Strategis dan Mencerahkan!
No Result
View All Result
  • TINJAUAN.ID
  • Global
  • Politik
    • News
    • Nasional
    • Regional
    • Daerah
  • Ekonomi
  • Opini
  • Sejarah
  • Liputan Khusus
  • Editorial
  • Pojok Ekraf
  • TINJAUAN.ID
  • Global
  • Politik
    • News
    • Nasional
    • Regional
    • Daerah
  • Ekonomi
  • Opini
  • Sejarah
  • Liputan Khusus
  • Editorial
  • Pojok Ekraf
No Result
View All Result
Strategis dan Mencerahkan!
No Result
View All Result
Home Ekonomi

Industri Ayam Petelur Tiongkok dan Upaya Mualem Memerdekakan Aceh dari Medan

TINJAUAN ID by TINJAUAN ID
October 15, 2025
Reading Time: 3 mins read
0
Industri Ayam Petelur Tiongkok dan Upaya Mualem Memerdekakan Aceh dari Medan

Mualem tahu, untuk meningkatkan ekonomi Aceh, ia harus memerdekakan Aceh dari Medan. Dengan menjadi provinsi yang mandiri dan tidak tergantung dengan provinsi tetangga.

Gubernur Aceh Muzakir Manaf berkunjung ke Tiongkok. Ia memaparkan berbagai peluang investasi strategis di Aceh di hadapan para investor dalam ajang China ASEAN Food and Agricultural Cooperation Development Conference 2025 yang digelar di Zhengzhou.

Salah satu agenda utama acara itu adalah penandatanganan Nota Kesepahaman antara Badan Usaha Milik Daerah Aceh yaitu PT Pembangunan Aceh (PEMA), dengan perusahaan teknologi asal Henan, Zhongke Holdings Green Technology Co., Ltd.

Kemitraan tersebut difokuskan pada pembangunan kawasan industri unggas dan telur canggih berteknologi tinggi serta ramah lingkungan di Aceh. Proyek ini disebut sebagai langkah nyata Pemerintah Aceh untuk memperkuat kemandirian pangan sekaligus membuka lapangan kerja baru di sektor pertanian modern.

Gubernur Aceh meninjau langsung fasilitas produksi Xinxiang Anlong Agricultural Technology Co., Ltd., yang dikenal sebagai peternakan ayam petelur terbesar di Provinsi Henan sekaligus salah satu fasilitas paling modern di Tiongkok.

Di lokasi, Mualem bersama rombongan melihat dari dekat sistem operasional peternakan berskala besar dengan kapasitas produksi mencapai 1 juta butir telur per hari. Seluruh proses di fasilitas tersebut berjalan secara otomatis dan terintegrasi penuh, mulai dari pembuatan pakan, pengelolaan kandang tertutup (closed house), hingga pengumpulan dan pengemasan telur.

Anlong Agriculture juga dikenal menerapkan standar biosekuriti yang ketat serta memanfaatkan teknologi pertanian cerdas (smart agriculture) untuk memantau kesehatan dan produktivitas jutaan ayam petelur secara langsung (real-time).

Kombinasi antara efisiensi sistem dan penerapan teknologi tinggi tersebut menjadikan Anlong sebagai model acuan bagi rencana pengembangan proyek serupa di Aceh.

Berhenti Bergantung dengan Produksi Telur Medan

Langkah Mualem untuk membangun kerjasama dengan Tiongkok dalam industri di sektor peternakan, tepatnya dalam produksi telur, adalah salah satu langkah progresif yang patut didukung.

Selama ini ketergantungan Aceh dengan Medan, atau Provinsi Sumatera Utara secara umum, begitu kentara. Aceh bergantung suplai berbagai komoditas untuk kebutuhan sehari-hari. Telur menjadi salah satu simbol bagaimana Aceh bergantung ke Medan.

Bahkan ada ungkapan populer “setiap hari telur Medan masuk Aceh, Sabtu-Minggu telur Aceh masuk Medan”. Adagium ini mengisyaratkan ketergantungan hebat Aceh atas produksi dan distribusi telur dari Medan.

