dialaminya semasa konflik. Jangankan orang lain, saudara pun tak berani mengizinkan ia tinggal dirumah karena dianggap sebagai keluarga GAM. Mereka takut berurusan dengan aparat dan dianggap GAM.
Di kesempatan tersebut Kak Na mengaku bahwa di rumah alm Syafruddin Budiman, ayah Rian, Kak Na diterima dengan hangat. Ia diperlakukan layaknya saudara.
Jadi sebenarnya sulit mengukur hubungan Rian dan Mualem hanya sebatas hubungan politik. Hubungan keduanya sudah terjalin secara emosional. Hubungan mereka berdua tak bisa diukur dengan hubungan faktor politik semata.
Sesaat setelah terpilih sebagai gubernur, Rian Syaf dengan sigap membantu Mualem sebagai Gubernur Aceh untuk dapat mengakses sejumlah kementerian di Jakarta untuk mengusung agenda strategis Pemerintah Aceh di sejumlah kementerian.
Rian diantaranya telah mempertemukan rombongan Gubernur, Ketua DPRA, dan sejumlah SKPA dengan Menteri PU Dody Hanggodo dan Menko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang tak lain adalah Ketum Partai Demokrat.
Tak lama setelah pertemuan itu, Menteri PU Dody Hanggodo mengunjungi Aceh Utara dan disambut Ayahwa, Bupati Aceh Utara, untuk sejumlah agenda strategis pembangunan infrastruktur.
Meski punya latar belakang kedekatan emosional, hubungan strategis Mualem dan Rian juga terbangun dalam ranah kemitraan politik dan pemerintahan. Mualem sebagai Gubernur diuntungkan dari keberadaan Rian Syaf di Jakarta. Rian juga merasa berkewajiban untuk mensukseskan pemerintahan Mualem-Dek Fadh, sebagai upaya kontribusinya untuk Aceh.
Dengan pertautan hubungan yang kompleks antara Rian Syaf dan Mualem, telah memperkuat ikatan kemitraaan antara Partai Aceh dan Partai Demokrat. Hubungan yang punya banyak faktor pengikat dan pengerat.
Rian selaku kader Partai Demokrat telah membangun relasi strategis dengan Mualem selaku Ketua Umum Partai Aceh. Relasi antara PA dan Demokrat merupakan modal bagi Aceh untuk mendorong percepatan pembangunan.
Jelang Musda Demokrat Aceh
Tidak hanya sebagai penyokong, tentunya Demokrat turut mengawal pemerintahan sekarang untuk bisa bekerja optimal dan berada di jalur yang benar, untuk dapat mewujudkan pemerintahan daerah yang baik.
Hubungan baik yang telah terjalin antara pengurus pusat Demokrat dan PA perlu dijaga dengan baik. Untuk itu kader Demokrat di provinsi harus mampu membaca sinyal ini. Kepengurusan Demokrat Aceh harus membacanya sebagai sebuah peta jalan dan kompas dalam melakukan kerja-kerja politik.
Dengan kemitraan yang telah terbangun, Mualem tentu tak rela hubungan koalisi politiknya dengan Demokrat rusak. Apalagi Demokrat Aceh sampai dipimpin oleh rival politiknya.
Menjelang Musda DPD Partai Demokrat Aceh yang akan segera berlangsung untuk memilih ketua baru, tentu Mualem punya pilihan dan preferensi tersendiri, siapa ketua yang lebih diinginkan. Tentunya yang sejalan dengan agenda pemerintahannya dan Partai Aceh, serta kepentingan luas masyarakat Aceh.[]













Discussion about this post