Investasi emas mungkin adalah prioritas untuk menjaga kekayaan, tetapi investasi perak adalah pilihan yang akan bertempur untuk memberikan imbal hasil maksimal di masa-masa sulit.
TINJAUAN.ID – Ketika genderang perang dan ketidakpastian geopolitik mulai mendominasi tajuk berita utama media massa di awal tahun 2026, investor global secara tradisional langsung melirik emas.
Namun, di balik bayang-bayang “Logam Mulia”, ada aset lain yang diam-diam mencatatkan performa lebih impresif dan menawarkan daya tahan ganda: Perak.
Hingga Januari 2026, harga perak dunia telah menembus level psikologis USD 85 per ounce, bahkan beberapa analis memprediksi potensi menuju USD 100. Berikut adalah analisis mengapa perak kini menjadi instrumen wajib di tengah instabilitas dunia.
Perak, Karakteristik “Safe Haven” dengan Volatilitas Tinggi
Perak sering disebut sebagai “emas dengan turbo”. Secara historis, perak memiliki korelasi positif dengan emas sebagai aset lindung nilai (safe haven). Namun, karena kapitalisasi pasarnya yang lebih kecil dibandingkan emas, perak cenderung bergerak lebih agresif.
Saat ketegangan meningkat—seperti konflik di Timur Tengah atau disrupsi perdagangan di Laut China Selatan saat ini—investor yang masuk ke perak seringkali mendapatkan persentase keuntungan yang lebih besar (beta tinggi) dibandingkan emas dalam periode waktu yang sama.

Aset Lindung Nilai dan Kebutuhan Industri Strategis
Berbeda dengan emas yang mayoritas nilainya didorong oleh sentimen moneter, perak adalah logam industri strategis. Di tengah potensi perang, permintaan perak justru meningkat karena perannya yang tak tergantikan dalam industri pertahanan dan teknologi masa depan:
Teknologi Militer: Perak digunakan secara masif dalam komponen peluru kendali, radar, dan sistem komunikasi satelit.
Transisi Energi & AI: Panel surya dan infrastruktur pusat data AI yang terus dibangun di tahun 2026 membutuhkan perak dalam jumlah besar.
Kombinasi antara fungsi “penyelamat kekayaan” dan “bahan baku industri” menciptakan dasar harga (price floor) yang sangat kuat bagi perak.
Defisit Suplai Global yang Kritis
Laporan pasar terbaru menunjukkan bahwa dunia sedang menghadapi defisit perak selama lima tahun berturut-turut. Di tahun 2026, pembatasan ekspor dari negara produsen utama seperti China telah memperparah kelangkaan fisik.
Dalam kondisi perang atau sanksi ekonomi, rantai pasokan komoditas fisik akan terganggu. Memiliki aset perak fisik atau ETF yang didukung fisik memberikan keamanan ekstra saat sistem keuangan digital terancam volatilitas ekstrem.
Rasio Emas-Perak (Gold-to-Silver Ratio)
Secara historis, rasio emas terhadap perak menjadi indikator apakah perak sedang “murah”. Meskipun harga perak sudah naik, rasionya masih menunjukkan bahwa perak memiliki ruang pertumbuhan yang lebih luas untuk mengejar nilai emas.
Analis melihat tahun 2026 sebagai momen “catch-up” di mana perak akan menutup celah nilai tersebut secara signifikan.
Investasi perak di tahun 2026 bukan sekadar spekulasi, melainkan strategi defensif yang cerdas. Di tengah ancaman inflasi akibat perang dan ketidakpastian kebijakan bank sentral, perak menawarkan likuiditas, nilai intrinsik, dan potensi pertumbuhan yang eksplosif.
“Emas mungkin adalah raja untuk menjaga kekayaan, tetapi perak adalah ksatria yang akan bertempur untuk memberikan imbal hasil maksimal di masa-masa sulit.”












Discussion about this post