Angka statistik terbaru dari tahun 2024 menunjukkan bahwa kebutuhan telur Provinsi Aceh per hari berkisar 1,3 hingga 1,5 juta butir/hari untuk 5,4 juta penduduk Aceh.

​Hasil forecasting kebutuhan telur ayam ras pernah diperkirakan mencapai sekitar 31.008 hingga 32.083 ton per tahun (untuk periode 2022-2024).

Produksi lokal telur di Provinsi Aceh masih jauh dibawah kebutuhan. ​Data tahun 2023 menyebutkan produksi telur ayam ras di Aceh hanya mencapai 70 ribu butir per hari, yang hanya mampu memenuhi sekitar 5,5 persen dari total kebutuhan (1,3 juta butir per hari).

​Data lain di tahun 2024 memperkirakan produksi peternak lokal Aceh baru sekitar 100.000 butir/hari.

Berdasarkan data BPS (2024) untuk Produksi Telur Ayam Petelur menurut Provinsi (Ton), Aceh tercatat 10.351,00 ton.

Aceh berada dalam kondisi defisit telur ayam ras dengan jumlah yang masif. Produksi lokal jauh lebih rendah daripada kebutuhan konsumsi masyarakat, sehingga Provinsi Aceh masih sangat bergantung pada pasokan telur dari luar daerah, yakni dari Sumatera Utara.

Memerdekakan Aceh dari Medan

Setelah heboh kasus perebutan empat pulau di sekitar wilayah Singkil, Sumatera Utara, Aceh kembali dihadapkan pada “perang dingin” dengan provinsi tetangga tersebut.

Gubernur Sumut Bobby merazia plat kendaraan BL yang memasuki wilayah Sumut dan meminta kendaraan usaha yang beroperasi di wilayah Sumut untuk mengubah ke plat BK. Hal ini dilakukan untuk menggenjot pendapatan daerah.

Sontak, aksi Bobby tersebut menuai amarah publik Aceh. “Mereka jual, kita beli,” kata Mualem merespon dengan tegas.

Aceh merasa dianggap sebagai “aneuk miet” oleh Medan. Bahkan perasaan dominasi Medan atas Aceh ini telah menjadi hal yang sering dibicarakan di masyarakat.

Selain dari melepaskan diri dari ketergantungan Aceh dengan Medan melalui industri ayam petelur, Mualem telah mengambil beberapa kebijakan strategis. Mualem berupaya menghidupkan koneksi pelabuhan Kreung Geukueh – Pulau Penang dalam upaya menghapuskan ketergantungan tersebut. Mualem bahkan menyerukan Aceh bekiblat ke Malaysia.

Dengan menghidupkan koneksi Krueng Geukueh – Pulau Penang, selain membuka jalur ekonomi baru, juga dalam upaya melepaskan ketergantungan Aceh secara konektivitas dengan Medan.

Apabila pelabuhan Krueng Geukueh hidup dan berfungsi optimal, banyak komoditas ekspor Aceh akan bisa diekspor ke luar tanpa bergantung ke Belawan. Komoditas CPO dan hasil perkebunan kelapa sawit lainnya selama ini masih bergantung dengan Belawan sebagai pelabuhan pengekspor. Bahkan komoditas lain seperti kopi pun masih banyak yang diekspor lewat pelabuhan provinsi tetangga itu.

Tim dari Dewan Ekonomi Aceh (DEA) yang baru dibentuk Mualem, melalui Ismail Rasyid selaku Sekretaris Jenderal telah melakukan kunjungan kerja dan survei terkait kebutuhan infrastruktur di Pelabuhan Krueng Geukueh. Hal ini adalah bagian dari upaya DEA untuk mempercepat akselerasi ekonomi di wilayah tersebut.

Tentu DEA atas perintah gubernur, langsung bekerja cepat untuk mendorong pemanfaatan dan pengembangan Pelabuhan Krueng Geukueh sebagai salah satu pintu gerbang ekonomi di Aceh. Ini merupakan langkah cerdas dan strategis guna mewujudkan kemandirian ekonomi Aceh.

Langkah Mualem untuk menghidupkan ekonomi Aceh dengan melirik industri ayam petelur ke Tiongkok, menghidupkan pelabuhan Kreung Geukueh dan merealisasikan koneksi laut dengan Pulau Penang adalah kebijakan ekonomi strategis yang patut didukung.

Mualem tahu, untuk meningkatkan ekonomi, ia harus memerdekakan Aceh dari Medan. Dengan menjadi provinsi yang mandiri dan tidak tergantung dengan provinsi tetangga, ekonomi Aceh akan lebih berpotensi untuk berkembang secara optimal.

Tags: ekonomi AcehGubernur Acehmualem
ShareTweetSendShare

Related Posts

Sejarah Buram Krisis Ekonomi 1998 dan Bagaimana Akhirnya Indonesia Pulih
Ekonomi

Sejarah Buram Krisis Ekonomi 1998 dan Bagaimana Akhirnya Indonesia Pulih

August 9, 2026
DPMPTSP Aceh Perkuat Kemitraan Ekonomi Melalui Aceh Business Forum Aceh-Malaysia 2026
Daerah

DPMPTSP Aceh Perkuat Kemitraan Ekonomi Melalui Aceh Business Forum Aceh-Malaysia 2026

August 9, 2026
Kelangkaan Semen di Aceh, Pabrik Semen Laweung Dinilai Sudah Saatnya Beroperasi
Daerah

Kelangkaan Semen di Aceh, Pabrik Semen Laweung Dinilai Sudah Saatnya Beroperasi

August 8, 2026
Menyikapi Kelangkaan Semen: Apakah Wacana Semen Laweung Perlu Ditinjau Ulang? 
Daerah

MFF Syndicate Usul Pemerintah Beri Pengecualian Moratorium Pabrik Semen untuk Aceh

August 7, 2026
Menyikapi Kelangkaan Semen: Apakah Wacana Semen Laweung Perlu Ditinjau Ulang? 
Editorial

Menyikapi Kelangkaan Semen: Apakah Wacana Semen Laweung Perlu Ditinjau Ulang? 

August 7, 2026
Perjuangkan Hak Aceh Terkait Blok Andaman, Ini Isi Surat Gubernur Mualem untuk Presiden Prabowo
Daerah

Perjuangkan Hak Aceh Terkait Blok Andaman, Ini Isi Surat Gubernur Mualem untuk Presiden Prabowo

July 31, 2026
Next Post
Aliansi Rakyat Aceh (ARAH) Menyayangkan Pengaktifan Kembali dr. Hanif sebagai Direktur RSJ Aceh

Aliansi Rakyat Aceh (ARAH) Menyayangkan Pengaktifan Kembali dr. Hanif sebagai Direktur RSJ Aceh

Pemko Banda Aceh Anggarkan 18 Miliar untuk Pengolahan Air, Wajarkah?

Pemko Banda Aceh Anggarkan 18 Miliar untuk Pengolahan Air, Wajarkah?

Discussion about this post

Recommended Stories

Sebulan Mengungsi, Warga Pidie Jaya Penyintas Bencana Banjir Menanti Kepastian

Sebulan Mengungsi, Warga Pidie Jaya Penyintas Bencana Banjir Menanti Kepastian

December 27, 2025

Buruknya kondisi dan pelayanan di RSUDZA, Ketua Komisi V DPRA Falevi Kirani mengaku kecewa

June 6, 2023
Sekda M. Nasir Buka Forum Konsultasi Publik RKPA 2027, Dorong Pembangunan Tangguh dan Sinergi Pusat-Daerah

Sekda M. Nasir Buka Forum Konsultasi Publik RKPA 2027, Dorong Pembangunan Tangguh dan Sinergi Pusat-Daerah

April 9, 2026
  • Dataset
  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • TINJAUAN.ID
  • Pedoman Media Siber
Email: redaksi@tinjauan.id

© 2025 Tinjauan.ID - Strategis dan Mencerahkan!

No Result
View All Result
  • TINJAUAN.ID
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Dunia
  • Ekonomi
  • Politik
  • Opini
  • Sejarah
  • Editorial
  • Pojok Ekraf

© 2025 Tinjauan.ID - Strategis dan Mencerahkan!